Dugaan Penganiayaan Seret Darem, Pihak Keluarga Korban Akui Tak Lagi Keberatan

Dugaan Penganiayaan Seret Darem, Pihak Keluarga Korban Akui Tak Lagi Keberatan

15/07/2020 18:35 0 By Narto

Ratna Kasalihi, isteri korban dugaan penganiayaan ketika menunjukkan surat pernyataan tidak keberatan atas kejadian sejak tahun 2010 lalu.(f.istimewa)

Hulondalo.id – Masih ingat dengan kasus dugaan penganiaan yang disebut-sebut menyeret nama Darwis Moridu, kini menjabat sebagai Bupati Boalemo. Ya. Kasus itu terjadi sebelum dia memangku jabatan kepala daerah pada 2010 lalu.

Kasusnya pun sementara ditangani pihak Polda Gorontalo dan terinformasi dilimpuhkan ke Kejati Gorontalo pasca dikabulkannya praperadilan 2018 lalu.

Namun, belum banyak yang tahu, ternyata kasus ini sudah terbilang tuntas. Itu dilihat dari pengakuan pihak keluarga korban yang tak lagi keberatan atas kejadiannya.

Pengakuan ini disampaikan keluarga korban melalui surat pernyataan tidak keberatan tertanggal 09 Juli 2020.

Surat tersebut ditandatangani isteri almarhum korban dugaan penganiayaan, Ratna Kasalihi warga Desa Kota Raja, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boaelmo. Begitu pula, kedua orang tua korban, masing-masing Arif Idrus bersama Hamuri Sako dengan membubuhi tandatangannya diatas materai 6.000. Surat itu pula diakui sudah disampaikan ke pihak Polda Gorontalo dan Kejati Gorontalo.

Tak sampai disitu, Ratna Kasalihi juga mengaku dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun yang menerangkan bahwa sudah tak keberatan lagi atas persoalan terjadi 10 tahun silam itu.

“Kami benar- benar tidak keberatan lagi atas kejadian yang mengakibatkan kematian almarhum Awis Idrus. Sebab, kami menyadari bahwa kematian almarhum disebabkan penyakit yang diderita almarhum pada saat itu,” beber Ratna Kasalihi.

Lebih lanjut, ibu 3 anak ini menyampaikan kekesalannya dengan mengutuk keras pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kejadian menimpa keluarganya itu untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Ratna Kasalihi menyerahkan dokumen surat pernyataan tidak keberatan pihak keluarga korban kepada pihak Kejati Gorontalo.(f.istimewa)

“Kami pun tidak sudi jika kelak ada upaya dilakukan otopsi terhadap almarhum. Karena kami yakin bahwa mengotopsi mayat almarhum sama halnya menyiksa almarhum semasa hidupnya,” pungkasnya.(narto)