8.700 Mahasiswa Mau Pindah, Harga Tanah Dekat Kampus Baru UNG Bonebol Melejit

8.700 Mahasiswa Mau Pindah, Harga Tanah Dekat Kampus Baru UNG Bonebol Melejit

08/01/2020 19:51 0 By Alex

kampus baru UNG

Kampus baru UNG yang berlokasi di Desa Moutong, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. (F. dok/Istimewa)

Hulondalo.id – Tak lama lagi, sekitar 8.700 mahasiswa dari 4 fakultas akan segera menempati kampus baru Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Bone Bolango (Bonebol).

Dengan kehadiran ribuan mahasiswa itu, perekonomian di wilayah setempat sudah bisa dipastikan bakal bergeliat. Pun saat ini, orang berduit yang ingin berinvestasi tak segan-segan membeli tanah yang dekat di kampus Merah Maron tersebut. Walhasil, harga tanah pun melejit.

Sebelum ada wacana pembangunan kampus baru UNG, harga tanah di lokasi setempat berkisar Rp 35.000,- sampai Rp 50.000,- per meter. Itu harga yang berlaku sekitar tahun 2008 hingga paruh 2010.

Sekitar 3 tahun kemudian, atau Tahun 2013, harga tanah hampir sepanjang by pass Bonebol, khususnya Desa Moutong, Kecamatan Tilongkabila naik di atas 50%, terutama setelah ada wacana pembangunan kampus baru UNG.

Setelah kampus itu diresmikan tahun lalu oleh Menristekdikti, harga tanah setempat melonjak drastis. Bayangan untuk berinvestasi menjadi alasan bagi warga setempat untuk mematok tinggi untuk harga tanah mereka.

Tercatat, harga tanah melejit mencapai Rp 250 Ribu sampai Rp 350 Ribu per meter. Bahkan, ada yang lebih dari itu. Kian ke sini waktunya, harganya kian meroket. Terakhir, konon sudah mencapai di atas Rp 500 Ribu per Meter. Bagi mereka yang berduit, harga tidak menjadi masalah mengingat investasi di masa mendatang yang jauh lebih menguntungkan.

Salah seorang peminat yang menjalin kontak dengan Hulondalo.id mengaku, dia sempat ingin membeli tanah. Tapi konon kalah bersaing dengan seorang yang berduit, yang merupakan pejabat di pemerintahan. Tawar menawar harga tanah saat itu sudah mencapai paling rendah Rp 550 Ribu per Meter.

“Rencana saya mau bikin kos-kosan. Hitung-hitung juga untuk investasi,” ujar seorang peminat yang meminta namanya tidak dipublish.

Camat Tilongkabila Marten Hunawa ketika dihubungi Hulondalo.id tidak membantah hal itu. Menurutnya, dengan adanya kampus baru UNG memberikan multiplier effect warga setempat, tidak hanya sebatas sektor agraria saja.

“Benar itu. Sekarang saja sudah banyak dibangun tempat kos-kosan, dan itu ternyata masih kurang. Jadi, sah-sah saja ketika warga setempat menjual harga sesuai pasaran. Itu adalah imbas dari pembangunan,” ungkap Marten.

Dengan tingginya investasi di wilayah itu, Marten juga mengakui jika perputaran ekonominya turut memberi keuntungan bagi pendapatan pemerintah.

“Dari sektor PAD, kita juga diuntungkan. Jadi ada yang namanya BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan),” tambah mantan Kabid Pemdes itu.

Namun demikian, mewakili pemerintah Marten berpesan kepada masyarakat yang berniat ingin berinvestasi di wilayah itu agar melibatkan pemerintah setempat agar mendapatkan informasi yang jelas.

“Sekarang ini, bisa jadi ada pihak-pihak yang sengaja mencari keuntungan (calo/makelar). Masyarakat juga harus pintar-pintar. Kami sudah diwanti-wanti juga oleh bapak bupati agar jangan coba-coba memanipulasi harga,” tandasnya.(Alex)