Seni Jaranan Kabupaten Blitar, Berupaya Eksis Ditengah Arus Modernisasi & Globalisasi

Seni Jaranan Kabupaten Blitar, Berupaya Eksis Ditengah Arus Modernisasi & Globalisasi

27/11/2020 22:51 0 By Maman

Barongan

Usaha melestarikan warisan budaya yang memiliki nilai jual tinggi. (foto:istimewa)

Hulondalo.id – Seni jaranan di Kabupaten Blitar, terus berupaya eksis ditengah arus modernisasi dan globalisasi. Kesenian tradisional yang didalamnya terdapat bujang ganong, celengan, kuda lumping dan barongan ini, memiliki khas tersendiri.

Saat ini, jumlah pengrajin Barongan, bisa dihitung dengan jari. Namun, persaingan dalam penjualan karya seni barongan, cukup ketat. Agar bisa terus bertahan dalam berproduksi, perajin dituntut utuk lebih kreatif dalam menciptakan karya seni barongan.

Budi Landak, warga Kelurahan Tawangsari kecamatan Garum Kabupaten Blitar, diantara perajin barongan yang karya-karyanya tergolong unik dan nyleneh. Budi sengaja membuat barongannya berbeda.

“Selama ini, barongan yang ada modelnya itu-itu saja, terkesan biasa dan membosankan, saya ingin membuat barongan yang berbeda,” kata Setyo Budi nama lengkapnya Kamis, (26/11/2020).

Bahkan kata Budi, keunikan dari barongan yang diproduksinya, jangan heran jika harganya bisa hingga puluhan juta rupiah, dan tembus di manca negara. Budi juga, beberapa kali pernah pentas kesenian tradisonal diberbagai negara mewakili Indonesia.

“Kualitas kayu ikut menentukan, seperti, kayu klampis, ide dan cara pembuatannya cukup rumit, bahkan membutuhkan tirakat khusus atau berpuasa untuk pesanan khusus,” ungkapnya.

Layaknya seorang Empu, dalam membuat keris pusaka. Proses inil yang membuat harga barongannya berbeda. Selain menerima pesanan khusus, juga menerima pesanan barongan biasa dengan harga standar.

“Barongan paling murah berharga Rp 1,5 juta, dan paling mahal pernah dihargai Rp 65 juta mas, karena prosesnya juga lama dan membutuhkan detail barongan yang saya buat,” tutup Budi.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disparbudpora Kabupatan Blitar Agus M Setiawan SS menjelaskan bahwa, kata barongan berasal dari bahasa Jawa yang secara harfiah artinya, hutan bambu.

Disebut barongan karena, topeng yang digunakan pemain sangat besar, nampak seperti hutan bambu berjalan, ditambah permainannya yang sarat unsur mistik, dipercaya masyarakat mampu menjadi pagar sehingga dapat menolak marabahaya yang ditimbulkan letusan Gunung Kelud.

Biasanya, barongan menjadi pertunjukan dengan tari-tarian pembuka atau di tengah tarian. Bagi masyarakat Blitar, Kediri, Tulungagung dan sekitarnya, sudah lazim dikenal bahwa, selain berfungsi sebagai tarian pertunjukan, Barongan juga media spiritual guna memohon kepada TuhanYME agar terkabul segala hajat dan keinginan seperti menolak marabahaya. (Anang/Kmf/Adv)