Mahasiswa Keluhkan Realokasi Anggaran Beasiswa, Gubernur: Itu Instruksi dari Pusat

Mahasiswa Keluhkan Realokasi Anggaran Beasiswa, Gubernur: Itu Instruksi dari Pusat

05/07/2020 05:12 0 By Alex

Gubernur Gorontalo

Suasana diskusi pada silaturahim Forkopimda bersama Forum Presiden BEM se Provinsi Gorontalo di Domestique Cafe, Sabtu (4/7/2020). (F. Salma/Humas).

Hulondalo.id – Realokasi anggaran beasiswa Pemerintah Provinsi Gorontalo dikeluhkan sejumlah mahasiswa yang tergabung pada Forum Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Provinsi Gorontalo pada Silaturahmi Forkopimda yang digelar di Domestique Cafe, Sabtu (4/7/2020).

Mereka mengaku kecewa lantaran anggaran beasiswa untuk mahasiswa itu direalokasi ke penanganan Covid-19 di Provinsi Gorontalo. Olehnya sebagai bentuk kekecewaan, calon penerima beasiswa sempat mengganti foto profil akun media sosialnya dengan #KamiKecewadenganGubernurGorontalo.

“Ini bukan hendak meminta-minta beasiswa, tetapi di tengah pandemi Covid-19 seperti ini banyak orang tua mahasiswa yang merasakan kesusahan. Maka dari itu slogan bahwa kami kecewa dengan Gubernur Gorontalo karena beasiswa digeser untuk pandemi covid-19,” aku Presiden BEM Universitas Gorontalo (UG), Mohamad Akbar Iyou.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie pun menjelaskan, pergeseran anggaran di awal pandemi Covid-19 merupakan keharusan dan instruksi langsung dari pemerintah pusat agar memfokuskan anggaran untuk 3 hal penting, yakni sektor kesehatan, Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan pemulihan ekonomi.

“Namanya pertanian, PU, infrastruktur itu dipotong semua. Kalau kami tidak realokasi, langsung dipotong pusat kurang lebih Rp 300 Miliar. Untuk penanganan Covid-19 bukan hanya provinsi, tapi juga kabupaten dan kota. Anggaran pemerintah pusat Rp 650 Triliun direalokasi untuk covid-19,” jelas Gubernur Rusli Habibie.

Ditambahkannya, alokasi beasiswa tidak semuanya direalokasi. Ada beasiswa yang sifatnya prioritas, yakni untuk beasiswa dokter umum dan dokter spesialis yang memang ilmu dan tenaganya sangat dibutuhkan di daerah.

“Sekarang kita lebih selektif. Bukan saya mengabaikan ilmu yang lain tidak, tapi Gorontalo butuh dokter baik umum dan spesialis. Kita butuh orang Gorontalo dokter yang sampai mati pun dia berkarya untuk Gorontalo,” sambung Rusli.

Dia pun berharap agar mahasiswa memahami kondisi daerah secara utuh. Jika ada hal yang ingin disampaikan, Rusli pun siap membuka diri. Bahkan nomor handphone pribadinya diumumkan di semua media sebagai tempat untuk mengadu, bertanya atau menyampaikan kritik sekalipun.

“Orang yang nomornya tidak saya kenal saja saya balas, kenapa harus ke media sosial? Itu memang dialokasikan ke sana. Perjalanan dinas kami potong, rapat-rapat kami potong, makan minum kami potong. Semuanya dipotong,” kata Rusli.

Gubernur Gorontalo juga menjawab pertanyaan mahasiswa seputar kebijakan rapid test bagi siapa saja yang ingin masuk ke Gorontalo. Ditegaskan Rusli, kebijakan itu adalah keharusan sebagai upaya melindungi warganya dari potensi penularan virus corona yang dibawa oleh pelaku perjalanan dari luar daerah.(adv/alex)