BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2021 Jadi 4,3%

BI Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2021 Jadi 4,3%

30/03/2021 17:42 0 By Alex

Bank Indonesia BI

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Budi Widihartanto. (f. dok hms BI)

Hulondalo.id – Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi RI tahun 2021 menjadi 4,3% sampai 5,3% (year on year/yoy) dari yang sebelumnya diproyeksi tumbuh antara 4,8% hingga 5,8% (yoy).

Meski demikian, proyeksi bank sentral lebih baik dari realisasi pertumbuhan ekonomi RI tahun 2020 yang terkontraksi -2,07% (yoy).

“Implementasi vaksinasi dan sinergi kebijakan nasional diprakirakan akan mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional ke depan, sejalan dengan perbaikan kinerja ekspor yang terus berlanjut, yang kemudian akan mendorong kinerja sektoral,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto saat Bincang-bincang Media yang digelar di Grand Q hotel, Selasa (30/3/2021).

Budi mengatakan, seiring dengan program vaksinasi yang terjadi di berbagai negara, perkembangan Covid-19 kian landai sehingga turut mendorong kian membaiknya perekonomian.

Tercatat, volume perdagangan dunia akan terus meningkat yang sejalan dengan kenaikan permintaan global, terutama dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Hal itu turut mendorong kinerja ekspor RI terus meningkat, terutama komoditas manufaktur seperti besi baja, bijih logam, kimia organik, mesin listrik, serta komoditas produk pertanian yang seiring dengan kenaikan permintaan dari negara mitra dagang, terutama AS dan Tiongkok.

“Sesuai dengan RDG (Rapat Dewan Gubernur) pada 17-18 Maret 2021, salah satu fokus kebijakan adalah memfasilitasi promosi perdagangan, investasi serta penggunaan LCS (Local Currency Settlement),” ujar Budi Widihartanto.

“LCS ini singkatnya adalah, transaksi ekspor-impor dengan beberapa negara bisa menggunakan mata uang Rupiah. Sejauh ini sudah ada 3 negara, yaitu Jepang, Malaysia dan Thailand,” sebut Budi.

Sejalan dengan itu pula, program vaksinasi nasional baik untuk tenaga kesehatan maupun petugas pelayanan publik, sekaligus penerapan disiplin protokol kesehatan, akan terus mendorong akselerasi yang diharapkan mampu menopang keyakinan bisnis ke depan.

Sebelumnya, hingga Februari 2021 tercatat neraca perdagangan RI surplus USD 2 Miliar sehingga mendorong cadangan devisa RI tetap tinggi di angka USD 138,8 Miliar yang setara pembiayaan 10,5 bulan impor.

Bank sentral memprakirakan, defisit transaksi berjalan ke depan akan tetap rendah 1,0% sampai 2,0% dari PDB tahun 2021 sehingga dapat mendukung ketahanan sektor eksternal di Indonesia.

Hingga pertengahan Maret 2021 investasi portofolio mencatatkan net outflow sebesar USD 1,57 Miliar seiring ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

Tertahannya aliran masuk modal asing berdampak pada Rupiah yang mengalami depresiasi pada 17 Maret 2021 sebesar 1,16% (point to point/ptp) atau 2,20% (ptp) secara rata-rata dibandingkan level Februari 2021.(Alex)