Rektor: 58 Tahun UNG, Api Pengetahuan Bagi Kemanusiaan

Rektor: 58 Tahun UNG, Api Pengetahuan Bagi Kemanusiaan

01/10/2021 19:55 0 By Maman

Rektor Eduart Puncak Dies Natalis UNG 2021

Rektor UNG, DR. Ir. Eduart Wolok, ST, MT memberikan sambutan pada Dies Natalis UNG ke 58. (foto:hms)

Hulondalo.idUniversitas Negeri Gorontalo telah menginjak usia ke 58 tahun. Lembaga ini telah menjalani sejarah yang panjang, unik, experiensial, sejak berdiri tahun 1963 hingga saat ini, dan telah mengalami transformasi sebanyak delapan kali.

“Setiap tahunnya, pelaksanaan Dies UNG selalu saja menyiratkan pesan-pesan moril untuk dikhidmati bersama. Tahun ini, kita harus mencapai sesuatu yang lebih spesifik. Tahun ini waktunya untuk menyalakan api pengetahuan untuk kemanusiaan”, ungkap Rektor UNG Dr. Eduart Wolok, ST., MT., pada puncak Dies Natalis UNG ke 58.

Menurutnya, saat ini pengetahuan seharusnya berkontribusi untuk kesejahteraan bersama. Pada banyak kasus, justru terpinggirkan dari dunia riil di tangan para akademia menara gading.

“Kita mesti turun dan melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi bersama ini lebih dekat. Kita tidak boleh menutup diri untuk berjejaring. Itu sebabnya, api pengetahuan untuk kemanusiaan menjadi tema besar dalam pelaksanaan dies kali ini, berikut komitmen UNG di usia ke-58 tahun ini untuk turut berkontribusi dalam memajukan harkat dan martabat manusia”.

Zaman terus bergerak dan menuntut kita juga untuk tetap menjaga kewarasan. Era ini disebut sebagai Annus Horriblissimus, atau tahun yang mengerikan. Dimana VUCA atau Volatility (volatilitas), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas), menjadi semacam gejala akut yang mendiaminya.

“VUCA merepresentasikan zaman yang sedang mengalami peluruhan karena volatilitas, ketidakpastian, klompleksitas, dan ambiguitas. VUCA meniscayakan perubahan radikal dalam sistem pengetahuan yang tidak bisa lagi dipandang terkotak-kotak, melainkan saling bergantung dengan berbagai elemen lainnya,” ujar Rektor.

Rektor menegaskan agar secepatnya proyek pengetahuan harus direkonseptualisasi kembali, untuk menyelesaikan hal-hal dasar di lingkaran internal atau eksternal universitas. Sebab setiap problem, ternyata, tidak pernah berdiri sendiri, itu sebabnya dibutuhkan kerjasama untuk menghadapinya. (Inkri)