HSO dan Merdu “Musik Bangsawan” di Tanah Serambi Madinah

HSO dan Merdu “Musik Bangsawan” di Tanah Serambi Madinah

07/12/2019 10:43 0 By Syakir

Penampilan Hulondalo String Orchestra di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Gorontalo, (3/12/2019).

Hulondalo.id – Berat namun syahdu. Tinggi namun merdu. Mewah namun menawan. Mungkin begitulah penampilan Hulondalo String Orchestra (HSO) saat tampil pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) di Gorontalo yang digelar baru-baru ini.

HSO sukses mencuri perhatian. Mereka menghipnotis tamu undangan saat berkolaborasi dengan para performer di atas panggung lewat single newyork newyork, the prayer, hingga time to say goodbye yang tersohor punya Andrea Bocelli dan Sarah Brightman.

Namun siapa sangka, di tengah kekaguman khalayak akan musik-musik moderen, HSO berusaha sekuat tenaga eksis menjadi pencetus “musik bangsawan” itu di tengah gempuran musik modern dan selera masyarakat Gorontalo pada umumnya. Mereka tertantang ingin memberi warna baru bermusik di daerah berjuluk Serambi Madinah ini.

“Ketika ada tawaran manggung, kami harus pintar-pintar membagi waktu dengan pekerjaan dan saat latihan. Kami berusaha agar Hulondalo String Orchestra tetap eksis dan ingin mengatakan kepada masyarakat Gorontalo bahwa musik orkestra itu sangat menawan,” ujar pimpinan HSO, Vita Alfanikma kepada Hulondalo.id.

Foto bersama personil HOS sebelum tampil

Maklum, beberapa personel HSO yang rata-rata alumnus Univeritas Negeri Gorontalo (UNG) itu, kini telah disibukkan dengan rentetan rutinitas mereka masing-masing. Ada yang berprofesi sebagai guru, karyawan swasta, PNS, mahasiswa dan macam-macam lagi.

Para personel yang kini beranggotakan sekitar 30 orang ini benar-benar harus istiqomah, pun sembari mencoba merekrut calon anggota baru. Walau itu tidak semudah menggaet bintang vokalia atau membentuk semacam grup band.

Pertama, mereka harus pahamkan dulu apa itu orkestra. Kemudian, bagaimana cara memegang biola, membaca partitur sampai dipimpin seorang dirigen atau kondutor. Tidak hanya sampai di situ. Alih-alih punya sponsor tetap, para personel masih berbekal alat musik milik mereka masing-masing.

Pakai modal sendiri, beli biola sendiri, saxophone punya sendiri, termasuk alat-alat perkusi juga. Tapi tak apalah, justru itulah yang menjadi kelebihan HSO. Ketika tampil, semua seakan terbayar lunas. Aplaus khalayak memompa semangat mereka.

Aransemen Baru “Hulondalo Lipuu” Warisan Almarhum

Adalah Nugrah Pilongo, yang menginsiasi berdirinya Hulondalo String Orchestra (HSO) sekitar 5 tahun silam. Grup orkestra pertama di Gorontalo ini sekarang anggotanya berjumlah sekitar 30 orang.

Nugrah sendiri sejatinya seorang dosen sendratasik Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Dia mengumpulkan mahasiswanya untuk membentuk sebuah grup orkestra. Karena ini orkestra, otomatis personelnya tidak sedikit.
Mereka kemudian berlatih di sela-sela waktu perkuliahan.

Semua personil memulainya dari nol, dibantu diarahkan oleh sang dosen. Awalnya, semua personil adalah mahasiswa jurusan seni, namun belakangan mulai bertambah dari jurusan dan fakultas lain.
Setelah cukup lama berlatih, HSO mulai percaya diri. Sejumlah panggilan manggung luar kampus mulai diladeni. Bahkan, mereka sukses mengiringi musisi tanah air sekelas Judika dan Citra Scholastika.

Almarhum Nugra P Pilongo semasa hidup, saat latihan  bersama Judika. (Foto istimewa)

Pada Juli 2018 silam, awan duka menyelimuti HSO. Nugrah Pilongo sang pendiri tutup usia. Ibarat kehilangan sosok ayah, para personil HSO begitu terpukul. Yang lebih membuat sedih almarhum belum sempat melihat proyek aransemen ulang lagu “Hulondalo Lipuu” dirilis ke publik.

Perlahan para personil HSO kembali bangkit. Selain ingin terus bermain musik, mereka juga ingin mewujudkan cita-cita Almarhum yang ingin aransemen ulang lagu “Hulondalo lipuu” bisa dirilis, sebagai salah satu karya terakhirnya bersama HSO.

“Sekarang masih proses video klip, Insya Allah tahun depan akan launching video klip Hulondalo Lipuu, yang sudah diaransemen ulang almarhum,” ujar Vita Alfanikma.

Memastikan HSO tetap eksis, Vita dan rekan-rekannya terus berkarya. Walau pun kini disibukkan dengan pekerjaan masing masing, para personil HSO tetap meluangkan waktu untuk latihan hingga memenuhi undangan manggung.

Proses rekrutmen dan regerasi personil terus dilakukan. Tak terbatas kepada mahasiswa, para pelajar atau siapa pun bisa bergabung dengan HSO. Syaratnya pun hanya satu; yang penting punya alat musik sendiri.(Alex/zk)