Harga Cabai Rawit di Gorontalo Mahal, Petani: Biarkan Kami Untung Dulu

03/11/2019 12:19 0 By Alex

Sudah memasuki bulan kedua ini, harga cabai rawit di Gorontalo masih di atas Rp 100 Ribu per Kg.(F. dok Alex)

Hulondalo.id – Sudah hampir 2 bulan terakhir ini, harga cabai rawit di pasar-pasar tradisional di Gorontalo meroket dengan harga diatas Rp 100 Ribu per Kg. Hari ini saja, Ahad (3/11/2019), harga rica masih bertengker di kisaran Rp 120 Ribu per Kg.

Sebagian kalangan menilai, mahalnya harga cabai rawit ini dikarenakan ulah spekulan yang diduga sengaja mempermainkan harga. Panjangnya rantai distribusi membuat harga cabai rawit dari petani hingga ke konsumen membuat harganya melejit. Tapi, apakah benar demikian?

Sebelumnya, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas utama penyumbang inflasi di Gorontalo selama Oktober 2019 disumbang oleh cabai rawit, yakni 0,1526% dari indeks harga konsumen.

Selain itu, dari sisi Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2019, tercatat hanya subsektor hortikultura yang mengalami kenaikan 0,65%, yang di dalamnya tentu ada cabai rawit.

Sedangkan NTP di subsektor lainnya, rata-rata mengalami penurunan di atas minus 1%. Akibatnya, NTP umum di Gorontalo selama Oktober 2019 turun menjadi 102,96%.

NTP sendiri diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), yang merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani.

“Ini seperti yang kita ketahui, tidak lain dipengaruhi juga musim kekeringan,” ungkap Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Herum Fajarwati, Jumat (1/11/2019).

Opa Hiru, salah seorang petani cabai rawit di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo mengatakan, sejatinya harga cabai rawit saat ini memang sedang bagus. Namun, ongkos operasionalnya juga naik mengingat musim kekeringan yang sudah 3 bulan terakhir ini agar cabai rawit tetap berproduksi.

Opa Hiru mengaku paling banyak menjual hasil panen cabai rawit miliknya ke pengumpul dengan harga berkisar Rp 90 Ribu per Kg.

“Tiap panen saya dapat sampai 20 Kg. Sekali-sekali biarlah dulu kami untung pak. Memang ini (cabai rawit) mahal, tapi juga harus dijaga, belum lagi kalau ada wereng (hama),” ucap opa 67 Tahun itu.

Sementara itu, salah seorang pengumpul, Riton Bilondatu, warga Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, juga mengakui hal senada. Menurutnya, dia membeli langsung cabai rawit ke petani dengan harga Rp 90 Ribu per Kg. Namun setelah itu, dia menjualnya sendiri keliling pasar-pasar tradisional di Gorontalo.

“Biasa ‘kan dari petani ke pengumpul, kemudian ke pedagang, kemudian dijual (ke konsumen). Saya tidak lagi ke pedagang, saya langsung. Makanya punya saya harganya bersaing. Biasa saya jual Rp 100 Ribu per Kg sampai Rp 110 Ribu per Kg,” aku Riton.

Selain itu, menurutnya, mahalnya harga cabai rawit saat ini karena tidak ada pasokan dari luar. Rata-rata, kata Riton, hasil panen sudah dikepung pengumpul lokal dari Gorontalo.

“Biasanya sampai di drop ke Manado. Sekarang barangnya kurang. Ini juga sudah naik jadi Rp 120 Ribu per Kg karena tidak ada rica masuk dari Makassar,” kata dia.(alex)