Lagi Ngirit Ya? Ternyata Banyak Orang Gorontalo Simpan Uang di Bank Gegara Corona

Lagi Ngirit Ya? Ternyata Banyak Orang Gorontalo Simpan Uang di Bank Gegara Corona

28/09/2020 16:46 0 By Alex

ilustrasi menabung (ilus cermati.com)

Hulondalo.id – Pandemi Covid-19 membuat perekonomian sesak. Pada kuartal II Tahun 2020, perekonomian Nasional terkontraksi -5,32% (year on year/yoy).

Tak jauh beda dengan fenomena yang terjadi di Gorontalo, yang ikut terkontraksi -0,27% (yoy). Salah satunya pemicu utama adalah sektor konsumsi rumah tangga tersendat, yang terkontraksi -3,90%. Artinya kurang lebih, warga Gorontalo enggan berbelanja, atau tak punya uang belanja. Itu juga sejalan dengan pemberlakuan PSBB.

Namun itu rupanya tidak melulu menunjukkan warga Gorontalo berkurang pendapatannya. Bisa jadi, duit mereka malah banyak yang disimpan atau tersimpan, atau bahkan diinvestasikan.

Mengutip Kajian Ekonomi Regional (KEKR) Bank Indonesia (BI), Covid-19 yang masih berlanjut hingga kuartal II 2020 meningkatkan ketidakpastian global yang berdampak pada menurunnya keyakinan konsumen pada sektor rill di Gorontalo.

Ketidakpastian global yang berlanjut itu berdampak pada peningkatan preferensi masyarakat Gorontalo untuk menyimpan hartanya ke perbankan sehingga mendorong peningkatan DPK pada kuartal II 2020.

Ya, pada kuartal II 2020 Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Gorontalo tumbuh 7,46% (yoy), jika dibandingkan dengan DPK kuartal I 2020 yang hanya tumbuh 1,23% (yoy).

Kalau dinominalkan, DPK yang terbagi dalam bentuk tabungan, giro dan deposito itu nilainya mencapai Rp 5,97 Triliun. Atau meningkat kisaran Rp 794 Miliar jika dibandingkan posisi kuartal I 2020 sebesar Rp 5,17 Triliun.

DPK itu jika dibagi, pertumbuhannya didorong oleh tabungan masyarakat Gorontalo yang tumbuh 10,78% (yoy) atau senilai Rp 3,31 Triliun. DPK jenis tabungan ini, Rp 3,07 Triliunnya itu adalah tabungan perseorangan. Tabungan perseorangan ini tumbuh 7,19% (yoy).

BI juga menyebut, indikasi warga Gorontalo yang memilih menyimpan hartanya di bank juga terkonfirmasi pada indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama.

Pada Survei Konsumen BI pada kuartal II 2020 menyebut, Gorontalo telah memasuki level pesimis sebesar 54,17 poin, turun signifikan jika dibandingkan kuartal I 2020 yang masih berada di level optimis sebesar 114,17 poin.

“Penurunan indeks konsumsi itu menuju ke level pesimis, mengindikasikan bahwa masyarakat Gorontalo masih enggan untuk membelanjakan hartanya dan memiliki preferensi untuk menabung yang lebih tinggi,” tulis BI, dikutip Hulondalo.id, Senin (28/9/2020).(alex)