Provinsi Gorontalo Kedatangan Tim Penilaian Eliminasi Malaria

Provinsi Gorontalo Kedatangan Tim Penilaian Eliminasi Malaria

10/06/2021 13:49 0 By Syakir

Hulondalo.id – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melaksanakan Penilaian Eliminasi Malaria di Provinsi Gorontalo. Tim diterima oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Drs. Janni S. Kiai Demak, M.Ec. Dev., diruang kerjanya, Selasa (08/06/2021).

Tim dari Kemenkes terdiri dari dr. Ferdinand J. Laihat, MPHM (Ketua Komite Penilaian Eliminasi Malaria), Drs. Winarno, M.Sc (Ketua Team Working Group Malaria & Komisi Ahli Vektor) dan Nurasni, S.KM (Crossceker Substansi Malaria) akan melakukan penilaian di Kabupaten Bone Bolango.

Di Kabupaten Bone Bolango sendiri, rombongan diterima langsung Bupati Hamim Pou di rumah pribadinya, Rabu (09/06/2021). Pada kesempatan itu Hamim menyampaikan bahwa di Bone Bolango belum ditemukan kasus Malaria sejak 3 (tiga) tahun terakhir.

“Pada tahun 2018 itupun pendatang dari daerah lain setelah itu nol malaria di Bone Bolango. Insya Allah declare sebagai Kabupaten bebas/Eliminasi Malaria dan kita ingin jadikan declare dari malaria ini sebagai bagian dari komitmen membangun kesehatan secara keseluruhan dimana pembangunan kesehatan tidak hanya melibatkan Dinas Kesehatan atau Puskesmas tetapi bagian dari komitmen pemerintah dan masyarakat”, ungkap Hamim.

Selain itu, pemerintah daerah juga telah membuat peraturan Bupati tentang hal ini dan optimis bisa mempertahankan Eliminasi Malaria dan berkomitmen untuk melakukan upaya promotif dan preventif.

“Kami juga meminta kepala desa dan aparatnya agar peduli betul jika menemukan gejala ada laporan untuk mencegah agar tidak menjadi kejadian luar biasa”.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dr. Yana Yanti Suleman, SH., ditempat yang sama menjelaskan komitmen pemerintah Provinsi Gorontalo untuk melakukan eleminasi malaria dengan mengikuti upaya-upaya memenuhi indikator yang ada.

Menurut dr. Yana ketika daerah tersebut sudah dinyatakan Eliminasi Malaria bukan berarti tidak ada malaria begitu juga program malaria. Kita ketahui, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan masih ada kasus yaitu import dan kedua Vektor sehingga perlu dilakukan Pengendalian.

“Maka itu saya sampaikan lebih berat mempertahankan dari pada meraih Eliminasi Malaria. Semoga dengan Eliminasi Malaria bertahap di Provinsi Gorontalo bisa mempercepat pencapaian Eliminasi Malaria di tahun 2030 untuk Indonesia”, ungkap dr. Yana.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam mempertahankan Eliminasi Malaria kata Kadinkes, dengan hidup bersih dan sehat dengan membersihkan tempat perindukan nyamuk, melakukan upaya pemeriksaan dan menemukan kasus, imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penilai Eliminasi Malaria Kemenkes RI, dr. Ferdinand J. Laihat, MPHM., menjelaskan tahapan penilaian dimulai dari tingkat Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas hingga ke desa dalam hal kesiapan data dan rencana tindak lanjut sesuai dengan penilaian secara virtual meeting.

“Setelah kita yakin sesudah penilaian virtual ok, kami turun untuk melakukan validasi”, kata dr. Ferdinand.

Tim penilai juga berharap Provinsi Gorontalo tahun 2021 sudah selesai dalam penilaian Eliminasi.

“Kalau memungkinkan, tahun 2024 mestinya Provinsi Gorontalo sudah harus mendapat sertifikat Eliminasi Malaria secara keseluruhan, karena tahun 2025 itu akan dinilai oleh WHO nantinya untuk seluruh region”, kata dr. Ferdinand.

Di akhir sesi kunjungan di Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango, Kadinkes dr. Meyrin Kadir menjelaskan dari indikator yang ada, Bone Bolango sudah memenuhi.

“Saya sangat optimis, mudah-mudahan Bone Bolango akan tereliminasi malaria”, ungkap dr. Meyrin.

dr. Meyrin juga mengatakan, kerja sama dengan lintas sektor diantaranya dari Dinas pariwisata telah memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan Eliminasi.

“Masyarakat yang masuk ke Bone Bolango dari luar harus diskrining untuk malaria baik pariwisata ataupun penambang yang datang yang dituangkan dalam peraturan Bupati dan peraturan Desa”, pungkasnya.

Pelaksanaan penilaian Eliminasi Malaria ini berlangsung mulai tanggal 08 – 11 Juni 2021 l, adapun penilaian dimulai dari Dinas Kesehatan Kabupaten, RSUD Toto Kabila, Puskesmas Dumbayabulan hingga ke desa dan lokasi pariwisata. (Inkri/Adv)