Dilema Bisnis ‘Gila’ Sepak Bola; Meramal Hidup-Mati Persigo Gorontalo

Dilema Bisnis ‘Gila’ Sepak Bola; Meramal Hidup-Mati Persigo Gorontalo

11/01/2020 05:28 0 By Alex
Persigo Gorontalo

Tim Persigo Gorontalo sekitar musim 2009. (F. dok)

Hulondalo.id – Ini menjadi kabar baik, atau sekaligus mungkin saja kabar buruk bagi mereka pecinta sepak bola di Gorontalo.

Ya, Persigo Gorontalo akan “pulang kampung” setelah 3 Tahun merger dengan Semeru FC Lumajang.

Kabar ini tentu mengisi dahaga sebagian besar pecinta sepak bola Gorontalo, terutama mereka, yang dengan hormat kami sebut “Blue Devil”. Begitu sebutan untuk suporter setia yang menjuluki dirinya.

Namun, mungkin, ini sekaligus bisa menjadi kabar buruk; siapa yang mau maju mendanai tim berjuluk Laskar Lahilote itu?

Ketua Persigo Gorontalo, Adhan Dambea dalam sebuah konfrensi pers, Kamis (9/1/2020) menyebut, klub yang resmi berdiri sejak 1970 itu setidaknya membutuhkan modal minimal Rp 4 Miliar untuk menjadi peserta pada musim kompetisi tahun 2020.

Setengahnya, Rp 2 Miliar untuk deposit sebagai syarat minimal sebuah tim berlaga di Liga 2.

Tapi itu belum bicara soal stadion. Kata Adhan, stadion di Gorontalo yang akan menjadi kandang Persigo tidak memenuhi standar yang ditetapkan PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Skenario yang paling buruk jika tim biru ini jadi berlaga di Liga 2, Persigo akan menjalani laga kandang di stadion Klabat Manado. Tentu saja, dana yang dikeluarkan akan membengkak.

Tapi lupakan dulu soal itu. Secara umum, terutama kondisi di Indonesia, bisnis sepak bola laiknya bisnisnya orang “gila”. Ya, karena pemasukannya belum tentu sebanding dengan pengeluarannya.

Sebab, jikalau pengeluaran lebih besar dari pemasukan, itu bukan bisnis. Tapi bunuh diri.

Dan seperti klub-klub tenar di liga Eropa, bisnis sepak bola tentu saja mengejar keuntungan. Prestasi, mungkin bisa jadi nomor 2.

Persigo Gorontalo

Tim Persigo Gorontalo beberapa tahun sebelum dimerger dengan Semeru FC Lumajang

 

Meramal Finansial Klub

Tapi, coba kita bedah dulu kekuatan Persigo; cukupkah modal Rp 4 Miliar itu?

Secara garis besar, anggaran tim yang paling utama dibagi menjadi 3 item. Sebut saja soal gaji, operasional dan laga kandang.

Soal gaji, itu meliputi gaji pemain dan pelatih. Sebut saja nominal gaji yang dibutuhkan untuk tim sekelas Persigo sebesar Rp 1 Miliar.

Ya, Rp 1 Miliar. Besar?, tidak. Itu kecil sekali. Jika dibagi rata-rata untuk pemain dan tim pelatih sebanyak 35 orang (jumlah pemain maksimal 30 orang dan tim pelatih minimal 5 orang), gajinya sangat kecil; hanya Rp 2,3 Jutaan jika dibagi dalam setahun. UMP ya?

Itu belum termasuk jika Persigo punya pemain asing.

Kemudian soal operasional. Itu meliputi keperluan tim semisal staf non tim, administrasi, biaya sehari-hari, tiket pesawat, peralatan, perlengkapan latihan dan masih banyak lagi. Berapa estimasinya? Katakanlah Rp 750 Juta. Sedikit sekali memang.

Terakhir, soal anggaran untuk pertandingan kandang. Sebut saja yang paling anyar, biaya keamanan. Ada juga akomodasi dan lainnya. Rp 250 Juta mungkin cukup ya?

Dari 3 faktor belanja tim sebesar Rp 2 Miliar itu, belum termasuk bonus prestasi sampai biaya promosi. Tentu saja bonus prestasi bisa mendongkrat semangat tim.

Tapi kembali lagi, itu bergantung dari manajemen.

Dan sekali lagi, ini hanya simulasi singkat karena umumnya klub sepak bola di Indonesia memiliki kondisi berbeda-beda.

Persigo Gorontalo

Kenang-kenangan tim Persigo Gorontalo. (F. dok)

Kemudian soal pemasukan.

Ini ‘kan bicara bisnis sepak bola, income tim secara finansial sangat penting untuk kesehatan sebuah klub.

Nah, soal pemasukan ini bisa dibagi menjadi 4 item, seperti sponsor, apparel, subsidi liga dan tiket.

Pertama, soal sponsor. Ini menjadi faktor penting untuk memperpanjang nafas sebuah klub sepak bola. Siapa yang mau menjadi sponsor Persigo? Perusahaan mana? Biasanya, itu bisa saja bergantung dari seberapa besar nama sebuah klub sepak bola, berada di kota mana asalnya, hingga berapa banyak jumlah penggemarnya.

Faktanya di Indonesia, sangat-sangat jarang sponsor menggelontorkan dana sebesar Rp 5 Miliar.

Tidak usahlah bohongi diri sendiri, berapa duit sponsor yang pantas untuk Persigo?

Kedua soal apparel. Belum tentu sebuah perusahaan apparel, yang sudah memiliki merek terkenal, semisal Adidas, memberikan dana yang besar untuk sebuah klub.

Biasanya, mungkin sebatas gengsi saat logo pabrikan Jerman itu mejeng di dada kanan.

Kalau merchandise-nya ada, butuh investasi yang tidak sedikit. Itu belum tentu bisa memberikan pemasukan besar bagi klub jika pendukungnya malah membeli merchandise imitasi, yang bukan asli dari ofisial klub.

Ketiga, ada subsidi liga. Untuk Liga 2, kabarnya subsidi liga untuk masing-masing klub sebesar Rp 500 Juta, plus Rp 400 Juta jika lolos di 16 besar. Tapi, alangkah baiknya jika klub tidak menggantungkan harapan dari subsidi liga. Nilainya bisa saja nilainya berubah. Jadi anggap saja sebagai bonus.

Terakhir soal tiket. Inilah yang harusnya jadi perhatian klub.

Aslinya, semakin banyak suporter, semakin banyak yang beli=semakin banyak pemasukan. Makin banyak pertandingannya, makin bertambah income klub.

Dari sponsor, belum tentu dapat Rp 500 Juta untuk Persigo. Apparel dapat berapa? Subsidi liga, anggap bonus akhit tahun. Nah, tiket sejatinya adalah senjata pamungkas.

Soal pemasukan dari tiket ini, mari coba kita hitung lagi.

Pada Liga 2 nanti 2020, Persigo memainkan setidaknya 5 laga kandang di babak penyisihan untuk wilayah Timur.

Katakanlah seandainya jika Persigo menggunakan GOR Nani Wartabone atau stadion 23 Januari Telaga untuk melakoni laga kandang, berapa kapasitas penontonnya?

Dikutip dari laman Wikipedia, kapasitas stadion 23 Januari sebesar 6.000 penonton.

Sebut saja yang paling rendah, tiap pertandingan kandang hanya dihadiri 2.000 penonton. Jika dikali dengan harga tiket, katakanlah, Rp 50.000,-.Maka dari 5 laga kandang, Persigo akan mengantongi pemasukan dari biaya tiket sebesar Rp 500 Juta.

Itu pun jika penonton kalem, tidak ada fasilitas yang rusak dan pendukungnya tidak protes harga tiketnya, dan mau bayar.

Jadi, hitungan kasar untuk pemasukan Persigo dari 4 item tadi, sebut saja Rp 1 Miliar. Sebanding tidak?

Sebelumnya, Ketua Persigo Adhan Dambea mengatakan, jika tidak ada stadion di Gorontalo yang sesuai standar Liga 2. Jika harus memaksa homebase-nya di Gorontalo, berapa duit lagi yang harus keluar?

 

Belajar dari Union Berlin dan PSGC Ciamis

Persigo Gorontalo

Dokumentasi kesebelasan Persigo Gorontalo saat latihan. (f. dok)

Kelangsungan hidup sebuah klub sepak bola, sangat bergantung pula dari kesehatan finansial.

Secara finansial pula, bisa menunjang prestasi klub, semisal dengan membeli pemain hebat, memberi bonus tim dan banyak lagi. Tapi itu juga bukan jaminan utama.

Tidak bisa dipungkiri, masalah utama Persigo Gorontalo adalah finansial klub. Ketua Persigo Adhan Dambea menuturkan, Persigo dimerger dengan Semeru FC Lumajang tidak lain karena persoalan tidak ada biaya.

Olehnya, Mantan Walikota Gorontalo itu membuka peluang bagi masyarakat Gorontalo yang punya modal minimal Rp 4 Miliar untuk mengelola klub.

Dia memberi waktu sebulan ini, paling tidak sebelum pendaftaran Liga 2 pada 8 Februari 2020 nanti.

Mungkin kelangsungan hidup Persigo butuh cinta sejati dari para pendukungnya. Mungkin lebih dari sekedar membeli tiket.

Suporter setia Persigo bisa saja belajar dari sejarah klub sepak bola lain.

Di luar negeri, sebut saja FC Barcelona yang tersohor itu. Atau, sebuah klub kecil di Jerman. Namanya Union Berlin.

Dikutip dari vivanews.com, modal Union Berlin saat sekarat berasal dari para fans. Para fans rela mendonorkan darahnya dijual untuk keperluan medis, dan hasilnya untuk membiayai klub.

Tanpa dukungan fans, Union Berlin mungkin tidak akan “bernafas” sampai sekarang ini.

Kalau di dalam negeri, ada PSGC Ciamis yang bisa jadi teladan.

Dilansir dari goal.com, klub ini bahkan tercatat tidak mengandalkan duit APBD ketika waktu itu aturan masih membolehkannya.

Klub ini eksis berkat dukungan tidak hanya para suporter setia, mereka menggalang dana dari masyarakat, yang mereka sebut sebagai sumbangan tercatat.

Jadi, setiap warga yang memberikan sumbangan, akan diberikan semacam sertifikat. Kemudian, layaknya dompet dhuafa, sumbangan masyarakat yang dicatat auditor independen dan dipublikasikan lewat media sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Dengan uluran tangan dari masyarakat, PSGC Ciamis sempat mendapatkan predikat klub sehat dan berhasil naik kasta sampai ke ISL kala itu.

 

Dukungan Suporter

Persigo Gorontalo

Suporter Persigo Gorontalo yang menamai dirinya “Blue Devil”. (F. dok)

Dari ulasan panjang tadi, mungkin kita sudah bisa meramal hidup-matinya Persigo Gorontalo.

Sebelum kabar Persigo “pulang kampung”, banyak kritik soal Persigo yang direntalkan.

Di media sosial, ramai ciutan netizen menanti kepulangan Persigo dengan harapan dapat mengangkat lagi nama daerah ke pentas Nasional dari olahraga.

Mudah-mudahan, mereka, Blue Devil mania, tidak mempersoalkan harga tiket Rp 50.000,- saat Persigo jadi berlaga di Liga 2, dengan membawa nama Gorontalo, tok! Termasuk oleh mereka yang katanya pendukung fanatik Persigo yang riuh di media sosial tadi.

Atau, dia yang sudi memberikan sumbangan agar klub kesayangan masyarakat Gorontalo ini tetap “tali panjang”.

Ataukah terakhir, ada warga Gorontalo, yang gila bola, yang punya duit Rp 4 Miliar, yang siap menjalani bisnis gila ini?

Jika itu pupus, mungkin ada 3 alternatif. Dirental lagi, ditutup atau dijual.

Kalau sudah begitu, “Sapa yang mo Help?”.. (Alex)