Melahirkan Sebuah Keputusan yang Baik dengan Empirisme dan Pragmatisme

Melahirkan Sebuah Keputusan yang Baik dengan Empirisme dan Pragmatisme

02/05/2021 00:02 0 By Maman

Penulis: Cut Irama Phonna, Ilmu Pemerintahan/FISIP/Universitas Syiah Kuala.

Cut Irama Phonna

Cut Irama Phonna

PEMERINTAH hadir sebagai tokoh yang membantu masyarakat dalam meningkatkan dan mensejahterakan kehidupan mereka. Tidak dipungkiri bahwa, masih banyak keputusan yang diambil oleh para elit politik yang melahirkan kekecewaan bagi masyarakat.

Empirisme dan Pragmatisme merupakan aliran dalam filsafat. Tidak dapat dihindari bahwasannya, setiap orang beranggapan berbeda mengenai filsafat ini. Banyak yang beranggapan bahwa, ilmu filsafat tidak masuk akal. Namun, dengan adanya filsafat, banyak memberi perubahan bagi kehidupan. Filsafat mengajarkan manusia untuk terus berpikir, dan mencari tahu serta bijaksana dalam mendapatkan jawaban yang benar.

Pragmatisme lahir dari kritik terhadap filsafat-filsafat tradisional yang cenderung diam, dan melihat sesuatu secara apa adanya. Sedangkan empirisme, lahir dari pengalaman yang menjadi sumber pengetahuan. Empirisme mengatakan bahwa, akal bukan sumber pengetahuan. Tapi akal melaksanakan tugasnya yaitu, mengolah bahan-bahan dari pengalaman.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa, pandemi covid-19 sudah mengguncang dunia dari tahun 2019 hingga saat ini belum juga mereda. Begitu juga dengan dikeluarkannya kebijakan larangan mudik, namun tetap membuka kunjungan wisata, menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Upaya pemerintah untuk menghentikan penyebaran covid-19 ini, dengan dikeluarkan keputusan pelarangan mudik, namun tetap mengontrol perekonomian masyarakat dengan membuka kunjungan wisata.

Kunjungan wisata ini hanya diperbolehkan dalam konteks dalam kota buka lintas kota. Perjalanan lintas daerah maupun kota hanya boleh dilakukan bagi kendaraan pelayanan distribusi logistik. Maka dari itu, pemerintah juga masih memikirkan roda pemerintahan rakyatnya dengan diberlakukan kunjungan wisata ini.

Tidak memungkinkan juga bagi pemerintah untuk menghentikan jalannya perekonomian dalam masyarakat, karena akan menuju resesi yang lebih parah di kemudian hari di luar pandemi covid-19 yang sulit dikendalikan. Sehingga, keduanya dapat menjadi masalah yang berat bagi Indonesia, mengingat Indonesia yang rendah akan segi perekonomiannya.

Empirisme menekankan bahwa, pengetahuan itu berasal dari pengalaman, dan pragmatisme merupakan filsafat tentang tindakan dimana berpandangan bahwa, benar adanya suatu hal itu karena, memiliki manfaatnya bagi kehidupan.

Filsafat merupakan dasar dari segala ilmu, bagaimana mencari pengetahuan, kebaikan, dan kebenaran. Pengetahuan muncul dari ide, gagasan, dan pemikiran seseorang dan kebenaran dari pengetahuan hadir dari pengalaman yang pernah ia alami. Dalam menentukan keputusan, dapat dipelajari dari pengalaman. Agar keputusan yang banyak menimbulkan kerugian tidak terulang kembali. Kemudian, tidak dibenarkan untuk gegabah. Lebih baik dipikirkan secara matang mulai dari memilih keputusan, kemudian menyeleksi keputusan itu dari baik buruknya, dan memikirkan sebab akibat jika keputusan itu telah dipilih.

Harus dipikirkan secara luas dengan segala akibatnya kepada masyarakat sehingga menimbulkan manfaat dan kegunaannya juga terhadap masyarakat. Maka dari itu, pemerintah harus pandai membaca keadaan, sehingga pengalaman yang sudah ada, dapat menjadi solusi yang melahirkan manfaatnya. Karena sesuatu yang benar pada hari ini, belum tentu akan pasti benar untuk masa yang akan datang.

Aliran empirisme juga dikuatkan dengan berpikir yang baik serta kritis, sehingga tidak hanya mendapatkan sisi positifnya namun juga pengevaluasian terhadap pendapat yang kita terima. Pengalaman diperoleh dari penelitian atau pengindraan yang dikuatkan dengan teori-teori. Sehingga ketika pengalaman itu baik, dapat menciptakan kegunaan dan manfaat dapat melahirkan aliran pragmatisme.

Hidup itu bukan dinilai dari berapa tahun kita hidup, tetapi dari seberapa hidup tahun-tahun kita – Ralph Waldo Emerson. (##)