Negeri Kita Sedang Menangis, Semoga Tidak Dengan Kalian

Negeri Kita Sedang Menangis, Semoga Tidak Dengan Kalian

01/05/2021 23:40 0 By Syakir

oleh: Thityn Ayu Nengrum

Assalamualaikum Indonesia, negeri yang dikenal dengan sebutan tanah surga. Beraneka ragam suku dan budaya, beragam pula agama yang dianutnya, tetapi tetap dalam satu naungan yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Ibu Pertiwi selalu disanjung-sanjung, khalayak ramai dan tawa terpancar dari setiap sudut-sudut kota. Aku, tak ingin Ibu pertiwi terluka. Hingga kini, semua berbeda setelah kedatangan tamu yang tak pernah diinginkan bernama COVID-19.

Diseluruh pelosok penjuru negeri kau datangi tanpa permisi, mendadak rasa gelisah dan khawatir selalu hadir, sungguh kedatanganmu di negeriku ini, nyaris begitu cepat.

Aku, bahkan kebanyakan orang dipenjuru negeri ini risau dan marah kepadamu. Kau yang membuat segalanya tiba-tiba kacau, panik, ekonomi rontok, orang-orang menderita lalu akhir dari semua itu sangat miris dengan berita kematian.

Dan payahnya, sampai sekarang aku tak tahu sampai kapan ini terus terjadi semakin hari semakin memburuk.

Saat ini, aku tidak sedang ingin mengulik apakah kemunculanmu karena keserahakan kami sebagai manusia yang keliru memperlakukan alam tempat kami hidup, atau apakah ini bentuk serangan balik, dendam, atau rasa tersinggung sebagai elemen negeri di bumi karena keserakahan kami?. Faktanya kau ada dan menyakiti manusia.

Kalau ini jalanmu untuk memperingatkan manusia, Aku pikir peringatanmu sudah terlalu cukup, cukup untuk dihentikan. Tolong katakan ungkapan itu dalam ekspresi yang lain, jangan lewat jalan kesengsaraan atau bahkan kematian, beristirahatlah, kembalilah kepada kelembutanmu sebagai bagian dari alam semesta.

Negeriku berduka, perihal tangisan, bahkan hampir putus asa. Siapa yang bisa diandalkan sekarang? Kau ingin Tahu?.

Mereka adalah pahlawan Garda Terdepan dalam melawan COVID-19. Bakti nyata dan pengorbanan tulus terpancar dari kalian. Apa yang kalian rasa sekarang? marah, menangis, menjerit, atau lari dari semua tugas ini?.

“Kalian tetap di rumah untuk kami, kami tetap bekerja untuk kalian”. Membaca seuntai pesan ini, menjadikan bukti bahwa kalian tidak akan meninggalkan kami.

Mungkin aku dan mereka yang ada dipelosok negeri ini tidak bisa membantu secara nyata. tapi doa sepanjang sudut selalu ada untuk kalian. Teruntuk kalian yang tak ku kenal, percayalah kita semua bersaudara.

Sekarang, berjihadlah kembali untuk negeri ini, apa yang telah terjadi sudah takdir sang Ilahi….

Jangan khawatir, kita ada dibelakang untuk selalu mendukung kalian, terlebih lagi doa yang selalu melangit.

Hapus air mata, tersenyumlah, dan tetap Bahagia. Terimakasih, aku bangga dengan kalian, percayalah akan selalu ada cahaya dipenghujung gelap.

Dan jika hari itu tiba, aku ingin menjabat erat tubuh kalian, bukan hanya sekedar mengucapkan kata terima kasih… (**)