Selangkah Lagi, Kyai Bonto Pusaka Diakui Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Selangkah Lagi, Kyai Bonto Pusaka Diakui Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

26/11/2020 20:44 0 By Maman

Pusaka Blitar

Kabid Kebudayaan Disparbudpora Kabupaten Blitar Drs. Hartono MM.

Hulondalo.id – Meski belum setenar Gong Kyai Pradah, namun dua pusaka masing-masing, Gong Pradah dan tiga wayang kayu Kyai Bonto, dipercaya masyarakat sebagai peninggalan Kerajaan Mataram, milik Pangeran Prabu atau Sunan Prabu Amangkurat III atau Raden Mas Sutikna.

Kepercayaan ini nampak pada digelarnya ritual siraman Kyai Bonto, tradisi yang berhasil dipertahankan masyarakat Desa Kebonsari kecamatan Kademangan, sejak abad 18 silam. Ritual ini beriringan dengan ritual siraman Bende/Gong Kyai Pradah pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagai penghormatan kepada Pangeran Prabu, yang telah menyiarkan agama Islam di wilayah hutan perdikan Lodoyo.

Walaupun tempatnya berbeda, Gong Kyai Pradah di Bekas Rumah Pangeran Prabu, disebelah barat Alun-alun Kecamatan Sutojayan (Lodoyo), sedangkan pusaka Kyai Bonto di Desa Kebonsari Kademangan, keduanya masih di wilayah Kabupaten Blitar.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Kabupaten Blitar, Hartono mengatakan, selangkah lagi Kyai Bonto mendapat pengakuan sebagai warisan budaya tak benda Kabupaten Blitar. Sebelumnya kata dia, larung sesaji, siraman gong Kyai Pradah, dan Jaranan Bulkio telah mendapatkan pengakuan sebagai warisan budaya tak benda.

“Insya Allah, jaranan trill dan siraman Kyai Bonto, segera menyusul, semua persyaratan dan tahapan sudah kami jalani, sudah sepantasnya kita memperjuangan dan nguri-nguri warisan budaya leluhur, agar generasi kedepan mengetahui akan sejarah pendahulunya melalui warisan budaya yang tetap lestari,” ungkap Hartono di ruang kerjanya Kamis, (26/11/2020).

Menurut Hartono, asal mula ritual berawal dari sebuah kisah menjelang akhir abad 17 di Kerajaan Kartasura, ketika terjadi perebutan kekuasaan antara Trah Amangkurat dan Pakubuwono. Singkat cerita kata dia, ketika Sunan Pakubuwoo I dinobatkan menjadi raja di Kartasura, maka Amangkurat tersingkir dan melarikan diri ke wilayah timur pulau jawa, hingga sampailah di Dusun Pakel.

Ditempat inilah kata Hartono, Sunan Prabu (Amangkurat) meninggalkan seperangkat wayang, yang disebut sebagai Kyai Bonto yang kemudian menjadi cikal bakal Desa Kebonsari.

Dia berharap, tradisi ini bisa terus terjaga keberlangsungannya dan tetap dilestarikan. Sehingga, tak hanya jadi upacara adat saja, tetapi juga bisa menjadi daya tarik wisata budaya.

“Dan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar,” pungkasnya. (Anang/Kmf/Adv)