Belajar Ceria di Sekolah Alam Bulango Utara

23/09/2019 07:30 0 By admin

Muhamad Firmansyah Yunus alias Firman sedang memberikan materi pelajaran bagi murid muridnya di sekolah alam. 

Teror panah wayer begitu meresahkan warga. Polisi pun mengamankan beberapa orang, yang belakangan diketahui masih berstatus siswa. Teranyar, ada tiga orang siswa SMP yang kedapatan membawa panah, rantai hingga tombak.

Tapi kita tidak akan bicara soal panah wayer, kita akan melihat dari dekat keseruan para bocah SMP 2 Satu Atap Bulango Ulu yang seharinya belajar langsung di alam bebas.

Rinto Nufuri, hulondalo.id

Diberi nama satu atap, karena di sekolah itu tak hanya SMP, tapi juga ada SD. Siswanya tak banyak, hanya sekira 56 orang saja. Itupun sudah total keseluruhan jumlah siswa dari SD dan SMP.

Untuk mencapai sekolah itu, kita harus menempuh 2 jam perjalanan dari Kota Gorontalo. Tak ada yang aneh dari proses belajar mengajar di sekolah itu. Hanya saja, untuk mata pelajaran tertentu, siswa langsung diajak praktek di alam.

Biasanya, sepulang sekolah, para siswa akan didampingi satu orang guru untuk kembali belajar bersama. Tak butuh ruangan, karena mereka belajar dibawah rindangnya pohon, atau di pinggir sungai. Ekskul itu diberi nama ‘Sekolah Alam’.

Bermain ular tangga ukuran jumbo, membangun kekompakam.

Muhammad Firmansyah Yunus atau akrab disapa Firman, adalah satu satunya guru yang mengajar untuk murid SMP. Sebenarnya sekolah alam itu sangat membantu Firman yang tak lancar berbahasa daerah.

Cara ini ternyata cukup jitu. Dengan belajar langsung di alam, Firman mampu mentransfer ilmu pengetahuan ke para siswa, tanpa khawatir mereka tak paham akibat keterbatasan berbahasa daerah.

“sekolah alam merupakan program untuk pemerataan pendidikan yang ada di Kabupaten Bone bolango. Dikhususkan untuk anak-anak yang hidup di daerah terpencil, seperti yang ada di Desa Mongoilo Utara Kecamatan Bulango Ulu,” ungkap guru muda yang masih jomblo itu.

Mandi sungai adalah yang paling ditunggu si sekolah alam.

Diakui Firman, tak cuma membuat para siswa lebih dekat dengan alam di sekitarnya, tapi juga membangkitkan antusiasme siswa dalam belajar.

Beberapa materi yang disenangi siswa mulai dari, diskusi kelompok, bermain ular tangga jumbo, bemain layang, berenang, hiking, nonton film motivasi, permainan tradisional lainnya yang semuanya dilakukan di spot wisata alam.

Tak cuma itu kata Firman. Terbatasnya akses internet menjadi berkah tersendiri. Karena gegara itu, lara siswa jadi lebih fokus belajar pengenalan wirausaha salah satunya budidaya ikan lele.

Firman berharap, dengan adanya program komunitas sekolah alam di daerah terpencil, dapat membantu Pemerintah, dalam menyelesaikan masalah di bidang Pendidikan. (hl)

loading...