Menghargai Air Dengan Paradigma “Panen & Simpan”

Menghargai Air Dengan Paradigma “Panen & Simpan”

22/03/2019 11:02 0 By Syakir

     Ivan Taslim            Dosen Geografi Univ. Muhammadiyah GorontaloStaf Khusus Perubahan Iklim & Mitigasi Bencana Pemerintah Kabupaten Gorontalo

Hari Air Dunia atau Hari Air Internasional jatuh pada hari ini tanggal 22 Maret. Ini merupakan agenda rutin tahunan yang mulai diperingati sejak ditetapkan pada Sidang Umum PBB ke-47 (22 Desember 1992) di Rio de Janeiro, Brasil. Mulai 1994, peringatan Hari Air Dunia mulai dikampenyekn.

 

Dengan harapan, menggugah kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya air untuk kehidupan dan masa depan. Khusus di tahun 2019 ini, Hari Air Dunia mengangkat tema internasional “Leaving No One Behind” yang diadaptasi dalam tema Indonesia “Semua Harus Mendapatkan Akses Air Bersih”.

Memasuki musim peralihan, bahaya hidrometeorologi telah berubah menjadi bencana di beberapa daerah di Indonesia. Ini adalah salah satu konsekuensi yang perlu diwaspadai sekaligus disyukuri oleh negara yang secara geografis berada di zona iklim tropis seperti Indonesia.

Dari rilis data informasi bencana di portal BNPB, diketahui bahwa sepanjang tahun 2019 ini saja sudah terjadi beberapakali bencana hidrometeorologi pada beberapa wilayah di Indonesia. Diantaranya adalah sekitar 221 kali kejadian bencana banjir, dan 234 kali tanah longsor.

Beberapa kejadian banjir dan longsor terjadi mulai dari awal tahun 2019. Diantaranya pada 9 kabupaten di Sulawesi selatan, Purworejo, Bantul, Sumatera barat hingga Sentani di Papua beberapa hari lalu. Hujan ekstrem yang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia, masih belum dapat diadaptasi dan dimitigasi oleh kebijakan pembangunan pemerintah dan peran serta masyarakat.

Sementara itu, pada beberapa daerah lain di Indonesia, bencana hidrometeorologi seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan juga sudah terjadi sekitar 30 kali sejak awal tahun ini.

Terjadinya kelebihan air pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau, hingga adanya pencemaran air dan kebutuhan air bersih yang kian meningkat, merupakan fenomena bahaya alam & sosial aspek hidrometeorologi, yang terus menjadi tantangan dan perlu diatasi bersama oleh pemerintah pusat dan daerah, akademisi serta masyarakat maupun pihak swasta sebelum menjadi bencana.

Peringatan Hari Air Dunia seharusnya menjadi momentum untuk menyadarkan kita semua bahwa air telah menjadi berkah bagi kehidupan, meski terkadang berubah menjadi bencana jika kita tidak mengelolanya dengan bijaksana.

Inisiasi pengelolaan air agar menjadi berkah dan mengurangi risiko terjadinya bencana adalah dengan menerapkan konsep “panen dan simpan atau harvest and storage”. Sistem pemanenan air terutama hujan (rainwater harvesting system/ RWHS) adalah merupakan solusi yang telah diadaptasi di beberapa daerah yang seringkali dilanda kekeringan dan kekurangan air maupun banjir atau kelebihan air.

Konsep ini dapat dilakukan dengan mudah dan sederhana, baik untuk skala rumah tangga ataupun secara regional. Konsep RWHS ini mengumpulkan air hujan untuk disimpan dan dikelola, dapat dilakukan dengan pembuatan embung, bank air/water bank, biopori hingga bak penampungan bawah tanah ataupun pada tempayan/gentong untuk skala rumah tangga.

Sasaran utamanya adalah, bagaimana air hujan yang jatuh ke permukaan bumi tidak semuanya menjadi air larian atau aliran permukaan (run off). Jika air hujan dalam skala besar menjadi aliran permukaan, dan ketika wadah pembuangan (drainase, sungai, rawa, danau, dsb) tidak mampu lagi menampung dan membuangnya ke laut, maka yang akan terjadi kemudian adalah genangan.

Genangan inilah yang biasa kita sebut dengan banjir, atau air yang menggenangi suatu daratan. Sebaliknya, jika kita mampu mengumpulkan air hujan tersebut dan menyimpannya ataupun mengembalikannya ke bawah permukaan, maka pada saat musim kemarau tiba kita masih bisa memanfaatkannya ataupun mengelolanya untuk kebutuhan hidup.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Gorontalo untuk mengadaptasi dan memitigasi fenomena hidrometeorologi tersebut, adalah dengan pembuatan embung di Desa Dumati yang telah diresmikan pada bulan Januari yang lalu.

Embung yang ada di Desa Dumati (baca: Embung Dumati), selain merupakan program Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam memitigasi perubahan iklim yang dapat merubah bahaya hidrometeorologi menjadi bencana, adalah juga merupakan salah satu upaya kreatif untuk membangun daerah dimulai dari desa.

Embung Dumati selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan air yang akan digunakan untuk pengairan lahan sawah, pertanian dan lain sebagainya, juga telah menjadi obyek wisata yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Dumati yang akan meningkatkan pendapatan daerah setempat serta usaha ekonomi masyarakat sekitar.

Embung Dumati hanyalah satu dari beberapa program Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam mengelola dan memanfaatkan air untuk kemaslahatan masyarakat.

Hal ini pula dimaksudkan untuk menegaskan kembali bahwa pemecahan masalah terkait air tidak dapat diselesaikan hanya dengan melalui kebijakan mengenai hutan lindung, taman nasional, reboisasi/penghijauan, pembangunan infrastruktur, seperti bendungan dan irigasi, embung, pengelolaan air limbah, sistem penyediaan air minum, dan banyak lagi.

Tetapi yang lebih penting adalah, bagaimana masyarakat bisa ikut serta membantu pemerintah mewujudkan pembangunan dengan mengadaptasi paradigma menghargai air.

Sebagai contoh yang paling sederhana mungkin tidak mubazirkan air mineral kemasan gelas ataupun botol, menghemat penggunaan air di rumah, kantor, kampus dsb, atau jika bisa lebih dari itu dapat juga membuat bak penampungan air hujan atau meresapkan kembali air hujan dengan biopori.

Pemerintah Kabupaten Gorontalo telah melakukan langkah-langkah preventif untuk menanggulangi bencana hidrometeorologi yang dapat mengancam laju pembangunan menuju Kabupaten Gorontalo Gemilang, saatnya kita sebagai masyarakat madani untuk mendukungnya. **