Cerita Jessica, Dokter Cantik yang Mengabdi di Wilayah Terpencil Gorontalo

Cerita Jessica, Dokter Cantik yang Mengabdi di Wilayah Terpencil Gorontalo

20/10/2019 16:31 0 By Alex

Dokter Jessica saat melayani pasien di PKM Bilato, Kabupaten Gorontalo.

Hulondalo.id – Jika sebagian dokter memilih praktek di daerah perkotaan, tapi tidak demikian dengan Dahliana Jessica Aristy Silaen. Dokter asal Kota Bekasi, Jawa Barat ini dengan sepenuh hati mengabdikan diri sebagai petugas kesehatan di wilayah terpencil Gorontalo, lebih tepatnya di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo.

Untuk menuju ke PKM Bilato sendiri, memakan waktu paling cepat 2 jam dari pusat Kota Gorontalo. Tentu sobat Hulondalo.id penasaran dengan sosok dokter cantik yang hobi traveling dan diving yang satu ini.

Dahliana Jessica Aristy Silaen, atau biasa akrab disapa Jessica, mengabdi sebagai petugas kesehatan di PKM Bilato sejak Mei 2019 lalu.

Jessica pun bercerita, sebelumnya dia pernah menjadi dokter Intership di daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia juga pernah bekerja di sebuah klinik di salah satu perusahaan di Cikarang. Namun, hal itu tidak membuat Jessica merasa tertantang.

Putri sulung pasangan Harrys Silaen dan Mety Yusniar Sianipar ini memilih untuk resign. Karena niat yang begitu besar untuk menolong warga yang membutuhkan pertolongan di wilayah terpencil yang sulit di akses, pada bulan Mei 2019 Jessica pun mencoba melamar di rumah sakit.

Jessica melamar menjadi pegawai tidak tetap di daerah via internet. Tanpa ada keraguan, Jessica pun dengan mantap menerima tawaran tugas sebagai dokter di wilayah terpencil yang tertuju di Provinsi Gorontalo, tepatnya di PKM Kecamatan Bilato ini.

Awalnya memang sulit. Apalagi saat Jessica berinteraksi dengan pasien di wilayah pedalaman yang kental dengan bahasa daerah atau sulit berbahasa Indonesia baku.

Dokter Jessica mengabdi sebagai petugas kesehatan di PKM Bilato sejak Mei 2019 lalu.

“Saya harus meminta petugas Puskesmas untuk menerjemahkan artinya. Selain itu, pasokan air di tempat saya tinggal juga kurang,” kenang dara kelahiran Jakarta 27 Oktober 1993 ini.

Meski banyak tantangan, itu tidak membuat Jessica berkecil hati. Bahkan dia pantang menyerah untuk menjalankan tugas mulia ini.

Waktu pun terus berlalu. Selama melayani pasien di PKM Bilato, yang paling diingatnya adalah saat ada seorang warga yang mengidap penyakit TB. Selain sulitnya akses transportasi bagi warga untuk datang berobat di PKM Bilato, ongkos sewa kendaraan butuh biaya yang tidak sedikit. Padahal sang pasien sangat membutuhkan pertolongan. Jessica pun tak ragu untuk mendatangi langsung sang pasien.

”Jika kasusnya seperti ini, saya meminta keluarga mencari mobil untuk datang ke Puskesmas. Bila tidak ditemukan, saya yang akan mendatangi rumah pasien, untuk pastikan kasusnya gawat atau tidak. Apabila dianggap dalam keadaan gawat, maka supir ambulans saya minta untuk menjemput pasien,” ungkap dokter cantik dengan lesung pipi yang juga masih single ini.

Bahkan, pernah ada pasien diagnosa TB kategori 2, yang harus dilakukan suntik setiap hari selama 2 bulan berturut-turut. Ternyata tanpa diketahui, si pasien untuk bisa datang dalam sehari saja, harus membayar sewa kendaraan sebesar Rp 70 Ribu. Saat Jessica mengetahui hal itu, petugas Puskesmas pun mendatangi pasien untuk membantu pengobatannya.

Dokter Jessica adalah lulusan Universitas Sumatera Utara Tahun 2017.

Bagi dokter lulusan Universitas Sumatera Utara tahun 2017 ini, peralatan kesehatan yang ada di PKM Bilato sudah cukup memadai. Hanya ada satu alat yang masih kurang yakni EKG (elektrokardiografi), alat rekam jantung. Sebab banyak ditemukan kasus penyakit jantung pada warga setempat.

Di akhir ceritanya, Jessica hanya berharap pemerintah dapat meningkatkan sarana dan prasarana puskesmas yang ada di daerah terpencil. Sebab bagi masyarakat terpencil Puskesmas merupakan tempat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal.(Rinto)