Kisah Inspiratif Seorang Polisi di Gorontalo yang Ubah Tempat Maksiat Jadi Masjid

Kisah Inspiratif Seorang Polisi di Gorontalo yang Ubah Tempat Maksiat Jadi Masjid

12/07/2020 15:21 0 By Alex
Polisi Ubah Tempat Maksiat Jadi masjid

Masjid bambu An Nur di Desa Pangadaa, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo. (F. Istimewa)

Hulondalo.id – Pernahkah anda melihat sebuah masjid bambu nan indah di jalan utama Desa Pangadaa, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo? Ternyata pembangunan masjid bambu diinisiasi oleh seorang anggota polisi yang bertugas di Polsek Bongomeme, Polres Gorontalo.

Namun siapa yang menyangka bahwa masjid bambu An Nur itu ternyata merupakan lokasi bekas tempat maksiat? Ya, lokasi itu dulunya berjejer kafe remang-remang yang kerap menjadi tempat akvitas penyakit masyarakat di desa itu.

Namun oleh Bripka Suparno Hamza, dia tidak hanya berhasil menekan aktivitas penyakit masyarakat di lokasi itu. Yang luar biasanya lagi, warga yang dulunya senang bermaksiat kini menjadi jamaah masjid bambu yang kini kerap penuh sesak itu.

“Saya juga beberapa kali menemukan pakaian dalam wanita di tempat ini,” aku Bripka Suparno Hamza, Ahad (12/7/2020).

“Jadi dulu di lokasi masjid ini banyak kafe-kafe. Biasa di sini jadi tempat mangkal warga, termasuk anak-anak muda untuk pesta miras. Jadi tempat judi juga, karaoke dan tempat esek-esek,” kenang Kanit Binmas Polsek Bongomeme itu.

Awalnya, Suparno memang ingin membeli sebidang tanah untuk membangun rumah. Tanah tersebut kebetulan sangat dekat di lokasi kafe remang-remang itu.

Namun belum juga rumah itu ditinggali, Suparno bersama keluarga pun resah dengan aktivitas penyakit masyarakat yang berseliweran di depan rumahnya setiap hari.

Di situlah muncul niatnya untuk membangun sebuah tempat ibadah. Kebetulan tepat di depan rumahnya, ada sebuah tanah kosong milik pemerintah setempat.

Polisi Ubah Tempat Maksiat Jadi masjid

Bripka Suparno Hamza saat mengajarkan anak-anak mengaji di Masjid bambu An Nur, Desa Pangadaa, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo. (F. Istimewa)

“Jadi tanah itu adalah tanah pemerintah yang tidak dimanfaatkan. Kemudian saya minta izin ke pemerintah dan DPRD untuk membangun masjid karena setiap hari saya lihat orang-orang mabuk (miras),” kata Suparno.

Setelah mendapat izin istri, Suparno akhirnya menyisihkan sebagian gajinya sebagai anggota Polri untuk membeli bahan-bahan untuk membangun masjid.

Mantan Anggota Brimob Kepala Dua, Depok itu memanfaatkan kegiatan Jumat Barokah (sedekah Jumat) dan media sosial untuk memperoleh uluran tangan dari para donatur.

Rupanya, perjuangan Suparno membangun masjid itu pula lambat laun mendapat dukungan dari warga setempat, termasuk simpati dari anak-anak muda tadi yang dulunya doyan pesta miras. Pun mereka bahu-membahu membangun masjid bambu itu.

Sekitar bulan Desember 2019, masjid bambu An Nur pun selesai dibangun, lengkap dengan gazebo bambu yang difungsikan sebagai Taman Pengajian Alquran (TPA).

Polisi Ubah Tempat Maksiat Jadi masjid

Bripka Suparno Hamza di gazebo yang difungsikan sebagai taman bacaan dan TPA di Masjid bambu An Nur.(F. Istimewa)

Tidak hanya sekedar membangun, sampai hari ini Suparno bahkan sering mengimami para jamaah dan menjadi guru ngaji di TPA tersebut.

Niat dan usahanya yang mulia itu pun berbuah manis. Setelah 8 bulan ini, sejumlah warga yang dulunya tidak bisa membaca Alquran malah kini sudah menjadi imam sholat 5 waktu di masjid bambu itu.

Satu per satu kafe remang-remang pun angkat kaki dari lokasi itu. Kini hanya ada beberapa warung kopi (warkop) yang beroperasi di sekitar masjid.

“Jadi anak-anak muda di sini sekarang (sebelum pandemi Covi-19) ada yang nongkrong main game sampai pagi di warkop (depan mesjid). Begitu tiba sholat subuh, mereka datang berjamaah di masjid ini,” tandasnya.

Perjuangan Bripka Suparno Hamza tidak sia-sia. Dia berhasil mengubah kebiasaan hedon warga sekitar, terutama para anak muda menjadi lebih baik dan religius. Patut menjadi teladan, Salut!(Alex)