Maulid Nabi Muhammad SAW, Pilkada Serentak dan Krisis Keteladanan

Maulid Nabi Muhammad SAW, Pilkada Serentak dan Krisis Keteladanan

30/10/2020 17:11 0 By Alex

Maulid Nabi Muhammad SAW

Dr. Andi Malanti K. Paerah M.Si

Oleh: Dr. Andi Malanti K. Paerah M.Si

 

Kurang lebih sebulan lagi masyarakat di beberapa daerah akan merayakan pesta demokrasi yaitu pemilihan kepala daerah baik gubernur, bupati/walikota. Masyarakat akan dihadapkan dengan beberapa pilihan pasangan calon/kandidat yang akan bertarung untuk memperebutkan kursi nomor satu di daerah pemilihan masing-masing.

Hal yang mendasar dalam pesta demokrasi, bukan soal menang atau kalah, akan tetapi soal bagaimana proses dalam pesta demokrasi itu dijalankan dan hasil dari sebuah proses itu, kemudian diimplementasikan sebagai bentuk manifestasi dari janji-janji yang disampaikan kepada masyarakat saat kampanye.

Tapi dalam tulisan ini, saya tidak ingin membahas lebih dalam soal proses demokrasi, tetapi yang ingin saya ulas dalam tulisan ini, yaitu suri tauladan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin sosial-politik karena kita baru saja merayakan peringatan kelahiran Rasulullah SAW.

Ketakutan dan kecemasan kita besama saat ini, sebenarnya bukan soal krisis ekonomi, kesehatan, krisis pangan yang bisa melanda seluruh dunia termasuk Indonesia akibat Covid-19. Akan tetapi ketakutan yang sebenarnya adalah krisis keteladanan, karena krisis ini jauh lebih dasyat dibandingkan krisis yang saya sebutkan di atas.

Saya ingin mengatakan bahwa saat ini kita merasakan hal yang sama tentang krisis keteladanan yang melanda bukan hanya di level organisasi besar (negara) tapi level organisasi terkecil (keluarga) pun mengalami hal yang demikian yaitu krisis keteladanan dari seorang pemimpin. Saya dan kita semua mungkin sepakat bahwa banyak pemimpin yang tersandung dalam kasus pidana akibat moral yang rusak dan sangat memprihatinkan, seperti yang baru-baru ini viral di media sosial, seorang oknum polisi berpangkat kompol (komisaris polisi) justru menjadi kurir narkoba sebanyak 16 kilogram, belum lagi kasus yang menjerat beberapa pemimpin daerah karena terlibat korupsi.

Dalam catatan KPK hingga tahun 2020 ini sejumlah pejabat politik tersandung kasus tindak pidana korupsi yaitu wali kota/bupati 119 kasus, gubernur 21 kasus, DPR DPRD 257 kasus dan berbagai macam kasus lainnya. Sungguh sangat ironi, mereka (oknum) yang seharusnya menumpas kejahatan narkoba dan memberantas korupsi justru menjadi pelaku dalam menyesengsarakan rakyat.

Tapi kita patut bersyukur bahwa sebagian besar dari mereka beragama Islam, mereka shalat, puasa Ramadhan, bahkan mungkin sudah ada yang menunaikan ibadah haji dan umroh berkali kali. Saya yakin dari waktu ke waktu mereka juga membaca shalawat kepada Rasulullah SAW yang tidak kita ketahui apakah Rasulullah SAW tersenyum atau menangis sedih ketika shalawat dikumandangkan tetapi kejahatan terus mereka lakukan, hak-hak masyarakat dirampas dan kesejahteraan umatnya diinjak-injak oleh mereka yang membaca shalawat kepadanya.

Dari gambaran kasus di atas sangat jelas, bahwa saat ini bangsa dan umat ini membutuhkan suri tauladan yang layak untuk ditiru dan sanggup membawa setiap masyarakat Indonesia maju dan lebih bermartabat. Saat ini Indonesia sangat membutuhkan teladan di semua aspek kehidupan. Dalam aspek pendidikan, membutuhkan figur pendidik yang menjaga, memelihara dan memperlakukan anak didiknya sebagai organisma yang tumbuh dan berkembang serta perlu diperhatikan dari waktu ke waktu, karena memang pendidikan sejatinya merupakan transformasi nilai dan budi pekerti yang luhur bukan sekedar transmisi informasi dan data belaka.

Dalam aspek rumah tangga pun demikian, membutuhkan figur atau sosok seorang suami dan ayah teladan yang penuh kasih sayang dan perhatian terhadap istri dan anak-anaknya. Hal yang sama juga bagi anak muda, apa lagi di zaman sekarang ini ilmu dan adab ditinggalkan sehingga diri seperti hewan, mereka sangat membutuhkan sosok yang berilmu, beradab, mencerahkan, tangguh dan bermotivasi tinggi untuk menghadapi segala kesulitan hidup dan berbagai macam problematika kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi.

Oleh sebab itu, dalam tataran sosial diperlukan seorang pemimpin yang mampu merenda atau merajut setiap perbedaan dari berbagai elemen masyarakat Indonesia yang majemuk menjadi satu tatanan masyarakat baru yang bergerak melangkah secara bersama-sama menuju Indonesia yang maju dan berahlakul karimah. Di setiap daerah khususnya dan Indonesia pada umumnya saat ini, sangat merindukan pemimpin politik yang benar-benar lahir dari sebuah proses demokrasi yang baik, dan seorang pemimpin yang memiliki visi dan kompetensi yang mumpuni untuk membawa perubahan kehidupan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Saya dan kita semua pasti sepakat, bahwa 5 atau 10 tahun kedepan yang akan datang, kita tidak pernah tahu Indonesia ini akan menjadi seperti apa, apa lagi pandemic Corona yang tidak tahu kapan akan berakhir. Pada pilkada yang rencananya akan digelar 9 Desember 2020 nanti, menaruh harapan besar akan kerinduan masyarakat adalah lahirnya seorang pemimpin yang meyakini bahwa jabatan adalah tanggung jawab dunia akhirat dan bukan kemegahan serta peluang untuk menambah kekayaan semata dengan apapun caranya. Seorang pemimpin yang tidak bisa tidur nyenyak karena masih ada rakyatnya yang kelaparan, pemimpin yang tidak terlalu nikmat duduk dalam ruangan ber-AC sementara masih banyak rakyatnya yang menjadi korban banjir, tanah longsong yang tinggal di tenda-tenda pengungsian dsb.

Teladan kepemimpinan itu sesungguhnya terdapat pada diri Rasulullah SAW kerena beliau adalah pemimpin yang mampu mengembangkan kepemimpinan dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya kehidupan rumah tangga yang harmonis, tatanan masyarakat yang akur, sistem politik yang bermartabat, sistem hukum yang berkeadilan, sistem pendidikan yang bermoral dan mencerahkan.

Kepemimpinan yang dapat diterima oleh milyaran manusia di muka bumi dan relevan sampai saat ini. Hanya saja karena kerasnya hati sehingga kita terkadang enggan untuk mengambil mutiara hikmah dari suri tauladannya karena keangkuhan, ketamakan, dan kerakusan atau kebodohon diri sendiri. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahzab:21. Yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Sekilas masa kepemimpinan Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah. Muhammad SAW Sebagai pemimpin sosial politik, adalah seorang pemimpin yang mempunyai kapasitas dalam mengatur dan mengelola masyarakat Muslim yang dipusatkan di kota Madinah saat itu.

Pada saat Rasulullah SAW di kota Madinah, beliau tampil tidak lagi hanya sebatas seorang rasul yang ditugaskan untuk menyerukan agama Islam, tetapi juga sebagai pemimpin dari sebuah komunitas peradaban baru yang berpusat di Madinah. Rasulullah SAW telah cukup berhasil membentuk keimanan dan mental yang tangguh di antara para pengikutnya. Hal ini perlu dilanjutkan dengan membentuk sebuah komunitas yang Islami dengan tatanan sosial yang lebih baik, oleh karena itu, masyarakat muslim awal itu memerlukan suatu daerah yang mampu memberikan perlindungan bagi mereka sekaligus sebagai tempat untuk membentuk kawasan percontohan komunitas Muslim yang ideal.

Kemunculan komunitas Madinah berlangsung dalam beberapa tahap, tahap awal Rasulullah SAW berusaha mempersatukan umat Islam yang terdiri dari berbagai suku, bani, kelompok yang berbeda-beda dan saat yang sama juga Nabi mengupayakan pengaturan hubungan antara kelompok Muslim dan non-Muslim, khususnya Yahudi, melalui penyusunan dan penandatanganan Piagam Madinah yang salah satu isi dari Piagam tersebut yaitu orang Yahudi yang menyatakan setia terhadap masyarakat Islam harus dilindungi, mereka tidak boleh dianiyaya dan diperangi. Tahap ini disebut dengan tahap konsolidasi internal umat dan komunitas Madinah.

Dari upaya mempersatukan kelompok yang berbeda-beda tersebut, menggambarkan seorang pemimpin bukan hanya penguasa tetapi seorang negarawan yang mempunyai pemikiran untuk memberikan jaminan ketenangan dan keamanan bagi semua warga tanpa pengecualian. Nabi tidak pernah berpikiran untuk membangun sebuah kerajaan, beliau hanya menginginkan ketenangan jiwa bagi warga Madinah dalam menganut dan mengamalkan ajaran agama mereka masing-masing.

Dalam catatan sejarah, Madinah bukanlah negeri yang kaya saat itu, pertambahan jumlah penduduk yang mendadak sedikit banyaknya mengguncang perekonomian Madinah. Dalam kondisi krisis tersebut, berbagai kekuatan pun datang untuk memusuhi Islam, mereka melakukan semacam embargo ekonomi sehingga persediaan barang berkurang dan keadaan pun semakin gawat. Dalam kondisi demikian, Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin tentu tidak tinggal diam, beliau dengan cepat dan cermat membuat kebijakan-kebijakan politik ekonomi yang berisikan aturan-aturan tentang perekonomian, namun dalam tulisan ini saya tidak membahas lebih dalam soal kebijakan-kebijakan tersebut.

Rasulullah SAW disamping mempunyai tugas sebagai pembawa risalah Ilahiyah, beliau juga adalah pemimpin masyarakat politik ketika berada di Madinah sampai akhir hayatnya, beliau melakukan perubahan yang besar di tengah masyarakat yang nomadik, beliau membentuk sistem masyarakat yang berkeadaban dan menciptakan persaudaran yang lebih luas melintasi suku dan ras. Kepemimpinan politik yang beliau lakukan dengan baik dan meninggalkan catatan sejarah untuk dijadikan teladan bagi generasi sesudahnya.

Rasulullah SAW disamping meninggalkan keteladanan yang bisa kita jadikan contoh beliau juga meninggalkan banyak inspirasi dan kebijaksanaan dalam berbagai hal, oleh karena itu, tugas kita sebagai pengikut beliau adalah mengikuti apa-apa yang telah dicontohkan oleh Muhammad SAW sebagai bekal menuju kampung akhirat. Akhir kata, semoga saya dan kita semua diberikan kesehatan dan kemampuan dalam menentukan siapa yang pantas untuk dipilih di tanggal 9 desember nanti, dengan harapan akan lahir seorang pemimpin yang menjadikan Rasululullah SAW sebagai teladan yang baik dalam kepemimpinannya. Aamiin.(*)