Antisipasi Karhutlah, Ini Langkah Serius Pemkab Pohuwato

Antisipasi Karhutlah, Ini Langkah Serius Pemkab Pohuwato

05/09/2019 18:28 0 By Yadin

Rapat koordinasi daerah tentang antisipasi bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan yang dibuka bupati diwakili Asisten Pemerintahan, Fitser Mohune dan didampingi Kepala BPBD, Ramon Abdjul Rabu (4/9/2019). (f.iwan)

Hulondalo.id – Pemerintah Kabupaten Pohuwato menggelar rapat koordinasi daerah tentang antisipasi bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan yang dibuka bupati diwakili Asisten Pemerintahan, Fitser Mohune dan didampingi Kepala BPBD, Ramon Abdjul Rabu (4/9/2019).

Dikatakan Fitser Mohune, pelaksanaan rakor ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan-rumusan terbaik untuk mengatasi dan meningkatkan peran BPBD dan juga terjalin hubungan dan sinergi yang harmonis antara BPBD dengan seluruh pemangku penyelenggara penanggulangan bencana di daerah.
Nah, berdasarkan data yang dikelurkan oleh BMKG diperkirakan musim kemarau tahun ini lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya dan menyarankan pemerintah daerah yang wilayahnya rawan mengalami kebakaran lahan dan hutan meningkatkan kewaspadaan.

Pertemuan yang dilaksanakan ini, diharapkan para camat dapat memaparkan kondisi yang ada di wilayah masing-masing. “Camat juga sudah pasti tahu titik-titik mana yang harus dilakukan jika terjadi kekeringan yang melanda. Kemudian kepada BPBD dan seluruh stake holder saling berkoordinasi dan bersinergi untuk mengupayakan langkah-langkah mitigasi yang bersifat jangka panjang baik stuktural maupun non struktural. Misalnya penentuan tiitk pembuatan sumber air tanah yang tepat dan efelktif untuk penanganan bencana kekeringan,” jelas Fitser.

Ramon Abdjul menambahkan, rakor ini merupakan rapat awal dalam rangka penentuan status siaga bencana selama 14 hari kedepan, artinya penanganan bencana sudah harus bergerak sampai dengan menunggu waktu dua minggu.

“Karena ini adalah situasi musim kemarau, dan ketika hujan tidak turun lagi, maka pada hari ke-15 ditingkatkan status menjadi status tanggap darurat bencana, dimana seluruh stake holder yang tergabung dalam pos komando iakan memberikan bantuan kemanusiaan, evaluasi dan penyelamatan untuk kelangsungan hidup selama 14 hari. Kemudian masuk pada fase pemulihan bencana sampai dengan datangnya musim huajn. Ini langkah kita dan sudah dimulai saat ini, dan ini merupakan persyaratan awal agar kita tidak salah melangkah dalam rangka menangani bencana kemarau di Pohuwato,” ungkap Ramon. (Yadin)