Kisah Idris Nteseo, Eksportir Gorontalo yang Enggan PHK Karyawan Meski Dihimpit Pandemi

Kisah Idris Nteseo, Eksportir Gorontalo yang Enggan PHK Karyawan Meski Dihimpit Pandemi

25/02/2021 16:22 0 By Alex

Eksportir Ikan Gorontalo

Idris Nteseo (baju putih) saat mengawasi karyawannya memproses ikan tuna yang akan diekspor ke beberapa negara. (F. Idris)

Hulondalo.id – Pandemi Covid-19 yang menghantam dunia membuat sektor perekonomian babak belur. Hal itu juga turut dirasakan oleh eksportir ikan asal Gorontalo, CV Camar Laut yang dipimpin Idris Nteseo.

Meski begitu, lelaki asli Gorontalo yang tak tamat SMP itu tak mau melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) kepada karyawannya meski situasi sedang serba sulit.

Asal tahu saja, saat ini Idris memiliki sedikitnya 45 karyawan yang bertugas di pabrik fresh and frozen CV Camar Laut yang berlokasi di Kelurahan Talumolo, Kota Gorontalo.

“Ini efek Covid-19, permintaan dari negara tujuan turun drastis. Karena negara tersebut melakukan lockdown,” kata Idris yang diwawancarai Hulondalo.id di kediamannya, Kamis (25/2/2021).

Sebelumnya, CV Camar Laut Gorontalo bisa mengekspor ikan beku mencapai 20-30 Ton per bulannya. Tujuan ekspornya meliputi Jepang, Perancis, Malaysia, Singapura hingga Hongkong. Jenis ikan yang diekspor pun di antaranya ikan tuna dan ikan nike (duwo).

Namun sejak ada pandemi Covid-19, ekspor ikan CV Camar Laut turun menjadi 4-5 Ton saja di Singapura dan Jepang untuk ikan Tuna.

Sedangkan Perancis yang menjadi langganan tetap ikan nike pun tidak lagi melakukan pemesanan. Bahkan, Malaysia dan Hongkong, kata Idris, sudah berhenti total.

“Jadi karena ada pandemi, total ada 48 Ton ikan beku yang belum keluar sudah 6-7 bulan ini dan masih tersimpan rapi di pabrik karena tidak ada permintaan,” ujar warga Desa Ilotidea, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo itu.

Idris biasanya mengekspor ikan beku via kapal dan ikan segar melalui pesawat. Olehnya, dia pun berharap agar pemerintah dan pemangku kebijakan bisa memberikan perhatian, terutama biaya kargo pesawat yang telah naik terlalu tinggi jika dibandingkan 2 tahun silam.

“Ke Singapura saya sudah meminta penurunan harga pengiriman, namun tak pernah diindahkan pihak kargo demi perekonomian Provinsi Gorontalo. Semoga ini mendapat perhatian dan kami sangat berharap agar Covid-19 semoga cepat berakhir,” tandas dia.(Mg01)