BERI’TIKAF TAPI ‘TIDAK I’TIKAF’

BERI’TIKAF TAPI ‘TIDAK I’TIKAF’

02/05/2021 20:50 0 By Maman

Penulis : Ustad Nanang Masaudi, Ketua GARBI Provinsi Gorontalo.

Itikaf (ayojakarta.com)

Ilustrasi I’tikaf (ayojakarta.com)

HARI ini akhirnya kita yang masih diberi nikmat hidup bisa merasakan saat-saat terakhir berada di hari ke-20 Ramadan 1442 H. Di depan kita beberapa jam lagi akan memasuki likur 10 hari terakhir Ramadan. Dalam teorinya, Ramadan dibagi oleh para ulama menjadi tiga likur, agar kita dapat menata manajemen ibadah puasa Ramadan kita menjadi lebih terencana, teratur, dan terarah dengan baik.

Likur terakhir menjadi fase yang paling spesial dan menentukan karena pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan sangat dianjurkan untuk mengurangi tidur, dan mengencangkan sarung (tidak menggauli isteri), sebagai bentuk kesungguhan dalam berjuang meraih sebanyak mungkin keutamaan Ramadan terutama fadhilah malam Lailatul Qadar.

Ustad Nanang Masaudi.

Hari ini merupakan kesempatan melakukan muhasabah likuran terakhir Ramadan, atas segala bentuk kelalaian dan capaian target amaliah yang terjadi selama 20 hari puasa kita. Setiap perbaikan dan rencana peningkatan aspek ubudiyah dan mua’malah di 10 hari yang tersisa, semestinya didahului dengan evaluasi periodik (muhasabatun nafsi), kemudian menentukan rencana tindak lanjut untuk peningkatan kualitas amal dan perbaikan diri.

Implementasi rencana harian dapat dilakukan dengan terus memantapkan sikap dan amalan, yang dapat dihadirkan ke dalam diri, untuk menjadikan puasa kita lebih baik, serta dalam rangka memburu fadhilah Lalilatul Qadar.

Penerapan paradigma model OREx (Organizing for Ramadhan Exellence) ini, harapannya akan semakin mendekatkan kita pada postur strategis diri kita, sebagai hamba yang bertaqwa (la’allakum tattaqun) dan hamba yang pandai bersyukur (la’allakum tasykurun). Aktivitas ubudiyah maupun muamalah, harus terus bergerak aktif menuju pada pencapaian visi ibadah Ramadan.

Secara sosial, seorang yang berpuasa perlu menumbuhkan semangat untuk saling membahagiakan dengan orang lain. Membahagiakan orang lain tentu saja tidak harus selalu dengan harta atau hadiah. Menghilangkan kesulitan seorang muslim juga merupakan perbuatan yang sangat mulia. Bahkan, perkara ini disabdakan oleh nabi jauh lebih dicintai dibanding dengan beri’tikaf sebulan penuh di mesjid Nabawi.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا ,
وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya.
Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.”

Apalah artinya raga yang selalu hadir di masjid, tapi ternyata ia meninggalkan tetangganya dalam keadaan lapar. Maka aspek sosial di bulan suci Ramadan harus seiring sejalan dengan aspek peningkatan kesholehan spiritual. Ibadah ritual adalah pilar penting bangunan agama seseorang, sedangkan ibadah sosial adalah bentuk dan wajah bangunan agama seseorang. Itulah alasan mengapa kita harus terus memperbanyak muhasabah, untuk memeriksa bagian-bagian manakah yang keropos atau mengalami cacat dari bangunan agama kita.

Sebagaimana sikap ruhani orang yang sedang menjalani muhasabah, maka pengakuan atas segala perbuatan dosa, mesti selalu disertai dengan memperbanyak lafazh istighfar. Sambil terus meneguhkan sikap mengakui kelemahan dan kehinaan diri di hadapan Pemilik segala kemuliaan, bersegeralah melakukan taubatan nashuha.

Setelah itu rancanglah sebuah maqamat (jalan ruhani), untuk semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Dekat. Jalan ruhani itu bisa berupa pelipatgandaan kesabaran di sepuluh hari terakhir Ramadan, karena godaan di akhir Ramadan makin bertambah banyak.

Tanamkan rasa kefaqiran di hadapan Allah bahwa, kita sangat bergantung kepada-Nya dalam segala hal (shamadaniyyan). Rawatlah sikap zuhud terhadap syahwat duniawiyah, sebagai wujud implementasi hakekat puasa. Teruslah memantapkan tawakkal kita kepada yang Maha Berkehendak, dan jangan berhenti mengasah kecintaan kepada Allah Yang Maha Kasih, hingga perasaan ridho benar-benar tertancap kokoh ke dasar lubuk paling dalam di hati kita. Beginilah seharusnya bentuk i’tikaf batiniah kita.

Apalah artinya badan yang beri’tikaf di masjid, tetapi hati terus terikat dan merasa khawatir dengan perkara di luar masjid. Lebih disayangkan lagi bila raga sudah tidak beri’tikaf, hati dan pikiran pun tidak beri’tikaf pula.

Dan betapa celakanya seseorang yang raganya tidak beri’tikaf, jiwa sosialnya bermasalah, hati dan pikirannya pun tertawan dalam penjara duniawi.

Selamat beri’tikaf. (##)