Setelah Puluhan Tahun Menanti, Wanita Belanda Ini Kenang Masa Kecilnya di Gorontalo

Setelah Puluhan Tahun Menanti, Wanita Belanda Ini Kenang Masa Kecilnya di Gorontalo

15/01/2020 00:05 0 By Alex
wanita belanda

Anne Stevelink (paling kanan) dan Melissa (paling kiri) bersama tour guide dan para wartawan saat diberikan kesempatan mewawancarai seputar kenangan wanita belanda ini yang lahir di Gorontalo pada masa penjajahan Belanda Tahun 1932.

Hulondalo.id – Senyum merona tak bisa disembunyikan Annie Stevelink (87) saat datang di Gorontalo, Selasa (14/1/2020). Begitu tiba, perempuan asal Belanda ini tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu untuk berkeliling Gorontalo.

Bagaimana tidak, Annie ingin sekali mengenang tempat kelahirannya. Ya, Annie Stevelink lahir di Gorontalo dimana ketika saat itu Gorontalo masih menjadi Afdeling atau distrik di bawah Keresidenan Manado oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Bahkan, Annie lahir di Gorontalo bersama dua orang kakaknya yang asli Belanda. Namun kini mereka sudah meninggal dunia.

Berbekal album tua yang berisi puluhan foto dari peninggalan orangtuanya, Annie yang didampingi anaknya, Melissa (52), wara-wiri di Gorontalo. Mulai dari Jembatan Talumolo, Kantor Pos Gorontalo, rumah Asisten Residen yang kini menjadi Rumah Dinas Gubernur Gorontalo dan beberapa tempat lainnya.

Banjir di Kota Gorontalo, kompleks lapangan Taruna Remaja. Ternyata sejak zaman Belanda, Gorontalo keseringan banjir ya?

Lapangan tenis di kompleks lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo.

Wartawan Hulondalo.id pun beruntung diberikan kesempatan Annie dan Melissa untuk diwawancarai di Domestique Cafe N Resto.

“Iya, saya lahir di Gorontalo,” begitu kira-kira kata Annie dengan dialek Belanda yang diterjemahkan oleh Melissa dalam bahasa Inggris.

Tak ingin wartawan ragu, Annie pun memperlihatkan paspornya yang tertera namanya sekaligus tempat lahirnya yang tertulis jelas: Gorontalo, 19 Juli 1934.

Annie pun bercerita, sejatinya dia lahir di rumah sakit milik Pemerintah Hindia Belanda di Gorontalo yang lokasinnya saat ini berdiri Hotel Grand Q Gorontalo.

Saat itu, ayahnya, Beb Stevelink, bekerja di Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) atau National Shippingof Pacheges Company, atau Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda di Gorontalo waktu itu.

Kenang-kenangan Beb Stevelink sang ayah saat bertugas di Gorontalo.

Sedangkan ibunya, berprofesi sebagai seorang perawat di rumah sakit Belanda di daerah ini. Kedua orangtuanya bertemu dan menikah saat sama-sama tugas di Medan, Sumatera Utara, sebelum akhirnya bertugas di Gorontalo.

Annie juga mengaku, dia tumbuh dan bermain-main di Gorontalo sampai berusia 2 Tahun. Kemudian Annie kecil pindah ke Tanjung Priok Batavia, atau sekarang Jakarta, mengikuti kedua orangtua.

Foto salah satu masjid tua di jalan Eks Andalas Kota Gorontalo.

Saat kembali ke Negeri Belanda, Annie bersama saudaranya kerap diceritakan oleh ayahnya bagaimana pengalaman keluarga semasa mereka hidup di Hindia Belanda atau Indonesia.

Bahkan, Annie mendapatkan “warisan” dari ayahnya, yakni sebuah album foto kenang-kenangan saat masih bertugas di Bumi Serambi Madinah ini.

Dari situlah, Annie punya cita-cita ingin ke Gorontalo sekedar untuk mengenang masa kecilnya.

Namun asa Annie muda untuk bernostalgia kerap ditentang oleh orantuanya, mungkin mengingat kondisi Indonesia pasca Kemerdekaan.

Jembatan Talumolo Kota Gorontalo jepretan keluarga Stevelink.

Saat melihat jembatan Talumolo dari sudut yang sama pada foto album.

Setelah berpuluh-puluh tahun kemudian, cita-cita Annie pun baru terwujud hari ini. Annie bersama Melissa tiba di Gorontalo pukul 14.00 Wita via pesawat Lion Air.

Rasa lelah dan pegal-pegal saat perjalanan pun terbayar lunas saat Annie melihat rumah-rumah tua peninggalan Belanda yang berada di Kota Gorontalo. Didampingi tour guide Agus Kamba, Annie dan Melissa pun berkeliling Kota Gorontalo.

Kantor Pos Gorontalo sekitar Tahun 1932

Rumah tua yang saat ini berdiri di samping kantor Pos Gorontalo atau depan Rumah Dinas Walikota Gorontalo.

Annie dan Melissa saat melihat rumah tua tersebut. Persis dengan gambar, katanya.

Dengan begitu yakin, dan bermodal album foto peninggalan ayahnya, Annie mengaku dapat mengingat kembali masa kecilnya di Gorontalo, meski hanya tinggal sampai umur 2 Tahun.

“Saya sangat kagum dan senang saat melihat langsung rumah-rumah tua ini yang masih ada di Gorontalo,” tutur Annie sambil tersenyum merona.

“Mirip dengan yang ada di foto album,” katanya.

Saat ini, Annie bersama Melissa menginap di Hotel Grand Q Gorontalo. Besok, mereka berdua akan melanjutkan perjalanannya menuju Kotamobagu, Tomohon dan Kota Manado, Sulawesi Utara, yang merupakan bekas Keresidenan Manado.(Rinto)