Kenapa Ramai Aksi Bunuh Diri di Gorontalo? Simak Baik-baik Penelitian Kemenkes Ini

04/06/2019 04:00 0 By Alex

Hulondalo.id – Bisa jadi, Ramadhan 1440 Hijriah/2019 menjadi moment yang tak akan dilupakan begitu saja oleh masyarakat Gorontalo. Ini setidaknya karena masyarakat Gorontalo dikejutkan dengan 3 kali aksi bunuh diri.

Yang pertama terjadi di Kelurahan Tuladenggi, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo pada (30/5/2019). Korbannya bernama Adrian Bone.

Yang kedua terjadi di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Jumat (31/5/2019). Di situ, korbannya bernama Rahmudin Rahman.

Sementara yang terbaru, terjadi di Desa Iloponu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Senin (3/6/2019), sekitar pukul 07.00 Wita. Korbannya bernama Ahmad Ana alias Dedi.

Padahal ini adalah bulan Ramadhan. Bulan istimewa dimana seorang hamba berlomba-lomba meningkatkan ibadah, menambah keimanan, amalan dilipatgandakan dan masih banyak keutamaan lainnya. Lantas dimana kekurangannya dan apa yang menjadi penyebabnya?

Seorang psikolog asal Gorontalo, Temmy Habibie juga mengaku sangat menyesal ada kasus bunuh diri di tengah-tengah bulan penuh ampunan ini. Menurutnya, umumnya kasus bunuh diri memang sangat terkait dengan mental.

“Banyak orang berpikir jika imannya baik, maka baik pula mentalnya. Karena iman itu hanya membantu me-maintenance,” ujar Temmy.

Dikatakan Temmy pula, perkara orang bunuh diri biasanya disebabkan, antara lain akibat depresi dan penyalahgunaan zat yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan-tindakan konyol.

Faktor depresi, kata Temmy, menurut World Health Organization (WHO) merupakan faktor pembunuh tertinggi di dunia. Berdasarkan survei yang dilakukan WHO dari tahun 2017, sebanyak 800.000 orang meninggal karena depresi di seluruh dunia.

Nah, soal depresi dan turunannya, bagaimana dengan yang terjadi di Gorontalo?

Seperti dikutip dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Tahun 2018, bahwa prevalensi depresi pada penduduk umur lebih dari 15 Tahun di Indonesia mencapai angka 6,1% penderita dari sekitar 230 Juta penduduk.

Dari angka 6,1% itu, hanya 9% penderita saja yang meminum obat atau menjalani perawatan medis. Sisanya, 91% tidak berobat sama sekali.

Nah, jika dibagi menurut skala provinsi, Sulawesi Tengah (Sulteng) berada pada peringkat tertinggi dengan presentase mencapai 12,3%. Kemudian disusul Provinsi Gorontalo di peringkat kedua dengan 10%, dilanjutkan NTT di peringkat ketiga, sekitar 9%.

Survei prevalensi depresi oleh Kemenkes RI tersebut juga didasarkan pada wawancara dengan Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI).

Masih merujuk data Riskesdas tadi, untuk prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk umur lebih dari 15 Tahun di Indonesia mencapai 9,8%. Itu berdasarkan pula dari hasil wawancara dengan Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), Nilai Batas Pisah (Cut off Point)  ≥6.

Jika dirangking menurut provinsi, Sulteng masih menjadi yang tertinggi dengan presentase sebesar 19,8%, disusul Provinsi Gorontalo sekitar 18%, kemudian NTT sekitar 16%.

“Depresi itu biasanya terjadi pada orang-orang yang depresi dengan keadaan, kemudian dia tidak memiliki copying stress atau cara menangani stress dengan benar sehingga mengakibatkan adanya perasaan tidak berdaya, merasa sendirian, kesepian,” tambah Temmy Habibie.

Alumnus Universitas Negeri Makassar (UNM) 2010 ini pun mengungkapkan ciri-ciri orang yang mengalami depresi;

  1. Seseorang yang mengalami depresi biasanya akan mulai menarik diri dari lingkungan sosial.
  2. Setelah menarik diri, seseorang yang mengalami depresi biasanya akan mulai berpikir untuk bunuh diri, adakalanya diawali dengan pikiran mengkonsumsi obat obatan tertentu, ataupun melukai diri sendiri.

Orang yang mengalami depresi biasanya hormon dopamine-nya kurang terproduksi dengan baik, sehingga menyebabkan adanya perasaan kurang bahagia, dipenuhi dengan rasa cemas, khawatir.

Nah, sahabat Hulondalo.id, jika menemui hal tersebut terjadi pada orang-orang di sekitar kita, maka harus dekati. Mulailah membuka ruang komunikasi dengannya.

Pada kesempatan itu pula, Temmy juga menyampaikan bagi yang ingin berkonsultasi terkait depresi, khusus para remaja, dapat menghubungi pihak Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kabupaten Gorontalo.

Puspaga ini diinisiasi oleh Ketua TP PKK Kabupaten Gorontalo, Dr. Fory Nawai M.Pd. sebagai wujud kepedulian terhadap anak-anak dan remaja yang mengalami depresi dan berbagai masalah mental lainnya.(Ika/Alex)