Setiap Tahun, Prevelansi Penyakit Tidak Menular di Gorontalo Meningkat

Setiap Tahun, Prevelansi Penyakit Tidak Menular di Gorontalo Meningkat

29/06/2021 13:10 0 By Maman

Orientasi AoC PTM Dikes Prov Gorontalo

Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menggelar Orientasi Agent of Change Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. (foto:inkri)

Hulondalo.id – Prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) di Provinsi Gorontalo, dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan yang sangat tajam. Jika ditahun 1990 39,81%, ditahun 2017 menjadi 69,91%.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dr. Yana Yanti Suleman mengatakan, meningkatnya kasus PTM antara lain karena, adanya transisi epidemiologi, transisi demografi, transisi gizi, transisi perilaku dimana terdapat peningkatan  perilaku kurang bergerak (malas gerak/mager), konsumsi rendah serat,  dan tinggi konsumsi gula, garam dan lemak (GGL), merokok, alkohol, dan stres.

“PTM merupakan penyakit yang tidak ditularkan, berhubungan dengan gaya hidup (life style) yang tidak sehat, sering tanpa gejala, menurunkan produktifitas, membutuhkan biaya pengobatan mahal dan dalam waktu panjang,” kata dr. Yana.

PTM kata dia juga, termasuk dalam 3 penyebab kematian tertinggi di Indonesia setelah Stroke (21,1%), gagal jantung (12,9%), diabetes melitus (6,9%). Hasil Survei Kesehatan Dasar Kemenkes RI mengungkap, 3 dari 10 penderita PTM dapat terdeteksi.

Selebihnya, tidak mengetahui bahwa dirinya sakit karena PTM. Tidak ada gejala dan tanda sampai terjadi komplikasi. Dari 3 penderita PTM tersebut, hanya 1 orang yang berobat teratur.

Saat ini PTM menempati urutan 1, 2, 3 dan 5 dari 10 penyakit yang menimbulkan kematian di Indonesia. Pada tahun 2018, PTM menghabiskan 21,6% Biaya BPJS Kesehatan.

Olehnya kata dr. Yana, dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap faktor risiko PTM, diperlukan agen perubahan di masyarakat untuk memberikan informasi, edukasi dan menjadi tempat bertanya masyarakat, tentang penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, hypertensi, kanker dan hyper kolesterol.

“Agent of Change (AoC) atau Agen Perubahan di masyarakat, akan dibekali dengan pengetahuan tentang penyakit tidak menular,” ungkapnya.

Tenaga AoC ini diharapkan dapat menurunkan angka penderita PTM.

“Ini merupakan penyakit katastropik yang biaya pengobatannya sangat mahal, dan membutuhkan pengobatan yang panjang bahkan seumur hidup,” kata dr. Yana.

Tahun 2016 kata dia, beban biaya yang ditanggung untuk pengobatan penyakit tidak menular, seperti jantung, kanker, stroke, gagal ginjal itu mencapai Rp 10 triliun. dr. Yana juga menambahkan, transisi teknologi yang menyumbang PTM adalah gadget.

“Karena mudahnya membuat kita malas bergerak, tren PTM ada diusia 10, 14 tahun naik terus ke usia produktif,” ujarnya. (Inkri/Adv)