Pupuk Bersubsidi di Gorontalo Ternyata Tidak Langka, Ini Penyebabnya

Pupuk Bersubsidi di Gorontalo Ternyata Tidak Langka, Ini Penyebabnya

09/03/2021 19:01 0 By HulondaloID

Pupuk Bersubsidi

Salah satu kios pupuk di jalan trans Sulawesi Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo. (f. dok Alex)

Hulondalo.id – Selain persoalan kenaikan harga, petani di Gorontalo turut mengeluhkan kondisi ketersediaan pupuk bersubsidi di Gorontalo yang cenderung langka.
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo, Risjon K Sunge menyebut, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Gorontalo sepanjang Tahun 2020 hanya mencapai 74%.
Lambatnya distribusi pupuk bersubsidi ternyata disebabkan oleh sejumlah pengecer yang mengalami kesulitan keuangan.
“Jadi pupuk tidak langka di Gorontalo karena realisasi penyaluran Tahun 2020 hanya 74%, sisanya 26% tidak tersalurkan. Setelah kita telusuri, ternyata ada pengecer yang tidak mampu lagi menebus di tingkat distributor,” ucap Risjon saat rapat bersama Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, Selasa (9/3/2021).
Olehnya pada kesempatan itu, Risjon mengusulkan agar penyaluran pupuk bersubsidi dapat melibatkan koperasi sebagai pengecer.
Dia menyebut, saat ini ada 900 dari 1.337 koperasi di Gorontalo yang masih aktif dan layak didorong menjadi pengecer pupuk bersubsidi sesuai dengan jenis usahanya. Bahkan, sebagian koperasi sudah mengajukan diri dan siap menjadi penyalur pupuk bersubsidi.
“Ada koperasi tani dan nelayan, mereka nanti yang akan menebus dari distributor untuk disalurkan lagi ke petani. Sebagian besar anggotanya juga adalah penerima pupuk bersubsidi, jadi ini akan memudahkan petani untuk bisa membeli di koperasi,” bilang Risjon.
Usulan tersebut diterima Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan diminta untuk dikaji. Bahkan, Rusli mengusulkan agar koperasi dapat dibantu melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) atau bantuan dari Badan Amil Zakat (Baznas) Provinsi Gorontalo.
“Atau boleh juga di sentra sentra produksi padi (pengecernya) kita subsidi dari Baznas. Jadi contohnya di Tilongkabila, penyalur pupuknya yang sudah mati suri itu kita didik kita pinjamkan modal. Mungkin 50-100 juta. Tolong diinventarisir, dikaji dan kita bantu carikan solusinya,” pinta Rusli.(adv/alex)