Dorong Ekspor, Pemprov-BI Gorontalo Lirik Potensi Kelapa

21/11/2018 17:12 0 By Alex

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menandatangani MoU tentang upaya mendorong ekspor komoditas Gorontalo antara Pemprov, BI, Bea Cukai, Pelindo dan Garuda.

Hulondalo.id – Mungkin ini bisa menjadi kabar gembira bagi para petani kelapa di Gorontalo. Pemerintah Provinsi Gorontalo bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) berencana akan fokus mengembangkan potensi kelapa dan turunannya menjadi komoditas ekspor.

Bagaimana bukan kabar gembira? Saat ini harga komoditas kelapa di Gorontalo sedang anjlok. Untuk kopra saja, harganya sedang terjun bebas menjadi Rp 3.500,- per Kg. Padahal, beberapa bulan sebelumnya harganya di atas Rp 9.000,- per Kg. Sedangkan untuk kelapa butir pun bernasib sama. Harganya jatuh Rp 600,- per butir. Sebelumnya, harganya berkisar Rp 2.300,- per butir. Kondisi ini membuat banyak petani kelapa mengeluh.

“Jadi kesempatan ini kita merupakan sebuah gerakan bersama untuk pengembangan potensi ekspor di Gorontalo. Semua pihak-pihak terkait kita jadikan satu dan Alhamdulillah didukung penuh oleh Gubernur Gorontalo bapak Rusli Habibie,” ujar Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Ricky Perdana Gozali usai penandatanganan MoU terkait upaya mendorong ekspor komoditas Gorontalo antara Pemprov, BI, Bea Cukai, Pelindo dan Garuda, Rabu (21/11/2018).

Ricky mengatakan bahwa saat ini permintaan kelapa di dunia sangat besar dengan nilai ekspor mencapai 5,5 Miliar USD. Ini tentunya menjadi sebuah kesempatan besar bagi petani kelapa di Gorontalo mengingat potensinya yang juga begitu besar. Dengan demikian, pihaknya memilih untuk mempercepat dalam jangka pendek agar potensi kelapa menjadi komoditas ekspor.

“Potensi kelapa di Gorontalo sangat besar, hanya saja mungkin pengelolaannya, pemasarannya, pendayagunaannya yang belum baik. Olehnya akan kita dampingi,” tambah Ricky.

Ricky mengatakan, potensi kelapa di Indonesia saat ini sudah diminati beberapa negara. Yang terbaru adalah Indonesia bersama Australia sudah mengikat kontrak kerja sama untuk pengadaan fresh coconut senilai 700.000 USD atau sekitar Rp 10,2 Miliar, “Makanya ini menjadi kesempatan emas kelapa di Gorontalo akan kita kembangkan terus, entah dia sapu lidinya, sabutnya, tempurungnya dan lain-lain,” terang Ricky.

Sementara itu, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyatakan sangat setuju dengan terobosan ini. Namun harus benar-benar diseriusi tanpa ada realisasinya sama sekali. “Di kantor kita itu ada MoU-MoU yang sudah menumpuk. Mudah-mudahan kali ini benar-benar ada hasilnya. Saya pribadi sangat setuju dengan gagasan ini,” kata Rusli Habibie.

Rusli juga mengatakan bahwa stakeholder yang terkait dalam rencana ini agar benar-benar fokus, “Harapan saya, satu program ini saja dulu yang kita jalankan, jangan dulu tambah yang lain-lain agar kita benar-benar fokus dan programnya bisa optimal,” kata Rusli.

Politisi Golkar itu tidak menampik bahwa saat ini petani kelapa di Gorontalo menjerit dengan anjloknya harga kopra. Saat ini, harga kopra berada pada kisaran Rp 3.500 per Kg, sementara ongkos produksinya mencapai Rp 5.000 per Kg. “Insya Allah, dengan adanya kesepakatan ini bisa juga berimbas pada kesejahteraan petani kelapa di Gorontalo,” harap Rusli.(hl-01)