Curhatan Ayah dari Anak SD yang Ikutan Demo Tolak Omnibus Law

Curhatan Ayah dari Anak SD yang Ikutan Demo Tolak Omnibus Law

09/10/2020 21:16 0 By Syakir

Hasan Tanipu bocah SD yang berada di atas mobil komando, bersama sejumlah korlap aksi mahasiswa, Jumat (9/10/2020). (sumber: fb)

Hulondalo.id – Di tengah lautan mahasiswa Gorontalo yang menggelar aksi menolak Undang Undang Omnibus Law Cipta Kerja, Jumat (9/10/2020), ada salah seorang anak kecil yang terlihat di tengah mahasiswa.

Menggunakan topi lengkap dengan masker, bocah bernama Hasan Tanipu ikut bersama kakak mahasiswa dari Universitas Negeri Gorontalo.

“Saya Hasan Tanipu, suara hati dari Gorontalo. Hidup rakyat, hidup mahasiswa, hidup anak SD, ”ujar Hasan yang sempat memposting videonya saat berada di tengah aksi, di akun facebooknya.

Berikut curhatan sang Ayah, Funco Tanipu yang menggambarkan kecemasan plus kebanggaan dirinya, terhadap sikap anak sulungnya, yang walaupun tak mengerti apa itu Omnibus Law, tapi merasa benar untuk menolaknya. Curhatan di diposting Funco di akun facebook miliknya.

Untuk berpihak dan mendengarkan suara hati rakyat, anda tak harus tuntas baca 900 halaman itu.
—‐——————-
Btw, anak tertua saya ini dari semalam maksa banget untuk ikut aksi yang lagi heboh. Hampir semua orang ia japri di WhatsApp hanya untuk ikut bareng dalam aksi ini, khususnya anak-anak mahasiswa dan pengurus BEM yang ia kenal. Memang mereka sering main ke rumah, dan akhirnya saling add di media sosial serta tukar nomor. Sejak itu mereka akrab dengan dirinya.

Bagi dia yang berusia 10 tahun, kelas 5 SD, dia mungkin tak baca semua isi UU Omnibus Law, seperti saya dan jutaan rakyat Indonesia lain.

Tapi, kita semua paham, dalam butir-butir di ratusan halaman itu, banyak niat yang tidak baik, yang sengaja merobohkan cita-cita bangsa ini; adil dan makmur.

Saya kira apa yang sedang terjadi pada beberapa hari ini adalah sesuatu yang membanggakan. Ada harapan yang tumbuh. Ada niat baik.

Gelombang aksi dari kaum muda di Indonesia adalah bukti bahwa kita memiliki cadangan generasi yang kritis, elegan dan pantas dibanggakan.

Mereka yang selama ini dicap sebagai kaum rebahan, generasi gadget, milenial receh, dan banyak cap pesimis lainnya, kini mereka membuktikan pada sejarah bangsa ini. Mereka adalah generasi yang berani membusungkan diri pada kezaliman.

Mereka bukan lagi generasi menunduk yang di setiap harinya, dari pagi sampai pagi hanya memegang gadget. Mereka adalah kaum muda yang bergegas, bergegas melawan apa yang mereka nilai jahat.
Negeri ini dibangun dari perjuangan, perlawanan dan juga pembangkangan. Di setiap perlawanan itu, selalu terselip doa dan juga niat luhur. Demikian yang kita saksikan dalam gelombang 1908, 1928, 1942, 1945, 1965 hingga 1998.

Hal yang sama terjadi di dalam rumah, pada keluarga kecil kami. Si sulung minta izin untuk ikut aksi hari ini. Semenjak semalam dia menelpon dan kirim pesan di WhatsApp, hanya satu tujuannya ingin ikut aksi hari ini.

Saya agak was-was karena sedang berada di Jakarta, sentrum perlawanan. Kondisi pandemi membuat saya agak kurang hati mengizinkan, apalagi usianya yang menurut sebagian orang tak layak untuk ikut aksi seperti ini. Tapi jika tak mengizinkan, saya mungkin akan memadamkan niatnya, seperti upaya sekelompok orang untuk memadamkan aksi di setiap daerah.

Lantas saya izinkan yang penting hanya sekedar melihat dari jauh, tapi kendala ada pada Ibunya, Ibunya tak sudi, demikian pula Neneknya. Hingga kemudian ia bisa meyakinkan seisi rumah jika nanti dia akan ikut dalam tempo yang tidak lama.

Sejak pukul 06.00 waktu Jakarta, saya memantau terus dari jauh. Saya cek apa sudah makan, bajunya apa, bawa masker dan handsanitizer, pakai topi, tas pakaian dan logistik aksi, sebagaimana saya mengingat 15-20 tahun silam semasa di Jogjakarta.

Hingga notification WhatsApp berbunyi, ada pesan masuk. Rupanya ada kiriman video pendek tentang “suaranya”, suara anak yang tak membaca tuntas ratusan halaman itu.

Ia berdiri, tegak, membusungkan dada. Ia mengucapkan apa yang ia yakini, yang ia rasakan.
Ia adalah anak yang belum membaca ratusan halaman, berdiri hanya untuk menyuarakan kemelut yang terjadi. Ia, anak kecil itu, sadar dengan level kesadarannya bahwa ada yang tidak beres di negeri ini.

Pada kemelut dan ketidakberesan itu saya pun bersetuju, ini soal pertaruhan bangsa. Kita berada di titik nadir, semenjak Indonesia ini berdiri. Kita menolak apa yang jahat itu, sekaligus berterima kasih pada aturanNya tentang yang “jahat” itu. Telah dihadirkanNya “yang jahat” itu agar ada lapisan generasi kritis yang lahir, yang bisa protes dengan caranya.

Kita mesti terus berdoa sembari berupaya merawat semangat generasi masa depan, agar mereka bisa menjadi pejuang di masanya nanti. Semoga bangsa ini akan selamat dalam jangka panjang, diberkahi selalu, dan seluruh rakyatnya beroleh hidayah. (**)