Cerita Nakes, Sabar Ladeni Keluarga Pasien Covid-19 yang Terhasut Hoaks

Cerita Nakes, Sabar Ladeni Keluarga Pasien Covid-19 yang Terhasut Hoaks

27/01/2021 16:37 0 By Syakir

Hulondalo.id – 23 Januari adalah hari bersejarah bagi warga Gorontalo. Di tanggal yang sama 1942 silam, Gorontalo telah memproklamasikan diri sebagai wilayah yang merdeka.

Saat itu, tokoh yang memimpin perjuangan adalah Nani Wartabone, dan beliau lah yang membacakan teks proklamasi didampingi Kusno Danupoyo. Patriotisme Nani Wartabone cs, terus diceritakan hingga ke anak cucu.

Tak jauh beda dengan para pejuang kemerdekaan, saat ini para tenaga kesehatan adalah pejuang garis depan melawan covid-19. Tidak sedikit diantara mereka yang gugur dalam pertempuran melawan musuh tak terlihat itu.

Laila Kaluku, satu dari sekian banyak tenaga kesehatan di Gorontalo, yang ikut merawat para pasien covid-19. Tak hanya pujian, dirinya pun sempat merasa terasing di rumah sendiri, hingga harus sabar meladeni cacian keluarga pasien covid-19.

Berawal Mei 2020, saat itu corona lagi naik naiknya di Gorontalo. Kala itu, Laila coba mendaftarkan diri sebagai perawat di Wisma Atlet Jakarta, namun tidak peroleh izin dari orang tua. Tapi kemudian diizinkan juga, tapi hanya boleh di Gorontalo.

Baru seminggu bertugas sebagai perawat di ruangan isolasi, pihak keluarga mulai khawatir dan dengan keberadaan Laila di rumahnya. Dia menganggapnya wajar, karena sang ibu memang sudah tua, apalagi punya penyakit bawaan.

Belum lagi tetangga juga mulai khawatir dengan tugas yang dijalani Laila. Maklum, saat itu juga corona lagi tinggi tingginya di Gorontalo.

Alhamdulillah walaupun harus antri, Laila akhirnya kebagian tempat menginap di Hotel Damhill UNG, yang dikhususkan bagi perawat covid-19.

Selama 6 bulan dirinya bertugas merawat pasien covid-19. Yang membuatnya Laila sedih, dirinya tak bisa ketemu keluarga apalagi pulang ke rumah sendiri.

“Untuk pertama kalinya hari raya Idul Fitri dan Idul Adha di rayakan tidak bersama keluarga,” ujar Laila sedih.

Jangan dulu cerita soal rawan terpapar covid-19, menggunakan baju Alat Pelindung Diri (APD) lengkap selama 4 sampai 10 jam saja, sudah benar benar menguras energi.

Dehidrasi, kepanasan hingga sesak napas membuat banyak tenaga kesehatan kewalahan. Belum lagi harus menahan BAB. Bahkan di beberapa kesempatan, harus lari larian jika ada keadaan darurat.

“Walaupun diberikan suplemen, kami tetap drop karena dehidrasi dan kecapaian,” tambahnya.

Sudah begitu, Laila dan kawan kawannya sering harus menghadapi kecaman dan kemarahan keluarga pasien yang menolak diberlakukan protokol kesehatan, saat pasiennya terkonfirmasi positif covid-19. Banyak diantara mereka termakan hoaks, hingga kemudian menyalahkan nakes.

Laila mengaku, hanya dukungan dari keluarga dan teman teman yang membuat dirinya kuat melawati hari hari di ruangan isolasi pasien covid-19.

Bagi Dara yang baru saja merayakan ulang tahunnya ke 22 itu, adanya vaksin covid-19 seakan memberi angin segar baginya dan kawan kawan.

Walapun diakuinya, mungkin saja keefektifannya baru berkisar 70 persen, tapi tetap menurutnya vaksin adalah solusi terbaik untuk saat ini.

Sebagai tenaga kesehatan, Laila pun berharap agar masyarakat jangan mudah terhasut dengan hoaks. Belajarlah mendapatkan informasi secara utuh, dari berbagai sumber kredibel. (mg-01)