Mahalnya Merujuk Pasien Berobat ke Luar Gorontalo

Mahalnya Merujuk Pasien Berobat ke Luar Gorontalo

14/08/2019 07:53 0 By Syakir

Tim dokter RS. Hasri Ainun Habibie sedang melakukan Operasi kepada Pasien Katarak.

Hulondalo.id – Tingginya biaya yang harus dikeluarkan saat berobat keluar daerah, membuat banyak warga hanya bisa pasrah. Lihat saja, Pemprov Gorontalo harus mengeluarkan biaya hingga Rp 39 juta per lima hari untuk pasien dengan dua pendamping. Angka itu belum ditambah dengan tiket pergi pulang. Ini pun menjadi alasan, kenapa Provinsi Gorontalo membutuhkan RS dr. Hasri Ainun Habibie sebagai rumah sakit rujukan.

Besarnya biaya itu, diakui Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Misranda Nalole. Dipaparkannya, untuk tahun 2019 dianggarkan Rp 1,25 milyar untuk biaya rujuk luar daerah 20 orang pasien. Dengan rincian pembiayaan, tiket pergi pulang, akomodasi hingga konsumsi di rumah singgah.

Namun, baru pertengahan tahun sudah 23 orang pasien yang harus dirujuk. Biaya untuk lima hari saja di Jakarta, Pemprov Gorontalo harus mengeluarkan biaya sampai Rp 39 juta itupun belum termasuk biaya pergi pulang. Bayangkan jika pasien harus berada di luar daerah lewat dari lima hari.

“Untuk wilayah Makassar Rp 24juta/lima hari serta Manado Rp 15juta/5 hari. Dan sesuai ketentuan, kita membiayai paling lama hingga 45 hari, Artinya bahwa kita benar-benar melayani pasien yang kita rujuk itu dengan prima,” papar Misranda.

Nah, biaya ini bisa dipangkas dengan keberadaan RS Ainun Habibie sebagai rumah sakit rujukan tipe B tersier. Sebab hampir seluruh penyakit yang biasanya dirujuk ke luar daerah, sudah bisa ditangani rumah sakit itu.

“KPBU akan memenuhi ketersedian layanan berupa pembangunan RS, fasilitas, alat kesehatan serta penunjang lainnya. Sementara Pemprov menyediakan sumber daya manusianya. Saat ini kita sudah menyekolahkan 10 dokter spesialis di beberapa fakultas kedokteran di Indonesia,” kata Misranda.

Sementara itu, sebelumnya Direktur RSUD Ainun Habibie, dr. Yana Yanti Suleman mengatakan sudah ada beberapa dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran Unhas yang sudah selesai studi.

Serta sudah menjadi dokter organik di RSHAH melalui skema penggantian biaya pendidikan. Yaitu spesialis mata, spesialis anak, spesialis anastesi. Serta ada beberapa yang hampir selesai yaitu kebidanan kandungan, THT, orthopaedi, Radiologi, PK, dan PA.

“Kami berharap tenaga dokter spesialis yang sudah selesai dan masih menyelesaikn pendidikan ini akan menjadi dokter organik di RS Ainun. Untuk melengkapi kebutuhan tenaga dokter spesialis, demi pengembangan RSHAH ke depan,” tandas dr. Yana, seperti dikutip dari gopos.id. (rinto)