Petani di Taludaa Keluhkan Harga Cengkih Anjlok Jadi Rp 62 Ribu per Kg

Petani di Taludaa Keluhkan Harga Cengkih Anjlok Jadi Rp 62 Ribu per Kg

14/11/2019 11:55 0 By Alex

Risman Rachban petani cengkih di Desa Taludaa, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo berharap pemerintah bisa memperhatikan harga cengkih yang kian hari kian menurun dan merugikan petani.(F. Darmin)

Hulondalo.id – Puluhan petani cengkih di Desa Taludaa, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, mengeluhkan harga cengkih yang terus merosot beberapa waktu belakangan ini.

Harga cengkih yang kian hari kian anjlok ditambah ongkos operasional yang cukup tinggi membuat petani setempat kelimpungan.

Risman Ruchban, salah seorang petani setempat mengaku, saat ini pengambilan cengkih di tingkat petani turun hingga Rp 62 Ribu per Kg. Padahal, harga pengambilan sebelumnya mencapai Rp 70 Ribu per Kg.

Karena harga cengkih turun, banyak petani di wilayah Taludaa yang tidak semangat melakukan panen pada musim kali ini. Pasalnya, minimnya modal membuat petani harus mengorbankan lebih dari setengah hasil panen mereka, hanya untuk membayar buruh.

“Itu pun di luar ba cude (memisahkan tangkai dengan buah) dengan ongkos ba jemur. Cude biasa kita hitung Rp 1.000,- per Kg, kalau jemur biasanya Rp 1.500,- per Kg. Itu belum biaya angkut ojek Rp 20 Ribu per koli,” kata petani yang akrab disapa Risi ini kepada Hulondalo.id, Kamis (14/11/2019).

Sementara itu, Dodin Pakaya, salah seorang pengumupul cengkih di wilayah Bone dan Bolmong Selatan (Bolsel), mengaku kondisi harga itu sudah disesuaikan dengan harga di tingkat pedagang besar. Dodin mengaku, saat ini dia mengambil cengkih seharga Rp 62.500,- per Kg. Kemudian dijual ke pedagang di wilayah Manado seharga Rp 65.500,- per Kg.

“Saya biasa angkut ke Manado sekali muat sampai 1,8 Ton. Jadi memang, sudah harga di sana yang begitu, kita hanya menyesuaikan saja,” tegas Dodin yang membantah sengaja memainkan harga.(Alex/Darmin)