ODGJ Tetap Memilih, Tapi Ada Levelnya

ODGJ Tetap Memilih, Tapi Ada Levelnya

12/12/2018 17:12 0 By HulondaloID

 

Hulondalo.Id – Polemik soal Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilpres – Pileg 2019, masih terus bergulir. KPU Provinsi Gorontalo sendiri, sudah menetapkan 525 ODGJ dalam DPT tersebut. 

Dalam dialog yang digelar KPU Provinsi Gorontalo belum lama ini di Warkop Amal, berbagai penolakan datang dari peserta dialog. Pertanyaan bagaimana para ODGJ menentukan pilihannya, hingga apakah mereka (ODGJ) dibuatkan TPS sendiri, mengemuka dalam dialog tersebut. 

Dari penjelasan KPU maupun dokter ahli yang dihadirkan, ODGJ yang bisa memilih hanyalah mereka yang memiliki gangguan kejiwaan tidak permanen, sedangkan yang permanen tidak dimasukkan. 

ODGJ Tetap Memilih, Tapi Ada Levelnya
Infografis (HL)

Keberadaan ODGJ dalam pemilu sendiri, didasarkan pada UU Nomor  7 tahun 2017 tentang pemilu. Dimana tidak ada pembatasan hak pemilih, kecuali yang berusia di bawah 17 tahun atau belum menikah, atau memang yang dicabut hak pilihnya oleh pengadilan. 

Selasa (11/12/18), KPU Provinsi Gorontalo menetapkan jumlah DPT 2019. Dalam rapat tersebut, juga dibahas beberapa hal termasuk adanya pemilih ODGJ. Dalam rapat itu ditetapkan, DPT Pilpres dan Pileg 2019 berjumlah, 812,801 pemilih. Terdiri atas, laki – laki 405,117 pemilih dan perempuan,  407,684 pemilih. (Lengkapnya lihat grafis). 

Anggota KPU Sophian Rahmola menuturkan, soal tata cara penggunaan hak suara di TPS, pihaknya menunggu regulasi maupun petunjuk dari KPU RI, apakah akan diatur secara spesifik atau bagaimana lagi. Dan saat ini (ODGJ) baru sebatas pendataan. “Secara umum, saat menggunakan suara di TPS, ODGJ sama dengan orang normal pada umumnya, datang ke TPS dan lainnya,” kata Sophian. 

Besar kemungkinan kata dia, ODGJ yang masuk pada level tertinggi, tidak akan menggunakan hak suaranya. Dapat dibayangkan kata dia, orang yang mengalami gangguan kejiwaan, apakah bisa datang ke TPS sama halnya dengan orang normal. “Orang normal saja, ada yang tidak memilih, apalagi orang yang mengalami gangguan kejiwaan,” ungkap Komisioner dari Divisi Perencanaan Data dan Informasi. 

Pendataan yang dilakukan sebelumnya kata Sophian, selain ke rumah – rumah, juga dilakukan dengan mendatangi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tombulilato. Pendataan dirumah – rumah kata Sophian, dilakukan melalui keluarga terdekat. Mereka kata Sophian, termasuk dalam tuna grahita yang antara lain, idiot, keterbelakangan mental, autis dan lainnya.

Sedangkan dirumah sakit jiwa, data yang diperoleh dari petugas medis, terdapat 23 ODGJ dan ini masuk dalam level tertinggi. Besar kemungkinan, untuk ODGJ pada level tertinggi ini, tidak akan menggunakan hak suaranya. 

Namun kata Sophian, hal itu masih menunggu dulu kepastian dari KPU RI berupa regulasi. (rinto/man)