Petani dan Ladangnya di Gorontalo

Petani dan Ladangnya di Gorontalo

15/04/2021 22:30 0 By Maman

Jagung

Jagung (Kementan)

*Arief Abbas, Mahasiswa Prodi The Centre for Religious and Cross-cultural Studies, UGM.

“MENJADI petani bukan soal memenuhi kebutuhan saja, namun ini tentang tabiat hidup yang diwariskan turun-temurun dari leluhur saya.” Kalimat ini adalah syarahan pembicaraan panjang saya dengan salah satu petani di Gorontalo.

Namanya Pa Kiki. Orangnya tinggi, kulitnya sawo matang. Suaranya sangat khas, perangainya juga lembut. Pertama kali jumpa, saya ingat persis, itu di kandang sapi miliknya. Waktu itu, Pa Kiki mengenakan kaos putih bergambar salah satu caleg, mengenakan upiya karanji, bercelana pendek, dan tidak memakai sendal.

Katanya, sehari-hari, jika bukan di kebun, ia sibuk mengurusi sapi-sapinya. Pa Kio juga adalah seorang lintingers sejati.

Pa Kiki dipercaya sebagai Pegawai Syar’i. Ia sering diundang pada acara-acara keagamaan seperti mongaruwa (tahlilan), modikili (peringatan kelahiran Nabi Muhammad, SAW), moziara (berziarah), hingga mongoloto malu’o pada Huwi lo Yimelu (malam pertama Ramadan). Tapi ketika ditanya soal profesi, ia menjawab “saya petani”.

Tangannya menunjuk lahannya yang sedang ditanami jagung. Ribuan jagung ini ditanam bersama istri. Hasil panen dikeringkan sebelum diantar ke pasar untuk dijual. Kadangkala, para penadahlah langsung yang datang ke rumah untuk mengangkut jagung-jagung itu.

Arief Abbas.

Pembicaraan lalu terhenti sejenak, sebelum dengan berat, ia berkata “tapi menjadi petani sekarang susah karena menggunakan hibrida dan pupuk kimia”. Dari siniah problem itu muncul.

Seni Bertani

Masyarakat lokal Gorontalo adalah petani. Mereka memanfaatkan dataran, lereng, hingga puncak bukit untuk bertani. Jagung adalah tanaman yang seringkali dijumpai di lahan-lahan para petani, tapi ini bukan satu-satunya. Para petani juga menanam umbi-umbian, kacang, serta padi ladang.

Hasil-hasil bumi ini, dahulu kala, tidak dijual, melainkan untuk memenuhi subsitensi masyarakat. Dari jagung lokal ini, kita mengenal binte kiki (jagung kecil). Umumnya, jagung ini ditanam sekitar 80-90 hari dengan bobot yang relatif baik, hingga daya tahan untuk disimpan dalam waktu yang lama dan ditanam berulang-ulang.

Praktik tanam jagung dilakukan secara komunal: mulai dari membajak lahan (momade’o), menyiangi rumput (moleyapu), hingga merontokkan bulir jagung dengan memukul-mukulkan tongkolnya ke kayu beramai-ramai (momubohe binte). Dari hasil olahan binte kiki, kita mengenal binte biluhuta (sup jagung), dan ba’alo binte (nasi jagung/milu). Dalam acara-acara keluarga, biasanya dua makanan ini tidak boleh absen.

Predikat sebagai petani juga sebenarnya bukan profesi. Sebelum adanya sistem klasifikasi kerja, petani di Gorontalo melakukan apa saja yang mereka mau. Kadangkala, sepulang dari kebun mereka pergi ke sungai menangkap ikan, menengok ternak, menjadi guru ngaji hingga tukang cukur rambut.

Praktik pertaniannya juga dilakukan secara tradisional. Masyarakat lokal memandang alam sebagai sebuah subjek yang hidup. Tentu saja, alam tidak berupa manusia, namun bagaimana siklus hujan, pergerakan angin, bintang dan bulan, hingga pasang-surut air laut terjadi, menciptakan keyakinan masyarakat lokal bahwa alam juga sebuah entitas yang hidup, memiliki kesadaran bahkan berperilaku layaknya manusia.

Pandangan dunia ini merembesi praktik pertanian yang terkondisikan. Maksudnya, saat bertani, masyarakat sadar betul musim tanam yang sesuai dengan intensitas hujan.

Menanam jagung biasanya dua sampai tiga kali setahun. Periode tanam utama dikenal dengan Tauwa yang berlangsung dari pertengahan Oktober sampai awal November, karena curah hujan yang tinggi. Selama musim ini, petani menanam jagung, padi ladang, cabe, dsbg.

Sedangkan periode tanam kedua dimulai pada musim Tualanga Sore, berlangsung sejak pertengahan Februari hingga akhir Maret. Akhir musim hujan dikenal dengan hulita, berlangsung sejak pertengahan April hingga awal Mei. Karena kemarau biasanya terjadi pada musim ini, petani menanam sayur karena berumur pendek. Sedangkan pertengahan September hingga awal Oktober dikenal dengan musim Tualanga Pagi.

Tidak banyak petani yang menanam pada musim ini, sebab curah hujan yang relatif sedikit. Saat panen, masyarakat memastikan tebangan jagung telah rata dengan tanah agar tak ada lagi jamur atau bakteri yang tersisa sampai musim tanam berikutnya bisa dimulai.

2002

Seni bertani masyarakat lokal perlahan hilang dan tergantikan dengan praktik pertanian modern seturut program agropolitan yang dibawa masuk oleh Fadel Mohammad, gubernur definitif Gorontalo pada tahun 2002. Dengan mendorong dan menjadikan jagung sebagai ikon, bagi Pemda Provinsi Gorontalo, menjadi salah satu pendorong terjadinya perbaikan ekonomi makro-mikro selang tahun 2002-2008.

Dari sisi makro, pendapatan per kapita naik dari 2.5 juta menjadi 4.9 juta; pertumbuhan ekonomi naik dari 6.45% menjadi 7.51%; dan paling penting, kemiskinan turun dari 32,13% menjadi 24,88%. Sedang dari sisi mikro, produksi jagung naik dari 7.000 ton menjadi 752.727 ton.

Memasuki tahun 2012 sampai saat ini, agropolitan tidak lagi menjadi program utama. Namun ingatan tentang jagung tetap kekal. Agustus 2020 kemarin, para elit tersenyum sumringah lantaran berhasil mengekspor jagung lewat kapal terbesar ke Filipina dengan jumlah 12.000 ton.

Kenaikan produksi jagung ini tidak bisa dilepaskan oleh intensifikasi pertanian yang memang merupakan kehendak program agropolitan. Masyarakat didorong untuk memanfaatkan lahan-lahan mereka agar ditanami jagung hibrida. Setahunnya, jagung-jagung ini ditanam 2 kali, dinutrisi dengan pupuk kimia, dan dipelihara dari hama tanaman dengan pestisida. Perlahan, pedesaan yang makmur berubah menjadi pasar dalam negeri yang menggiurkan.

Bertahun-tahun dilakukan, agropolitan menciptakan ketergantungan di kalangan para petani, khususnya pada benih jagung. Jika tak memperoleh bantuan atau bisa membelinya di pasar, mereka meminjam pada tengkulak. Praktik pinjam ini berisiko tinggi.

Sebab, sewaktu-waktu panen gagal, para petani terlilit hutang. Dan jika mereka tidak bisa membayarnya dalam ketentuan tertentu, tanah mereka yang jadi korban. Alhasil, banyak dari petani tersebut yang menjadi kuli di lahan sendiri.

Perubahan ini juga meniscayakan praktik bertani yang sebelumnya adalah jati diri, menjadi pekerjaan guna menyuapi akumulasi kapital dalam industri perkotaan, sekaligus menyediakan tenaga kerja murah. Profesi petani bahkan mulai marak dan dibanggakan melalui program-program pemerintah.

Namun sembari para elit bahagia karena pencapaian ini, Gorontalo masih menjadi daerah posisi ke 5 termiskin se-Indonesia dengan presentasi 15.22%. Tragisnya, jumlah kaum miskin ini lebih banyak didominasi oleh manusia yang hidup di pedesaan dan sedikit banyak bergantung pada aktifitas pertanian.

Pertanyaannya, adakah elit yang menyadari hal ini? Menyadari seberapa banyak petani, seperti Pa Kiki yang mengatakan “susah”, tercerabut dari praktik pertanian lokal bahkan dililit hutang?

Berbagai hal ini yang saya bayangkan setelah berdiskusi dengan Pa Kiki. Barangkali masih ada lagi problem yang tidak diberitahunya dan mungkin ini lebih pelik. Saya juga bukan orang pertama yang menanyainya soal itu. Ia juga tidak perlu melanjutkan sebab dia tahu, buang-buang waktu saja menceritakan hal yang tidak pernah menjadi konsen pemerintah lebih dekat.

Kami mengakhiri hari itu, cerita-cerita yang memuakkan itu, dengan menyesap beberapa batang lisong. **