Jaga Identitas Daerah, Siswa SMA/SMK di Gorontalo Belajar Membuat Pagar Adat

Jaga Identitas Daerah, Siswa SMA/SMK di Gorontalo Belajar Membuat Pagar Adat

17/06/2021 11:41 0 By Maman

Siswa SMA SMK Pagar Adat Jalamba

Siswa SMA/SMK se Provinsi Gorontalo saat belajar membuat Pagar Adat atau Jalamba. (foto:inkri)

Hulondalo.id – Menjaga identitas daerah Gorontalo, siswa SMA/SMK di Gorontalo belajar bersama membuat pagar adat atau jalamba, Kamis (17/6/2021).

Pagar adat lebih dikenal masyarakat Gorontalo sebagai konstruksi yang digunakan pada upacara adat misalnya, pernikahan, kedukaan, pengangkatan pejabat, penyambutan tamu, penobatan, molo’opu, dan lain-lain.

Pemateri Mohamad Ichsan, S.Pd mengatakan, terdapat beragam bentuk jalamba. Tiap bentuk kata dia, memiliki pengkhususan pengguna berdasarkan golongan masyarakat serta tata cara penggunaannya.

Bentuk jalamba juga kata dia, mendapatkan pengaruh dari kebudayaan asing yang masuk di wilayah Gorontalo.

“Hilangnya sistem strata sosial dalam masyarakat, diperkirakan menjadi penyebab hilangnya penggunaan beberapa ragam jalamba yang dijelaskan Daulima,” jelasnya.

Bentuk jalamba yang saat ini lebih populer digunakan adalah jalamba mohimato lo unggu dan jalamba pobiya. Keduanya kata Mohamad, merupakan penanda identitas daerah, khususnya wilayah adat Hulontalo dan wilayah adat Limutu.

“Kedua bentuk jalamba ini telah menjadi dua pilihan utama bagi penduduk daerah Gorontalo, dalam memasang ornamen pada upacara adat yang diselenggarakan,” ungkapnya.

“Makna keduanya adalah terbuka, sehingga sesuai dengan cara penggunaannya dalam menerima tamu yang datang pada upacara tersebut. Kedua jalamba ini juga telah, sedang, dan akan terus digunakan sebagai bagian dari budaya Gorontalo sehingga menjadi ciri identitas daerah Gorontalo,” sambung Mohamad.

Mohamad juga menjelaskan, simbol adat (Tonulahu Lo Adati) daerah Gorontalo ada beberapa yang harus diketahui diantaranya, Pinang (Luhuto), Janur (Lale), Mulut Buaya (Ngango Lo Huayo), Tangga Adat (Tolituhu), tempat sidang adat (Bulita), arkus (pakadanga), pagar adat (jalamba), payung adat (Toyungo Bilalango), pomama, tapahula, apukehe, polutube, buah pinang, buah Gambir, tembakau, sirih, lemon, nenas, tebu, nangka, tunas kelapa.

Jalamba menggunakan bahan arkus (pakadanga). Bahan yang digunakan sebagai tempat para pembesar negeri atau tiga serangkai adat (Buwatulo Towulongo) yang terdiri dari, Buwatulo Bubato, Buwatulo Syara’a, Buwatulo Bala.

Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan jalamba ini, kata Mohammad Ichsan, bambu kuning, tali, paku dan alatnya adalah meter, gergaji, parang, pisau, spidol, palu.

Cara membuat Jalamba juga disampaikan Mohamad kepada para siswa yakni, pengukuran bambu kuning, memberikan tanda pada bambu yang telah diukur, memotong bambu dengan gergaji, pengukuran lubang sebagai tempat belahan bambu minimal 30 cm, membuat logam sebagai tempat bila, pemasangan bila setelah payung adat, dan membuat bulita/tempat sidang adat yang menggunakan tali sebagai pengikat. (Inkri/Adv)