Selalu Ada Jalan Bagi yang Berusaha

Selalu Ada Jalan Bagi yang Berusaha

18/05/2020 11:50 0 By Maman

Indra Nodu.

WALAU bagaimanapun, saya pernah melewati masa sebagai aktivis mahasiswa. Olehnya, sebagai bentuk rasa sayang saya kepada adik-adik, maka setidaknya memberikan pandangan dan solusi terkait protes oknum-oknum aktivis mahasiswa, terkait pergeseran anggaran beasiswa, untuk penanganan Covid-19 dan mengatakan kecewa dengan Gubernur Gorontalo.

Pergeseran Anggaran Beasiswa Dan Anggaran Lainnya

Protes yang dilayangkan ini disebabkan adanya pergeseran anggaran beasiswa, yang dinilai oleh oknum-oknum aktivis mahasiwa sangat tidak tepat, karena itu tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), melalui pemberian beasiswa kepada anak bangsa yang layak dibantu, dan alangkah baiknya menggeser anggaran lainnya.

Berdasarkan hal yang diprotes tersebut, sayapun menghubungi beberapa orang yang saya yakini dapat mencerahkan saya, dalam hal ketidak tahuan mengenai anggaran lainnya tersebut. Dan ternyata memang, semua anggaran yang bisa digeser tinggallah anggaran beasiswa. Karena anggaran lainnya sudah digeser untuk penanganan Covid-19 di Gorontalo. Bahkan Anggaran Rumah Tangga DPRD, Anggaran Pribadi Anggota DPRD sudah digeser habis-habisan demi keselamatan daerah.

Beasiswa Dan Gaji PNS Provinsi

Hasil keringat PNS atau Gaji PNS pada dasarnya sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan lainnya. Akan tetapi, mereka justru bersedia menyisihkan 2.5% dari gajinya untuk penanganan Covid-19. Hal ini membuat saya berpikir tentang satu hal, hutang.

Tidak jarang ada yang begitu terima gaji harus membayar hutang sehingga gaji itu tidak lagi utuh dan hanya tersisa sedikit untuk digunakan memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan, ada yang tidak cukup dan harus mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Disisa gaji mereka itu justru disumbangkan lagi ke penanganan Covid-19? Sungguh mulia saya pikir para PNS ini.

Tidak jarang kita temui aksi-aksi mahasiswa dalam memperjuangkan rakyat, para aktivis (begitu juga saya diwaktu mahasiswa) meneriakkan, “Jangankan darah, nyawapun sanggup kita korbankan demi rakyat Gorontalo”. Hal ini justru akan terdengar bullshit untuk kembali didengar dari mulut oknum-onum aktivis mahasiswa yang tidak mau beasiswa digeser untuk menangani Covid-19. Jangankan nyawa, beasiswa saja tidak diiyakan untuk penanganan Covid-19 yang sangat jelas diperuntukkan kepada kepentingan umum.

Mahasiswa Kebanggaan Orang Tua

Protes pergeseran anggaran beasiswa provinsi oleh oknum-oknum aktivis mahasiswa telah ditanggapi oleh Kepala Dikbudpora Provinsi Gorontalo. Bahwa tidak ada pemangkasan anggaran, melainkan berdasarkan anggaran daerah yang ada kuota penerima beasiswa kali ini sebanyak 1.000 orang.

Saya berpikir bahwa, begitu terjaganya nama mahasiswa apabila mengikhlaskan anggaran beasiswa provinsi yang katanya dipangkas itu, digunakan untuk kepentingan umum yang sangat mendesak ini. Namun menjadi tidak tepat apabila memprotes pergeseran anggaran beasiswa, yang jelas peruntukkannya demi kepentingan umum.

Ini justru memalukan. Langkah yang seharusnya adalah mengawal/memastikan bahwa anggaran beasiswa yang telah digeser tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan umum.

Harapan besar saya yakni mahasiswa bisa lebih kreatif, membuka pikiran, mencari solusi, sehingga mahasiswa bisa lebih mandiri tanpa bergantung pada pemerintah, yang saat ini fokus menangani Covid-19 dengan daya upaya yang ada.

Penyedia beasiswa tidak hanya pemprov, akan tetapi juga kampus-kampus. Setiap kampus tentu telah menyediakan beasiswa untuk yang berhak menerima, saya pikir inilah salah satu solusi bagi mahasiswa yang butuh bantuan tersebut.

Alternatif lainnya, pada dasarnya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) digunakan untuk biaya operasional kampus. Nah, ditengah menghadapi bencana non alam ini, pihak kampus telah mengalihkan perkuliahan ke metode dalam jaringan (Daring), maka secara tidak langsung biaya operasional kampus pun berkurang.

Maka sangat masuk akal apabila mahasiswa meminta keringanan biaya (Subsidi SPP), selayaknya kampus Universitas Nusa Cendana (Udana) yang memberikan Subsidi SPP kepada mahasiswanya.

Saya bersyukur apabila saat ini masih ada mahasiwa yang dapat mengatur keuangannya. Sewaktu saya mahasiswa, tidak ada jaminan biaya hidup dirantau dan uang SPP dari orang tua. Tentu hal itu yang membuat saya mencari alternatif agar tetap hidup dan melanjutkan pendidikan.

Upaya alternatif yang saya lakukan untuk biaya per 6 (enam) bulan sekali itu bukan meminta beasiswa, akan tetapi menabung perlahan sebagai antisipasi apabila tidak ada uang SPP dari orang tua. Dan saya pastikan bahwa hanya sekali, itu pun dalam keadaan sangat terpaksa harus meminta bantuan kepada Yayasan, yakni pada akhir studi saat tidak lagi punya uang untuk biaya kursus yang diwajibkan sebelum wisuda.

Saya bangga semasa kuliah pernah menjadi aktivis mahasiswa seperti kalian, walaupun beda dalam menangani masalah peribadi. (**)

Penulis : Indra Nodu

 

Disclaimer:  Seluruh isi dalam tulisan di kolom opini, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis..