Kelola Dana Desa dengan Inovasi, Bulangita Jadi Tempat Studi Tiru

Kelola Dana Desa dengan Inovasi, Bulangita Jadi Tempat Studi Tiru

22/09/2019 17:25 0 By Yadin

Kunjungan studi tiru Pemkec Suwawa Tengah ke Desa Bulangita

Hulondalo.id – Langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato patut untuk diapresiasi. Inovasi yang dilakukan oleh kades bersama aparatnya dalam mengelola keuangan desa untuk kemaslahatan masyarakat menjadikan desa setempat sebagai rujukan studi tiru dari Pemerintah Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango.

Rombongan Pemkec Suwawa Tengah datang berkunjung ke Desa Bulangita, Jumat (20/9/2019) yang diterima oleh Sekretaris Dinas PMD Pohuwato, Alfred Anwar, Camat Marisa, Muzna Giasi bersama Kades Bulangita, Rikon Manumbi.

Camat Suwawa Tengah, Ramlan Adam mengatakan, studi tiru dari tim pelaksana program inovasi desa Kecamatan Suwawa Tengah ke Desa Bulangita karena terobosan dan inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Bulangita yakni memanfaatkan dana desa untuk penanganan stunting.

“Artinya penanganan stunting ini bukan langsung bagaimana menanganinya. Tapi, melalui bagaimana memberdayakan dana desa itu dengan melakukan atau melaksanakan program untuk stunting, pendidikan sampai memberdayakan pengemudi bentor. Program ini sangat baik, biasanya hanya yang rutinitas dianggarkan dan tidak ada inovasi. Kalau di Bulangita ini adalah inovasi atau terobosan baru dalam penanganan stunting dengan memberdayakan abang bentor dan juga membantu masyarakat tertangani kesehatan dan pendidikannya,” ungkap Ramlan Adam.

Sementara itu Camat Marisa, Muzna Giasi juga mengakui desa di ujung utara Kecamatan Marisa ini telah banyak menunjukkan inovasi baru yang dinilai sangat membantu masyarakat. Program ini diharapkan dapat dijalankan terus karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Kades Bulangita, Rikon Manumbi ikut menambahkan, program transportasi pendidikan dan penanganan stunting sudah dibuatkan perdesnya.

“Kami telah kerjasama dengan abang bentor untuk mengantar anak-anak SMA dan SMK ke sekolah setiap harinya dan akan dibayar oleh pemerintah desa ongkos antar jemput. Demikian juga dengan ibu-ibu hamil ketika mau ke puskesmas dan RSUD Bumi Panua akan dilayani oleh 4 buah bentor tersebut. Salah satu letak dari stuntingnya, semisal ketika ibu hamil tidak tertangani persoalan transport ada kemungkinan akan terjadi kegagalan melakukan persalinan, terkadang orang memaksakan diri untuk melakukan persalinan di rumah dikarenakan tidak dibantu oleh ahli-ahli dari kesehatan, dan keinginan yang tidak terpenuhi bisa berpengaruh pula terhadap stunting,” jelas Rikon. (adv/yadin)