Omzet Rp30 Juta per Bulan, Corona Tak Ganggu Usaha Sarang Walet

Omzet Rp30 Juta per Bulan, Corona Tak Ganggu Usaha Sarang Walet

19/06/2020 11:28 0 By Yadin

Yanto Turede saat menjelaskan proses pencucian sarang walet di pabriknya di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango. (foto.yadin)

Hulondalo.id – Tak sedikit sektor usaha yang mengalami krisis saat pandemi Covid-19. Bahkan ada yang hampir gulung tikar.

Tapi tidak dengan usaha sarang walet. Sektor usaha yang satu ini justru tetap menjanjikan walau dihantam wabah virus Corona.

Buktinya, salah seorang pengusaha sarang walet di Kabupaten Bone Bolango, Yanto Turede, omzetnya Rp30 Juta per bulan tak terpengaruh dengan kondisi pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah omzet saya tetap Rp30 Juta per bulan,” ungkapnya bersyukur.

Malah Yanto sendiri mengaku masih kewalahan memenuhi permintaan 200 kilogram sarang walet perbulannya, dari Sumatera, Surabaya dan Jakarta sejak Desember 2019 lalu.

Karena Yanto hanya mampu memenuhi sekitar 20 kilogram sarang walet per bulan. Itu artinya, masih ada 180 kilogram lagi yang sebetulnya adalah peluang bagi yang ingin membuka usaha sarang walet di Gorontalo.

“Alhamdulillah usaha sarang walet tak terpengaruh dengan Covid-19. Sekalipun dalam kondisi wabah Covid-19, permintaan sarang walet untuk Gorontalo tetap tinggi, saya diminta 200 kilogram per bulan. Tapi baru 20 kilogram yang saya mampu sediakan. Waktu itu bandara Gorontalo sempat tutup karena PSBB, jadi saya tetap mengirim lewat Manado,” ujar Yanto yang juga selaku Ketua Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Provinsi Gorontalo saat diwawancarai awak media.

Per kilogram sarang walet, itu harganya berkisar Rp20 Juta sampai Rp25 Juta untuk yang sudah dalam keadaan bersih. Sedangkan yang masih kotor harganya Rp12 Juta sampai Rp15 Juta per kilogramnya. Cukup menggiyurkan bukan?

Ketua Forum Karang Taruna (FKT) Kabupaten Pohuwato, Saharudin Saleh bersama Bendahara FKT, Fadel Mbuinga pun tertarik mengunjungi kediaman Yanto Turede di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Kamis (18/6/2020) malam.

Keduanya menyempatkan waktu di sela-sela agenda penyerahan bantuan untuk korban banjir.

Yanto kemudian membagikan pengalamannya. Awalnya, Yanto yang berprofesi sebagai ASN hanya bermodalkan Rp50 Juta membangun gedung sarang walet ukuran 4 kali 8 meter di tahun 2013 silam. Setahun berikutnya, ia menambah satu bangunan gedung lagi dengan ukuran yang sama.

Berangkat dari situ, Yanto kini sudah mempekerjakan lebih dari 10 orang karyawan di pabrik pencucian sarang walet miliknya di Kabupaten Bone Bolango.

“Usaha sarang walet ini juga bisa membuka lapangan pekerjaan dan tentunya akan mengurangi angka pengangguran,” terangnya.

Lantas usaha sarang walet bisa bertahan hingga berapa tahun lamanya? Mengingat, usaha ini hanya mengandalkan burung walet yang kapan saja bisa bermigrasi ke daerah lain.

Tapi jangan khawatir. Kata Yanto, burung walet akan tetap bertahan di sarangnya asalkan ada ketersediaan pakan. Nah, daerah Gorontalo sangat potensial. Karena pakan burung walet adalah serangga.

“Gorontalo cukup potensial. Karena daerah kita dikelilingi sungai-sungai besar, ada danaunya, ada hutan lindung yang menjadi habitat serangga. Jadi tak perlu khawatir,” jelas Yanto meyakinkan.

Yanto Turede menerima kunjungan investor dari China, baru-baru ini setelah PSBB di Gorontalo tak diperpanjang. (istimewa/fb)

Baru-baru ini, setelah Gorontalo tak lagi memperpanjang PSBB, Yanto dikunjungi investor dari China yang tengah mensurvei potensi walet di Gorontalo.

“Dengan jumlah 600 lebih bangunan sarang walet di Gorontalo, harusnya ke depan kita sudah bisa melakukan ekspor langsung ke luar negeri, karena tingginya permintaan kebutuhan sarang walet,” ungkap Yanto sembari menyuguhkan minuman kopi dari sarang walet.

Nah saat ini, hasil sarang walet Yanto diberi merek DSAS Walet Gorontalo yang target pasarnya adalah Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong, Eropa dan Amerika.

Hasil sarang walet milik Yanto Turede. (istimewa/fb)

Ia juga menambahkan, hasil sarang walet dari Gorontalo yang terdeteksi di Badan Karantina Pertanian Bandara Djalaludin, itu sekitar 600 kilogram per bulan. Itu tidak termasuk dengan pengiriman lewat Manado, Palu dan Makassar.

“Yah kalau ditotal bisa mencapai satu ton per bulannya untuk hasil sarang walet Gorontalo. Dan ke depan sasarannya adalah Tiongkok, karena Tiongkok adalah pasar besar sarang walet sejak 400 tahun lalu, sejak zaman dinasti raja-raja,” bebernya.

Sekedar diketahui, Yanto Turede juga adalah sebagai konsultan budidaya sarang walet yang memiliki lisensi dari konsultan walet Asia Tenggara, Arief Budiman. Selain itu, Yanto juga sebagai konsultan pabrik pencucian sarang walet yang sudah menerbitkan dua buku dengan judul, “Kiat Sukses Menjadi Konsultan Burung Walet” dan “Memproduksi Sarang Walet Kualitas Eksport”. (yadin)