Belajar Syukur dari Pak Tua Penjual Cobek di Depan Kantor Bupati

Belajar Syukur dari Pak Tua Penjual Cobek di Depan Kantor Bupati

14/10/2019 12:28 0 By Syakir

Komeng alias Ishak Kadili lagi beristirahat di halaman kantor Bupati Kabupaten Gorontalo.

Peluh nampak menetes dari dahinya, meski begitu tak sedikitpun ucap keluh keluar dari bibirnya yang mulai keriput. Komeng, begitu orang akrab menyapanya. Pria yang berumur lebih dari setengah abad itu, seharinya berjualan cobek dan lesung batu untuk menyambung hidup.

Ikha Mujiono, Hulondalo.id

Sore itu, Komeng nampak sedang duduk sekedar beristirahat di halaman belakang kantor Bupati Kabupaten Gorontalo. Diatas gerobaknya yang reyot, terlihat beberapa cobek dan lesung batu sepertinya belum ada yang laku.

Komeng atau Ishak Kadili begitu nama aslinya, sehari hari memang sering keluar masuk perkantoran untuk menawarkan lesung dan cobek dari batu. Barang barang ini didapatkan dari tangan pertama, dan dijual kembali dengan selisih keuntungan Rp10 Ribu.

Dulu, sebelum didera penyakit yang membuatnya harus istirahat berbulan bulan, Komeng adalah sopir angkot di Kota Manado Provinsi Sulut. Namun ketika sakit itu datang, Komeng terpaksa meninggalkan profesinya.

Takdir hidup memang keras. Dalam keadaan sakit, istri tercinta justru memilih meninggalkan Komeng, dan menikah lagi dengan pria lain. Komeng mengaku berusaha tegar, dan tidak mau mencerca hidup apalagi mempertanyakan Kemaha-adilan Tuhan.

Kini Komeng hanya tinggal berdua dengan kakak perempuannya. Meski hidup sangat pas pasan, Komeng menolak untuk memelas belas kasihan orang. “saya lebih memilih berjualan seperti ini mbak, daripada harus meminta-minta.” Ucapnya, saat berbincang dengan reporter hulondalo.id

Uang hasil jualannya, hanya cukup untuk makan sehari. Kalaupun ada sisa, maka akan disimpan untuk esoknya. Bagaimana jika jualannya tak laku? Komeng mengaku, itu bukan masalah. Seakan ingin memberi nasehat, Pak Tua penjual cobek itu, justru mengaku “Saya bisa hidup hari ini saja, itu sudah syukur,” ungkapnya.

Komeng terus mencoba tegar berdiri. Cobek dan lesung batu masih terus ditawarkan dari kantor ke kantor, berharap ada rezeki yang dititipkan lewat orang orang yang bekerja disitu.

Kulitnya boleh saja keriput dimakan usia, tapi ketegaran dan rasa syukur yang melekat dalam diri kakek penjual lesung batu tersebut seketika menampar kita yang lebih sering berkeluh kesah. Bahkan pesan whatsapp kepada gebetan yang hanya berakhir centang biru saja kita sudah mengeluh.

“Semua ini cuma titipan” pesan Komeng mengakhiri obrolan kecil kami dengannya di penghujung sore. Komeng pun pamit pulang, decitan gerobak kayu mengiringi perjalanan Komeng yang masih bisa senyum, meski hari ini tak ada satupun lesung batu yang terjual. (Ika)