Lahirnya Muhammadiyah Gorontalo: Imbas Politik Etis Kolonial

18/11/2019 11:59 0 By Alex

Pada tanggal 18 November 1928, tepat hari ini 91 Tahun yang lalu, organisasi Muhammadiyah di wilayah Gorontalo terbentuk. Pembentukan organisasi Muhammadiyah Gorontalo diresmikan langsung oleh Sekretaris Hoofdbestuur atau Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohamad Junus Anis.

Ibrahim Polontalo, dalam “Nilai Sejarah Perjuangan Enam Puluh Tahun Muhammadiyah Di Gorontalo dan Penerapannya Dalam Kehidupan Berorganisasi Dewasa Ini” (1989:5) menyebut, komite pendiri Muhammadiyah di Gorontalo kemudian terbentuk pada pertengahan tahun 1929. Mereka beranggotakan 11 orang masing-masing Jusuf Otoluwa, Ahmad Buji, Husasi Akase, Umar Basalama, Muhammad Dunggio, Muhsin Mohammad, Haji Muhammad Said, Tom OliI (atau Tom Olii), Utina H Buluati, Abdulah Van Grey dan Baowe Nasru.

Setelah itu, melalui rapat bersama antara komite pendiri, pengurus Tablighul Islam dan sejumlah simpatisan lainnya, pengurus cabang Muhammadiyah Gorontalo resmi terbentuk pada tanggal 8 September 1929 yang digelar di gedung Fortuna Bioskop (sekarang Bioskop kompleks Murni, Kota Gorontalo). Organisasi ini disebut juga Bestuur Cabang Muhammadiyah Gorontalo. Saat itu, bestuur cabang yang dilantik adalah Tom OliI sebagai ketua, Jusuf Otoluwa sebagai Wakil Ketua, Mohamad Dunggio sebagai sekretaris, Muhsin Mohamad sebagai bendahara, dan komisaris masing-masing Haji Yusuf Abas, Umar Basalama, Husain Akase, Mursyid Mohi, Y Kamaru dan Marl Baladra.

Setahun kemudian, 1930, Muhammadiyah mendirikan Aisyiyah Cabang Gorontalo, bagian organisasi bagi kaum perempuan Muhammadiyah. Pengurusnya masing-masing Marie Lamadilaw sebagai Ketua, Marie Dambea sebagai Wakil Ketua, Marie Suleman sebagai Sekretaris, Zubaedah Dungga sebagai bendahara, dan komisaris diantaranya Zenab Saboe, Hadijah Husa, Saripah Baga, Hawa OliI dan Ida Dunda.

 

Masuknya Muhammadiyah di Gorontalo, Utara dan Tengah

Sebelum masuk ke Gorontalo, Muhammadiyah memang sudah berkembang pesat di wilayah Jawa, terutama di Yogjakarta sebagai pusatnya. Muhammadiyah didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, November 1912 di Yogyakarta. Adrian Vickers, melalui Sejarah Indonesia Modern, terbitan Insan Madani (2011:26), perkembangan pendidikan Islam di Gorontalo, seperti masuknya Sarekat Islam dan Muhammadiyah, merupakan buah kebijakan politik etis yang diterapkan pemerintah Kolonial Belanda sejak awal Abad 20. Salah satunya isi kebijakan itu adalah memodernisasi kaum pribumi. Saat itu, akses pendidikan, transportasi dan informasi sudah semakin terbuka. Termasuk jalur transportasi dari pulau Jawa ke Gorontalo; yang ikut mempermudah penyebarluasan organisasi Islam, seperti Sarekat Islam dan Muhammadiyah.

Di tengah perkembangan Muhammadiyah yang kian pesat itulah, Jusuf Otoluwa, seorang putra asal Gorontalo yang kebetulan menimba ilmu pendidikan guru di Kweekshool, Gunung Sari, Yogyakarta, tertarik mendirikan organisasi Muhammadiyah di Gorontalo. Pun setelah tiba di kampung halaman, ternyata sudah ada perkumpulan Islam di Gorontalo mirip organisasi Muhammadiyah. Namanya adalah Tablighul Islam, yang dipimpin Haji Muhammad Said (versi lain menyebut Haji Said Muhammad). Tablighul Islam sendiri merupakan perkumpulan dakwah yang menggali dan mendakwahkan amalan-amalan ajaran Islam sesuai sunnah Rasulullah SAW. Adanya pertemuan pandangan ini, Haji Muhammad Said setuju kongsi bersama Jusuf Otoluwa mendirikan organisasi Muhammadiyah di Gorontalo.

Setelah itu, menurut Joni Apriyanto dan Sri Wahyuni Pinau dalam “Dari Gorontalo Untuk Indonesia: Sejarah Heroik Patriotik 23 Januari 1942” terbitan Ombak (2013:49), perkembangan Muhammadiyah sangat cepat di Gorontalo karena simpati dari masyarakat. Bahkan ikut meluas hingga Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Pada Tahun 1932, Ketua Bestuur Muhammadiyah cabang Gorontalo, Tom OliI membukanya di Amurang dengan status cabang penyiar. Cabang penyiar artinya, menyebarkan Muhammadiyah di wilayah sekitarnya. Cabang Penyiar Muhammadiyah Amurang saat itu dipimpin Salim Bohdin. Saat itu, Amurang menjadi pusat kegiatan Muhammadiyah di Manado dan Minahasa. Oleh Tom OliI pula, grup Muhammadiyah Manado juga dibentuk 2 tahun kemudian dan diketuai oleh seorang pedagang bernama Mohammad Dohmi.

Kegiatan Muhammadiyah yang berorientasi pada aspek sosial kian membesarkan namanya. Mulai dari kegiatan dakwah, pendidikan dan kesehatan, mendapatkan simpati dari masyarakat Gorontalo. Saat itu ada pendidikan Islam, pembangunan mesjid, rumah sakit dan taman-taman pengajian berkembang pesat.

Di bidang pendidikan misalnya, tatkala bertambahnya madrasah, Muhammadiyah mendatangkan guru dari Muhammadiyah Yogyakarta. Sebut saja Abdul Rauf ke Kota Gorontalo Tahun 1931, Sutoharjo ke Kwandang (sekarang Kabupaten Gorontalo Utara) Tahun 1931, Mohammad Dahlan ke Lemito (sekarang Kabupaten Pohuwato) Tahun 1932, Basyir Maksum ke Tilamuta (sekarang Kabupaten Boalemo) Tahun 1932, disusul Raden Himam, Harun Dahlan dan Abdullah Siradji di Gorontalo Tahun 1933.

Di bidang kesehatan, menurut Hasanuddin dan Basri Amin dalam “Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah Masa Kolonial” terbitan Ombak (2012:200-202), Muhammadiyah mendirikan Balai Kesehatan yang berpusat di Kota Gorontalo. Mereka bahkan mendatangkan dokter dari Muhammadiyah Yogyakarta, dr Sunaryo. Di balai itu, Muhammadiyah memenuhi segala kebutuhan kesehatan masyarakat setempat.

Sementara di bidang dakwah, selain harus berhadapan dengan tahayul-tahayul yang masih berkembang di masyarakat Gorontalo, Muhammadiyah juga dihadapkan dengan masifnya penyebaran agama Kristen oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Hasanuddin, dalam Sejarah Pendidikan di Gorontalo terbitan Kepel Press (2012:76), umat Kristen Protestan mendirikan sekolah, salah satunya Christelyke Maesa School, setingkat Sekolah Desa di Kampung Tenda, Kota Gorontalo Tahun 1905. Sekolah itu didirikan oleh HM Makalew dan RMH Modjo, yang didukung penuh Pemerintah Kolonial Belanda.

 

Nani Wartabone dan Tabligh Muhammadiyah

Kesadaran masyarakat Gorontalo akan cengkraman kolonial salah satunya diekspresikan dengan kesadaran berpolitik. Sejak Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung 1927, Nani Wartabone ikut mempelopori berdirinya PNI di Gorontalo. Akibat gerakan dan propagandanya yang bersifat radikal dan mendapat dukungan masyarakat, Pemerintah Hindia Belanda menangkap pimpinan PNI, termasuk Soekarno, atas tuduhan pemberontakan. Tahun 1931, PNI pun bubar, termasuk di Gorontalo. Masih pada tahun yang sama pula, terbentuklah Partai Indonesia (Partindo). Eks anggota PNI di Gorontalo pun mendirikan Partindo di Gorontalo oleh Nani Wartabone bersama kawan-kawannya. Partindo pun tidak bertahan lama. Setelah Soekarno diasingkan ke Flores Tahun 1933 dan Partindo dilarang di Jawa, eksistensi Partindo di Gorontalo dibubarkan.

Nani Wartabone bersama kawan-kawannya pun melanjutkan perjuangannya bersama organisasi Muhammadiyah. Dalam biografi Nani Wartabone yang disusun FKIP Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Gorontalo (1985), Nani Wartabone bersama Imam A Nadjamuddin berinisiatif mendirikan grup Muhammadiyah di Suwawa Tahun 1930. Nani Wartabone pun melakukan dakwah melalui tabligh Muhammadiyah di kampung-kampung. Selain untuk menyampaikan ajaran Islam, Nani Wartabone juga berusaha menanamkan kesadaran berpolitik rakyat untuk bersatu menggapai Indonesia merdeka. Hal ini agar Nani Wartabone tetap dapat berhubungan dengan masyarakat melalui aktivitas pergerakan yang dialihkan melalui tabligh Muhammadiyah. Ini juga dilakukan agar bisa mengurangi kecurigaan pihak Pemerintah Kolonial Belanda karena Muhammadiyah di Gorontalo diangap tidak lebih dari gerakan sosial.

Isman Jusuf, dalam persepsinya Nani Wartabone dan Muhammadiyah yang terbit di Gorontalo Post 23 Januari 2018, masyarakat Gorontalo kala itu sangat suka dengan ceramah Nani Wartabone. Apabila masyarakat tahu bahwa yang memberikan dakwah adalah Nani Wartabone, maka masyarakat akan datang berbondong-bondong untuk menghadiri dan mendengarkan tabligh. Sejak saat itu, aktivitas dakwah Nani Wartabone juga dipantau oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Melalui kakaknya Ayuba Wartabone yang menjabat Wedana Gorontalo, Nani Wartabone berkali-kali diancam akan diasingkan jika tetap bergerak dalam perserikatan. Namun Nani Wartabone tetap konsisten berjuang melalui gerakan Muhammadiyah.

Pada 1932 Nani Wartabone mendirikan sekolah Desa Muhammadiyah di Suwawa. Setahun berikutnya, didirikan pula koperasi Muhammadiyah di Gorontalo. Nani Wartabone juga tidak dapat dipisahkan dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta cabang Gorontalo dan Universitas Islam Gorontalo (UIG), yang menjadi cikal bakal IAIN Sultan Amai sekarang. Menurut Isman, 2 universitas ini merupakan perguruan tinggi swasta pertama di Gorontalo pada era tahun 1960-an dan Nani Wartabone sempat menjadi ketua badan wakaf UIG.

Gerakan organisasi Muhammadiyah memang tidak lepas dari sejarah, termasuk di kiprahnya Gorontalo. Karena arah gerak Muhammadiyah adalah perubahan Islam secara modern.(Alex)