Kebijakan Pemerintah Atasi Covid Diibaratkan Mengisi Ember Bocor, Ekonom Sarankan Ini Buat Daerah

Kebijakan Pemerintah Atasi Covid Diibaratkan Mengisi Ember Bocor, Ekonom Sarankan Ini Buat Daerah

20/10/2020 20:15 0 By Alex

Didik J Rachbini

Didik Junaidi Rachbini. (f. dok liputan6.com)

Hulondalo.id – Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik Junaidi Rachbini menilai bahwa kebijakan pemerintah mengatasi Covid-19 yang mengutamakan pengendalian dampak ekonomi dari pada sektor kesehatan diibaratkan hanya mengisi ember bocor.

Dia menilai pemerintah telah gagal meskipun sudah mengucurkan Rp 600 Triliun lebih anggaran untuk pemulihan ekonomi untuk mengatasi pandemi. Seharusnya, pemerintah harus lebih terfokus pada sektor kesehatan dari pada ekonomi.

“Kita lihat saja gambaran Covid setelah 7 bulan ini, sejak Maret sampai hari ini tidak turun-turun. Kasus terkonfirmasi lebih dari 4.000 kasus per hari. Sementara di negara tetangga, lihat saja se-ASEAN, mereka relatif bisa mengatasi. Padahal di negara-negara itu belum ada vaksin juga,” tegas Didik pada Webinar Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Selasa (20/10/2020).

“Jadi, selama ini tidak diberesin, ada apa dengan data ini? Saya katakan belum berhasil. Saya katakan gagal. Kalau gagal apa? Metaforanya ember bocor! Meskipun dikucurkan Rp 4 Triliun di Gorontalo seperti pak Wagub bilang tadi, atau Rp 600 Triliun tadi, dan ini (kasus Covid terkonfirmasi) belum turun-turun, maka pasar modal sosial, kegiatan ekonomi dan seterusnya tidak akan jalan,” sambung alumnus IPB itu.

Didik menilai, pemerintah ragu-ragu mengatasi Covid-19. Namun, pemerintah saat ini hanya terfokus pada masalah ekonomi daripada sektor kesehatan.

“Pemerintah sangat dipengaruhi ekonomi, watak kesehatannya itu kurang. Ahli di ujung tombak juga kurang. Contohnya vaksin, harusnya yang ini dulu (kasus Covid terkonfirmasi) diselesaikan. Negara lain belum ada vaksin, tapi bisa (kasus Covid) dikendalikan betul-betul,” kata Didik.

Didik juga mempertanyakan narasi soal pertumbuhan ekonomi Nasional yang terpukul karena Covid-19. Dia bilang, pertumbuhan ekonomi sebelum Covid yang tidak memiliki tantangan berat sudah turun sejak Tahun 2010, apalagi setelah ada tantangan pandemi Covid-19?

“Gak ada tantangan berat saja kita sudah turun, bagaimana setelah ada tantangan berat ini (Covid-19), bisa beres atau tidak? Saya tidak percaya. Jadi, beresin dulu mesinnya, yaitu pemerintah,” tegas Didik.

Dalam webinar tersebut, Didik pun menyarankan kepada daerah-daerah agar sudah saatnya untuk menumbuhkan dan memaksimalkan kekuatan diri sendiri, dan tentu dengan mengandalkan bantuan dan stimulus dari pemerintah pusat.

“Saran saya kepada Pak Wagub, Pak Sekda (Provinsi Gorontalo), daerah-daerah itu tidak ada jalan selain harus memperkuat diri sendiri. Itu filosofi keadaan. Ibarat ada badai, kita harus bertahan, kalau tidak mati udah,” tandas dia.

kajian ekonomi dan regional gorontalo

Sebelumnya, pada Webinar Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional turut dibuka oleh Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara, Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto.

Pun yang menjadi narasumber di antaranya Direktur Sistem Manajemen Investasi Kemenkeu Ludiro, Akademisi UI Fithra Hastiadi, Sekda Provinsi Gorontalo Darda Daraba dengan moderator Ketua ISEI Gorontalo, Hais Dama.(Alex)