Alami Defisit Anggaran, BPJS Kesehatan Tunggak Rp 8 Miliar di RSAS

Alami Defisit Anggaran, BPJS Kesehatan Tunggak Rp 8 Miliar di RSAS

11/06/2019 19:15 0 By Alex

Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan BPJS Kesehatan Cabang Gorontalo, Athur Alfonso didampingi Kepala Bagian Humas BPJS Kesehatan Gorontalo, Gledis, saat diwawancarai awak Hulondalo.id, Selasa (11/6/2019).

Hulondalo.id – Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Rujukan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Gorontalo, Athur Alfonso akhirnya angkat bicara soal keterangan dari pihak Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS) Gorontalo soal keterlambatan pembayaran klaim bulan pelayanan yang berbuntut belum dibayarkannya uang jasa perawat sejak Februari 2019.

Dikatakan Athur, keterlambatan pembayaran terhadap klaim pelayanan RSAS bukanlah selama 4 bulan lamanya. Sebab, perhitungan bulan layanan Februari baru diajukan pihak rumah sakit per-tanggal 25 April 2019.

“Sementara metode pembayaran klaim yang berlaku di BPJS Kesehatan, ada proses verifikasi serta evaluasi dokumen selama 25 Hari terhitung sejak tanggal pengajuan. Jadi kalau pihak rumah sakit mengajukan tanggal 25 April, maka seharusnya kami (BPJS Kesehatan) harus membayar pada tanggal 18 Mei 2019,” ujar Athur Alfonso saat diwancarai Hulondalo.id, Selasa (11/6/2019).

Dijelaskannya pula, saat ini ada 15 rumah sakit di Gorontalo yang bekerjasama dengan pihak BPJS Kesehatan Gorontalo, termasuk RSAS. Kendala yang dialami BPJS Kesehatan tentang pembayaran klaim RSAS dikarenakan adanya defisit anggaran yang disebabkan tidak seimbangnya antara penerimaan iuran atau premi dengan beban pengeluaran yang dibayarkan.

“Atau jumlah premi yang diterima BPJS Kesehatan dari peserta Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN tidak mampu menutupi kebutuhan. Dan kondisi ini juga berlaku secara Nasional,” kata Athur.

Dia juga membeberkan sejumlah masalah yang menjadi sumber ketimpangan. Terjadinya defisit anggaran disebabkan oleh adanya pemberlakuan iuran para peserta JKN yang tidak lagi sesuai dengan ketentuan. Misalnya saja, untuk iuran premi kelas 2 dan kelas 3. Sejatinya, kata Athur, harus di atas dari yang berlaku saat ini.

“Untuk peserta kelas 3 misalnya saat ini berlaku Rp 25.500,-, padahal dalam perhitungan aktuaria seharusnya berada di kisaran Rp 53.000,-. Demikian pula untuk kelas 2, seharusnya berada di angka Rp 63.000,- dari yang berlaku sekarang Rp 51.000,-,” kata Athur didampingi Kepala Bagian Humas BPJS Kesehatan Gorontalo, Gledis.

Akibat ketimpangan dan defisit anggaran itulah, tunggakan klaim di RSAS Kota Gorontalo saat ini sudah mencapai Rp 8 Miliar.(John)