BUMDes Peternakan Sukses dengan Bank Pakan

BUMDes Peternakan Sukses dengan Bank Pakan

13/01/2021 09:54 0 By Maman

MEWUJUDKAN swasembada daging masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Impor daging masih menjadi pilihan instan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan daging dalam negeri.

Geografis Indonesia yang berada di daerah tropis dan luasnya wilayah sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan peternakan khususnya sapi. Lantas apa yang menjadi kendala sehingga kita belum mampu swasembada daging? Salah satu faktor penyebab kegagalan peternakan sapi adalah kurangnya persediaan pakan di musim kemarau.

Provinsi Gorontalo memiliki luas wilayah 12.435 km2 dengan kepadatan penduduk 88/km2, menurut catatan Pemprov Gorontalo pada tahun 2016. Jumlah penduduk tercatat sebanyak 325 ribu berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik tahun 2020, dengan mata pencaharian tertinggi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yaitu 32%.

Peternakan sapi, sangat erat hubungannya dengan sektor pertanian sebagai salah satu sumber pemasok pakan. Luasan panen padi pada tahun 2020, diperkirakan sebesar 50.557 ha, sedangkan populasi sapi potong pada bulan Oktober tahun 2020, tercatat sebanyak hampir dua ratus ribu ekor dengan rata-rata produksi dua juta delapan ratus kilogram per tahun.

BUMDes Peternakan

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan badan usaha yang dikelola oleh pemerintah desa, memiliki peranan penting dalam memajukan perekonomian desa. Berdasarkan data Dinas Pengembangan Masyarakat Desa Provinsi Gorontalo, saat ini terdapat sejumlah 646 BUMDes yang tersebar di wilayah provinsi Gorontalo. Sayangnya, dari BUMDes yang ada hanya terdapat 17 BUMDes yang bergerak di sektor perikanan/peternakan.

Besarnya peluang usaha peternakan sapi, sudah saatnya ditangkap oleh warga desa. Persiapan yang harus dilakukan sebelum memulai membuat unit usaha peternakan sapi diantaranya penyediaan modal usaha, lokasi peternakan, pembangunan bank pakan, pembelian peralatan/mesin, penyediaan pakan ternak, dan tenaga kerja.

Atik Dwi Utami.

Pemerintah Desa dapat mengalokasikan Dana Desa untuk modal usaha yang bisa digunakan untuk pengadaan lahan peternakan, pembelian bibit sapi, pembelian bibit rumput atau pakan dari sisa pertanian serta biaya operasional lainnya.

BUMDes juga dapat memelihara ternak warga dengan sistem bagi hasil sehingga dapat mengurangi modal awal. Lahan yang dipakai sebagai peternakan bisa diperoleh dengan pembelian tanah atau menyewa lahan warga, sedangkan tenaga kerja pengelola peternakan dilakukan dengan memberdayakan warga yang tinggal di dekat BUMDes.

Bank Pakan

Para peternak biasanya mengalami kesulitan dalam menyediakan pakan ternak pada musim kemarau. Di Gorontalo, kebanyakan hewan ternak dipelihara dengan sistem umbaran. Ternak dibiarkan mencari rumput  sendiri. Ketika musim kemarau, rumput dan tanaman pakan ternak banyak yang kering sehingga memaksa peternak menjual ternaknya.

Bank Pakan, merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, dalam mendukung swasembada protein hewani dan meningkatkan kualitas serta produksi ternak Indonesia. Bank Pakan ini memiliki peran untuk mengelola pakan dari pakan segar, menjadi pusat pengelolaan pakan, serta membuat green concentrate.

Pembuatan Bank Pakan dengan metode Silase dapat dipakai untuk menyimpan pakan dalam jangka waktu lama, berbulan-bulan dan bahkan bisa sampai 2 tahun. Tentrem Lestari (2020) memaparkan pembuatan Bank Pakan metode silase ini dengan bahan hijauan yang biasa digunakan oleh peternak yang idealnya terdiri dari 4 jenis yaitu rerumputan, legum, rambatan, dan jenis rumput gajah.

Bahan hijauan lainnya yang bisa dipakai adalah sisa hasil panen pertanian diantaranya jerami, daun tebu, serta daun dan tongkol jagung yang banyak terdapat di Gorontalo. Masyarakat desa sebaiknya jangan membakar atau membakar sisa hasil panen ini. Berdasarkan penelitian Maluyu dan Suhardi (2016), tiap ha sawah dapat menghasilkan sekitar 3 ton jerami per periode tanam.

Cara pembuatan silase pakan ternak menurut Fakultas Peternakan UGM (2017) adalah sebagai berikut: Proses pemotongan atau pencacahan hijauan dapat dilakukan secara manual menggunakan golok atau dapat menggunakan mesin pencacah agar prosesnya lebih cepat.

Hijauan yang telah dipotong dikeringkan dengan kadar air 60% sebelum disimpan dalam kondisi kedap udara agar tidak cepat rusak. Pengeringan bisa dilakukan dengan dijemur di bawah terik sinar matahari atau menggunakan mesin pengering.

Selanjutnya dicampur dengan bahan lain yaitu tetes tebu/molasses (3%), dedak halus 5%, menir (3,5%), dan onggok (3%). Bahan yang telah dicampur disimpan dalam silo dalam kondisi padat dan kedap udara.

Ciri-ciri silase yang baik adalah rasa dan wanginya asam, warna masih hijau, tekstur rumput jelas, tidak berjamur, tidak berlendir, dan tidak menggumpal. Pengambilan silase dilakukan setelah proses fermentasi selama 6-8 minggu.

Kisah Sukses

Salah satu contoh BUMDes peternakan yang telah sukses dan dapat dijadikan teladan oleh warga desa yaitu, BUMDes Rantaman Desa Muara Danau Kecamatan Seginim Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu.  Pada tahun 2018, desa Muara Danau mengalokasikan 262 juta Dana Desa untuk modal awal peternakan. Pada tahap awal, dikembangkan bibit sapi sebanyak 20 ekor dan selanjutnya diharapkan bisa berkembang menjadi peternakan skala besar dengan penguatan modal tiap tahunnya dari Dana Desa.

Dukungan Pemerintah

Kesuksesan BUMDes pada umumnya dan BUMDes Peternakan pada khususnya, sangat tergantung dari dukungan pemerintah pusat maupun daerah. Pemerintah Pusat selain mengalokasikan Dana Desa yang cukup, diharapkan juga menyediakan sarana transportasi untuk pemasaran ternak.

Sedangkan Pemerintah Daerah diharapkan terus membina BUMDes melalui pelatihan teknis peternakan maupun kemampuan manajerial untuk mengelola BUMDes agar semakin berkembang. (**)

(Penulis Atik Dwi Utami, Kabid PPA II pada Kanwil DJPb Provinsi Gorontalo)