Hijrahnya Seekor Ulat

Hijrahnya Seekor Ulat

23/04/2021 19:07 0 By Syakir

Pian N Peda, Pelajar mahasiswa IAIN Gorontalo, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam semester 6.

Kata ulat, tentu sudah tidak asing lagi buat kita. Sebab, mungkin hal tersebut pernah kita lihat, atau bahkan sering kita jumpai pada tanaman yang hinggap di dedaunan. Lebih simpelnya para pembaca bisa langsung aja search lewat google seperti apa bentuk dari pada ulat itu.

Ulat terkadang meresahakan, mebuat kita risih dengan keberadaanya, karena punya potensi untuk merusak tanaman, dengan cara memakanan daun-daun dari tumbuhan, sehingga tanaman itu kemungkinan besar tidak bisa tumbuh dengan subur, bahkan bisa mati.

Ulatpun terkadang membuat kita jiji melihatnya apalagi sampai bersentuhan. Ketika sudah mulai merusak tanaman, berbagai cara kita lakukan untuk bagaimana agar bisa mati dan tidak merusak tanaman lagi, diantaranya kita lakukan dengan penyemprotan racun sehingga ulat-ulat itu bisa mati.

Meskipun dengan begitu. Namun, ada pelajaran besar yang perlu kita ambil dari kehidupan ulat ini. Yaitu tentang “hijrahnya.” Karena yang tadinya sebagai ulat, yang meresahkan, menjijikan, kini beruban menjadi sebuah kepompong dan menjadi kupu-kupu yang indah dan cantik, dan bisa menghiasi taman-taman bunga pada pagi dan sore hari. Bahkan bentuknya pun dijadikan sebagai kerajinan tangan, tata rias.

Nah, sekarang. Bagaimana dengan kita, mahluk yang diberikan kelebihan lebih, dari seekor ulat tadi? Hm…
Mungkin kita juga sama, seperti ulat pada awalnya, yang suka membuat keonaran dimana-mana, suka meresahkan orang terdekat, teman, keluarga, merusak lingkungan, atau bahkan ada ucapan kita yang kurang baik sehingga bisa menyinggung perasaan orang lain. Jika seandainya itu terjadi, maka perlu kita untuk berbenah diri, muhasabah, atas apa yang telah kita perbuat.

Tidak ada alasan buat kita untuk tidak bisa menjadi lebih baik. Selama masih ada waktu untuk berubah, maka manfaatkanlah sisa waktu yang ada, tebarkan kebaikan, dan berbenah Jika seandainya ulat saja bisa berubah lebih baik, masa kita yang dibekali akal sehat, dengan segala kesempurnaan tidak bisa menjadi lebih baik?

Lantas mau sampai kapan kita tidak bisa memberikan kebermanfaatan buat sesama?

Sampai kapan kita akan terus melakukan hal yang sia-sia, bisa merugikan orang banyak bahkan diri sendiri?

Sekali lagi, selama kita masi diberi kesempatan untuk bisa melihat dunia, bisa beraktivitas sebagaimana biasanya. Maka manfaatkanlah waktu yang ada, dan lakukanlah hal-hal yang baik sebelum kita kembali kepada-Nya.

“La tahzan innallaha ma’anna”