Mengingat-ngingat Lagi Soal “Intelektual”

Mengingat-ngingat Lagi Soal “Intelektual”

19/04/2021 07:01 0 By Syakir

Arief Abbas, Mahasiswa Prodi The Centre for Religious and Cross-cultural Studies, UGM

Sungguh, saya ingin mengawali tulisan-tulisan pada Ramadan kali ini dengan tidak menyoal hal-hal yang berat. Menulis tema-tema yang cukup padu seperti politik, isu-isu agama, dan etika publik membutuhkan analisis mendalam juga turut memuat tanggung jawab yang besar. Itu sebabnya di dua hari awal kemarin, tulisan saya yang receh-receh saja. Tapi semoga apa yang saya targetkan sepanjang bulan ini, yakni untuk menuliskan catatan dengan gagasan dengan sederhana, tidak bertele-tele, berikut memastikan bahwa pembaca dapat menangkap pesan di balik tulisan ini, bisa tercapai.

Saya ingin bicara soal “intelektual”. Terlebih, tentang kenapa kata itu seringkali diidentikkan kepada individu atau sekelompok orang cerdas yang menciptakan gagasan, menuangkannya dalam buku-buku lantas dibaca orang-orang. Intelektual juga kata yang seringkali disematkan pada seorang akademisi di zaman kiwari. Barangkali karena mereka mengajar, melakukan penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Sebatas itukah “intelektual” dimengerti?

Bagi Antonio Gramsci di dalam Prison Notebooks (1926), semua orang dapat mengatakan dirinya sebagai intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual.” Fungsi ini, jika dicacah lagi menjadi dua jenis.

Pertama intelektual tradisional, yakni mereka yang di dalamnya bekerja sebagai dosen, akademisi, guru, bahkan ulama sekalipun yang konsisten mendidik generasi ke generasi. Intelektual tipe ini, bagi Gramsci, adalah intelektual “menara gading”: yang sibuk memikirkan teori, ide, berada di dalam kekuasaan sehingga lupa persoalan riil. Sedang kedua, yakni intelektual organik, yakni kalangan orang yang turun langsung dari menara gading dan berhubungan langsung dengan kelas tertindas untuk memberikan pecerahan serta membebaskan meeka dari keterkungkungan pikiran yang sifatnya represif dan dogmatis. Tipe intelektual kedua ini biasanya jauh dari kekuasaan—namun ada juga yang tetap berada di dalamnya.

Untuk memahami apa yang dimaksud Gramsci soal hubungan intelektual tradisional yang syarat dengan kekuasaan itu, kita dapat melihatnya dalam tragedi Holocaust (1960). Ketika puluhan intelektual cemerlang berkomplot dengan Hitler untuk menciptakan senjata pemusnah masal, yang, pada akhirnya menewaskan lebih dari 6 juta umat Yahudi di kamp-kamp konsentrasi seperti Auschwitz dan Treblingka. Lebih dekat, adalah C. Snouck Hurgronje, salah seorang intelektual cemerlang di abad ke 19, yang pada waktu itu bertugas sebagai Pengawas Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Belanda. Berkat ketelatenan dan pengetahuan Horgronje yang mumpuni soal Islam dan kebudayaan, ia berhasil mendekati ulama-ulama Aceh dan menciptakan malapetaka (devide et impera) agar perang antara Aceh dan Belanda yang berlarut-larut akhirnya berakhir dengan kemenangan Belanda.

Sedangkan intelektual organik, adalah representasi bagi kaum yang tertindas. Edward Said di dalam Peran Intelektual (1993), menyitir bahwa tugas-tugas intelektual itu berkaitan dengan upaya menembus kategori-kategori stereotip dan reduktif yang membatasi pikiran dan komunikasi manusia. Intelektual sejati tetap dengan jati dirinya, digerakkan oleh prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Mereka memerangi korupsi, melindungi si lemah, menentang otoritas yang menyimpang, dan kepemimpinan yang despotik.

Dalam hal ini, posisi intelektual tidak selamanya berpisah dari penguasa. Sebaliknya, ia juga dekat dan berdampingan dengan para penguasa. Bukan dipanggil untuk memimpin, apalagi bersekutu dan berkomplot membantu mereka memperlebar kekuasaan. Tugas para intelektual adalah untuk memantapkan kebijakan. Untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak boleh lepas kendali, tidak boleh memperkaya sebagian pihak, sedang pihak lainnya meregang sakit yang tak tertahankan. Bagi para intelektual, tak ada kekuasaan yang terlalu besar untuk dikritik. Dan mengkritiknya, adalah tugas mereka.

Di level bawah, peran intelektual adalah berada sedekat mungkin dengan masyarakat. Mereka adalah figur representatif dari persoalan-persoalan tentang kemisikan, pendidikan, pendindasan kelas, Hak Asasi Manusia (HAM), hingga pendampingan terhadap mereka yang lemah dan seringkali dicakar sejarah. Mereka harus menjadi simpul, yang tanpa tedeng aling-aling, berbicara lewat tulisan, radio, dan televisi. Pendek kata, meminjam Isaiah Berlin, seorang filsuf politik asal Riga, Latvia, tugas intelektual di menyadarkan panggung publik bahwa mereka sedang diuji.

Tetapi, seringkali kita dapati para intelektual yang memiliki intensi demikian kerap kali dikucilkan. Jauh dari kemapanan, para intelektual hidup dalam pengasingan ditemani sepi dan temaram cahaya lilin dari sesedikit mungkin orang yang mengagumi gagasan-gagasan mereka. Mungkin begitu berat upaya ini, itu sebabnya Julian Benda, menyatakan dalam The Treason of the Intellectuals (1928), tempat para intelektual yang sesungguhnya adalah di tiang gantung, dibakar, dan disalib.

Seiring bergeraknya zaman, fungsi intelektual juga menjadi begitu spesifik, meninggalkan nilai-nilai universal yang semestinya menjadi tanggung jawabnya, dan beralih fungsi menjadi anggota kelas yang hanya berkompeten pada bidangnya saja. Yang saya maksud dengan nilai universal adalah kesadaran mereka terhadap prinsip kebenaran. Prinsip kebenaran, adalah sesuatu yang bahkan tidak terkelompokkan dalam katagori atau bidang-bidang tertentu. Kaum intelektual, apapun profesi dan spesifikasi keilmuannya, mestinya memainkan peran tunggal: semua manusia berhak mengharapkan standar perilaku yang layak berkaitan dengan kebebasan dan keadilan dari pemerintah.

Persoalan lain yang kita temukan hari ini adalah matinya kepakaran. Bayangkan sejenak tentang profesi seorang pengamat sepak bola tiga atau empat dekade silam yang begitu diminati. Mereka dipercaya lantaran dalam setiap performa, para pengamat mampu mendiskusikan opini-opini yang mengguncang-guncang para penonton. Bahkan, setiap pekan atau sebelum laga tandang dimulai, kurang ngeh apabila kita tidak menerima informasi-informasi cekatan dari para pengamat itu.

Namun lihat sekarang, ketika perkembangan teknologi informasi begitu membuncah, orang-orang terkoneksi satu sama lain, hingga lunturnya sekat-sekat di antara mereka. Para penonton sepak bola tidak memerlukan lagi komentator atau pengamat sepak bola. Karena bagi mereka, itu buang-buang waktu. Daripada menyaksikan para aktor berdasi memberi ceramah tentang pertandingan sepak bola, lebih baik mereka saja yang memberi komentar—walau kita tahu, kadang isinya lebih banyak spekulasi. Sehingga, dari 50 ribu supporter yang berkumpul dan memenuhi stadium, bisa dipastikan, ada 50 ribu pengamat sepak bola yang muncul dan berbagi informasi terkait pertandingan tepat saat itu juga.

Itu terjadi di ranah olah raga, bagaimana jika hal serupa terjadi di ruang publik kita? Bagaimana jika orang yang tidak memiliki kapasitas sebagai intelektual, atau katakanlah mereka yang dipenuhi spekulasi menjelaskan ekonomi, politik, agama, demokrasi—justru tampil dan membentuk citra publik masyarakat kita? Di titik itu, peran intelektual menjadi tak ada gunanya. Bahkan, boleh jadi argumen-argumen ilmiah mereka secara langsung terbantahkan dengan figur-figur baru yang bisanya berdalih lewat teori konspirasi dan konservatisme keagamaan yang meletup-letup.

Matinya kepakaran adalah sebuah metafora untuk menjelaskan adanya kelas sosial yang baru. Sebuah formasi masyarakat yang isinya sok tahu, bebal, dan bicara tanpa dasar keilmuan yang memadai, namun dapat menggerakkan dan membentuk ruang publik kita.

Lantas, adakah jalan keluar bagi para intelektual? Tentu saja. Pengaruh intelektual boleh saja redup, namun posisi mereka tidak mungkin tergantikan. Satu-satunya yang tersisa dan terus mengalami perkembangan hanyalah intensi—sebuah kesadaran yang mengajak setiap orang untuk merefleksi dirinya sendiri. Intensi tidak selalu hitam dan putih. Ia justru bergerak jauh lebih tinggi, melampaui kecerdasan, mencuatkan impuls-impuls diskursif agar manusia tidak berhenti bergumul dengan realitas sosialnya masing-masing.

Intensi memberikan semacam dorongan agar intelektual tidak hanya meng-upgrade bacaannya, melainkan juga kesadarannya. Bahwa mereka sedang berada dalam ruang yang serba “melampaui”. Tugas intelektual akan tetap menjadi simpul yang menjembatani tugas-tugas pemerintah terhadap masyarakat. Mereka, sampai kapanpun, adalah representasi dari keadilan dan kebenaran yang tidak pernah berakhir. Namun dengan diri yang terus berkebang dan belajar dari pengalaman-pengalaman.

Memahami bahwa kesadaran itu bertingkat, dapat menarik para intelektual agar tidak terjerat fanatisme buta, agar mereka tidak ceroboh menentukan pilihan-pilihan. Bagi para intelektual, hal ini mungkin cukup lumrah, namun sebenarnya juga begitu sulit untuk dilakukan. Saya sedang mengajak diri saya sendiri, mengajak Anda para pembaca, apapun formasi intelektual Anda, untuk merenungkan hal ini. Merenungkan betapa sulitnya mengemban peran sebagai intelektual.[]