Petani Taludaa Cs Gigit Jari, Harga Cengkih Anjlok Jadi Rp 50 Ribu per Kg

Petani Taludaa Cs Gigit Jari, Harga Cengkih Anjlok Jadi Rp 50 Ribu per Kg

20/10/2020 12:47 0 By Alex

Harga Cengkih Gorontalo

Tinggal Sance Lalu (60) yang menjemur cengkih di jalan Desa Taludaa, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, Selasa (20/10/2020). Biasanya, jika sedang musim panen, jalanan ini pasti penuh dengan warga yang menjemur cengkih. (F. Darmin)

Hulondalo.id – Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin peribahasa itu cocok disematkan kepada para petani cengkih di Desa Taludaa, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Bagaimana tidak, harga cengkih malah anjlok menjadi Rp 50 Ribu per Kg. Padahal, warga setempat yang mayoritas petani cengkih itu sangat berharap banyak pada musim panen kali ini pasca dihantam musibah banjir dan longsor, beberapa waktu lalu.

“Kemarin-kemarin (sekitar 2 pekan lalu) lebih parah pak, harganya tinggal Rp 47 Ribu per Kg,” ucap Sance Lalu (60) petani cengkih Desa Taludaa kepada Hulondalo.id, Selasa (20/10/2020).

Menurut Sance, harga kali ini jauh lebih rendah dibandingkan harga cengkih tahun lalu saat musim panen. Tahun lalu, harganya sempat merosot sampai Rp 62 Ribu per Kg dan sangat merugikan petani.

“Coba bapak lihat, dulu kalau musim panen jalanan ini full (penuh) orang jemur cengkih, di lapangan sana juga pasti full. Coba lihat sekarang, sepi,” imbuh Sance.

Senada juga diungkapkan Darmin (36). Menurutnya, sejumlah petani di Desa Taludaa tidak lagi mau memanen cengkih karena harga yang jatuh saat ini tidak akan menutupi ongkos buruh dan biaya keperluan lainnya.

“Kalau tahun lalu biaya petik cengkih itu Rp 7.000 per Liter. Sekarang tinggal Rp 4.000 per Liter, tidak banyak (buruh) yang mau dengan upah begitu. Jika ada yang mau, biasanya bagi hasil 50:50,” terang Darmin.

Dia merinci, biasanya seorang buruh bisa memetik cengkih paling standar berkisar 60 Liter per hari. Sementara, setiap 5-6 Liter cengkih akan susut menjadi 1 Kg setelah selesai dijemur.

“Ngoni (kalian) kalikan saja itu sudah berapa dia punya untung,” sambung dia.

Darmin berharap agar pemerintah bisa memberikan perhatian terhadap harga cengkih yang merosot tiap tiba musim panen raya karena jangan sampai ada permainan harga di tingkat pedagang besar.

Fenomena yang sama tak jauh lebih baik dengan kondisi petani cengkih yang berada di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Provinsi Sulawesi Utara.

Roman Husain (29), petani di Desa Milangodaa Kecamatan Tomini itu mengaku harga cengkih di wilayahnya saat ini dipatok Rp 53 Ribu per Kg. Meski harganya lebih baik dari harga di Desa Taludaa, namun tetap saja tidak membantu para petani.

Pun karena ingin memangkas ongkos produksi, Roman akhirnya memilih memetik sendiri cengkih di kebun milik keluarganya.

“Tidak ada uang gaji buruh. Daripada sia-sia ini, saya petik sesuai kemampuan saja,” katanya.(Alex)