Manajemen Keluarga Dalam Penguatan Kearifan Lokal Untuk Membendung Hoaks dan Disrupsi Informasi

22/10/2019 22:57 0 By admin

Prof. Dr. Novianty Djafri, M.Pd.I

Kata Hoaks atau Hoax berasal dari bahasa inggris dan kini kerap muncul di berbagai media. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Hoaks atau Hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber.

Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.
Awal berkembangnya berita hoax ini adalah melalui media; dunia maya (medsos) dan internet yang informasinya sangat cepat menyebar.

Kebanyakan orang, tidak memfilter informasi yang mereka baca dari media sosial, kemudian langsung menshare berita yang dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Sebagai informan yang bijak, sebaiknya ada di benak kita; pemikiran bahwa tidak semua hal yang anda baca di internet adalah benar dan tidak semua yang anda lihat di medsos itu adalah tayangan yang baik dan benar tanpa editing.

Alasan informasi berita hoax adalah merubah dan mengubah berita yang baik menjadi tidak baik, atau berita yang cukup sederhana, menjadi sesuatu yang luar biasa atau menggelisahkan dan meresahkan bahkan mengandung ujaran kebencian.

Sehingga filterisasi dari pikiran positif berkurang, sebab informasi yang didapatkan sangat mudah untuk disebarkan di internet dan medsos. Tujuan lainnya dari hoax adalah untuk menyebarkan kepanikan dan ketakutan massal.

Hal ini merupakan suatu kegiatan terstruktur dan massif yang dilakukan oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Kesadaran akan dampak ini akan dirasakan jika ada diantara anggota keluarga sudah mengalami dampak yang sangat besar.

Misalnya; anak itu berhubungan dengan ranah hukum ketika menshare informasi yang tidak baik maka kena pasal UU ITE. Belum lagi, informasi yang tidak benar itu, oleh yang lain terus dishare lewat smartphone dan Medsos.

Hal ini terus berkembang, semakin banyak dan berbahaya, karena perkembangan teknologi informasi tidak sepenuhnya untuk positif, namun telah bergeser (disrupsi) ke hal hal negatif.

Penyebaran informasi seperti ini harus bisa dikendalikan, karena kalau tidak akan berdampak merugikan orang lain. Salah satu benteng utama agar tidak terpapar hoaks adalah keluarga.
Sebab keluarga adalah lembaga informal yang mampu mengedukasi setiap anggotanya (anak, suami dan istri).

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang berkontribusi dalam hal pembentukan watak dan perilaku anggota keluarganya. Sehingganya keluarga disebut dengan Ula Madrasyahtun yakni sebagai pembentuk budaya pendidikan utama dan pertama.

Menurut Soejono Soekanto, keluarga dalam kedudukannya dapat berperan normatif dan peran ideal. Sebab keterukuran masyarakat yang baik itu; Jika baik keluarganya maka baik anggota keluarganya.

Berdasarkan hal ini maka keluarga dapat menciptakan suatu peran normatif, ide-ide positif dan membangun kebiasaan-kebiasaan yang menjadi kesepakatan bersama, menjadi suatu budaya.

Maka untuk budaya masyarakat Gorontalo pada umumnya dikenal dengan motto; Ta hetumula mopo tumula ta’uwewo (artinya; yang hidup saling menghidupi orang lain) Maknanya, dalam keluarga adalah dimana dalam satu keluarga saling menghidupi antara satu sama lainnya.

Sebuah keluarga harus dapat memenej keluarganya dengan pola manajemen POAC. Menurut Robbins: 2010; 15, POAC adalah; planing, Organizing, Actuiting dan Controlling.
Pelaksanaan fungsi manajemen dalam keluarga dapat dilaksanakan melalui;

  1. Planing: Keluarga harus sejahtera dan dapat merencanakan hidup baik keluarganya melalui hidup nyaman tanpa ada hambatan, tantangan gangguan dan ancaman dari manapun.

2). Organizing; Keluarga harus terorganisir dengan baik, tanpa ada pengaruh dan terindikasi jaringan jahat dan yang tidak baik dengan aktivitas negatif.

3). Actuiting: Keluarga harus digerakan atau di arahkan ke aktivitas yang baik dan positif, keluarga harus memperhatikan anggota keluarganya dengan siapa bergaul, apa aktivitas pergaulannya. Jika salah bergaul atau bermedsos dan lainnya, maka harus langsung diarahkan. karena keluarga itu akan baik jika di topang oleh anggota keluarga yang solid. Dan keluarga itu akan sukses jika diarahkan ke hal yang positif, serta masyarakat yang maju diawali dari kelauarga yang baik dan sejahtera.

4). Controlling; Keluarga dengan berbagai kepribadian yang dipelajari maka dapat dibekali dengan kontrol budaya; “Mohuyula, Moawota dan Moambuwa”; saling membantu satu sama lain, saling bersama berkumpul dalam bekerjasama untuk membantu satu sama lainnya, yang arti bahasanya lebih dikenal dengan Gotong Royong.

Sehingga dengan adanya budaya ini setiap keluarga harus dapat memperhatikan, membantu dan terus mendidik anggota keluarganya dengan lebih baik.

Bagaimana jika keluarga harus membendung anggota keluarganya dari hoax; maka penting untuk terus memenej budaya keluarganya kearah lebih baik, melalui;

1) Penguatan Religi Ketika menerima informasi hoax maka setiap keluarga harus dapat memberikan informasi yang benar, dan dapat meminimalisir hoaks.

Yang dikedepankan adalah mensaring informasi sebelum dishare yang dalam bahasa arab disebut tabayyun yakni mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya.

Melalui penguatan religi ini setiap keluarga memiliki pedoman akidahnya melalui kitabnya masing-masing, sehingga untuk Umat Islam harus berpegang teguh pada QS. AL-Hujurat:6, yang artinya:

“Hai Orang-orang yang beriman, Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Ayat AlQur’an ini sinergi dengan Tabayyun merupakan mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah tabayyun adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menerangkan ayat diatas, beliau berkata; termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang hendaklah dicek terlebih dahulu, tidak terima mentah-mentah.

Sikap asal-asalan menerima berita adalah adab berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam berbahaya dan Dosa dan penyesalan yang berkepanjangan.

2) Pendekatan interaksi sosial keluarga: yakni terus di bangun budaya atau Tradisi moambuwa “ berkumpul bersama, keluarga dekat atau jauh serta tetangga dalam bentuk arisan keluarga, penikahan, mengaruwa, modikili danlinnya. Sehingga tradisi ini diharapkan dapat meminimalisir berita hoax dan

3) Hubungan komunikasi harus terus dibangun, hal ini penting karena tradisi moambuwa oleh masyarakat Gorontalo, adalah bentuk interkasi komunikasi yang langsung dapat langsung memferivikasi informasi, memperbaiki dan mengarahkan anggota keluarga

sebagai tradisi, silaturahim, yang tanpa formal, tanpa undangan yang mewajibkan setiap sanak saudara, sanak keluarga harus berkumpul bersama dalam suatu hajatan keluarga yang dibangun atas kesepakatan bersama dan dilaksanakan secara bersama untuk lebih menjaga keutuhan dan ketahanan keluarga dari aktivitas negatif dan lebih mengarahkan anggota keluarga kearah positif.

Daftar Pustaka:
Robbins, Stephen P & Mary Coulter. 2010. Manajemen Jilid 1/Stephen P Robbins dan Mary Coulter di terjemahkan oleh Bob Sabron, Wibi Hardani: -Ed.10, Cet-13. Jakarta; Erlangga.
Permatasari, Henry. 2009. Modul Konsep Keluarga Sejahtera UNPAD Kedokteran Bandung.
KBBI. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Online) Avaliable di http://kbbi.web/pusat, (Diakses 22 Oktober 2019)

(Red : Tulisan ini telah mengalami penyuntingan, tanpa menghilangkan substansi atau maksud dari penulis)