“Sudut Gelap Gerakan Mahasiswa”

“Sudut Gelap Gerakan Mahasiswa”

19/05/2020 09:07 0 By admin

Oleh: Noval Alfian Sahputra Karim

Tuan-tuan mahasiswa, ijinkan kembali saya untuk menulis kedua kalinya setelah tulisan pertama dengan judul “Regenerasi Gerakan Yang Buruk” membuat kita sadar bahwa memang benar gerakan twibbon adalah gerakan yang maaf “jorok”.

Dalam waktu tidak lebih dari dua puluh empat jam, ada satu pertanyaan yang selalu menghantui pikiran dan nurani saya, apakah tuan-tuan berkeinginan untuk mengganti istilah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) menjadi “Beasiswa Eksekutif Mahasiswa” ?

Dalam suasana ramadhan yang mulia ini, pertanyaan itu melempem dengan tuntutan saya sebagai umat muslim untuk selalu berpikir positif, tentu tidak mungkin tuan-tuan ingin mengganti istilah itu.

Tuan-tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk diketahui tentang teori Welfare State (negara kemakmuran) yang mendukung hadirnya negara dengan dasar kepentingan bersama yang menjamin kemakmuran negeri, menjamin kehidupan dan kemajuan rakyatnya, serta menjamin kesehatannya.

Pada masa covid-19 di Provinsi Gorontalo, implementasi dari konseptualisasi Welfare State diatas, mengganggu nurani tuan-tuan yang terhormat ? Dimana letak kesalahan pemerintah (baca: negara) yang menggeser anggaran beasiswa untuk kepentingan rakyat Gorontalo?

Dimana celah khilaf pemerintah yang ingin menjamin kelangsungan hidup rakyat miskin dan menjamin kesehatan rakyatnya ?

Saya merasa pertanyaan-pertanyaan diatas tidak penting bagi tuan-tuan yang terus menonjolkan maaf “kekonyolan” sampai dengan memaksa ingin berdebat dengan Gubernur, DPRD, hingga Kepala Dinas.

Tuan-tuan yang mulia, kekuatan utama mahasiswa itu adalah penalaran, sehingganya otak lebih dibutuhkan sebelum memasang twibbon dibanding dengkul dan banyaknya air liur yang menumpuk dalam mulut percakapan non-faedah, beasiswa ditengah pandemi.

Maaf, saya tertawa menulis kalimat ini…hehehe

Tuan-tuan pasti tidak ingin dijuluki sebagai “Pejuang Sarjana Bantuan Beasiswa (PSBB)”. Maka dari itu jangan geser aktivisme gerakan mahasiswa kepada soal maaf “recehan”.

Apakah tuan-tuan mahasiswa pernah belajar saat Soekarno pernah mengeluarkan kebijakan larangan “text book thinking” karena mahasiswa dianggap kebanyakan menghafal sehingga menjadi “sarjana diktat” yang tidak kreatif ?

Atau tuan-tuan menganggap bahwa memperjuangkan beasiswa ditengah pandemi merupakan bentuk kreatifitas?

Kembalikan aktivisme gerakan mahasiswa kembali pada dasar penalaran yang lebih mengutamakan kontribusi positif terhadap rakyat dan negara, bukan soal isi perut tuan-tuan, sehingga kekuatan utama gerakan berdiri diatas nilai sosial dan kemanusian yang tinggi mengalahkan kepentingan pribadi dan kelompok, pahamkah tuan-tuan yang mulia?

Secara sederhana saya menyimpulkan: pertama, gerakan beasiswa tuan-tuan berpotensi melahirkan traumatik terhadap proses regenerasi setelah tuan-tuan, makanya saya katakan ini benar-benar episode buruk dari sebuah gerakan mahasiswa, karena tuan-tuan akan dikenang sebagai pahlawan dengan tanda jasa beasiswa.

Kedua, dunia kampus sebagai dunia penalaran sebagaimana filosofi Koesnadi Hadrjasoemantri telah tuan-tuan belokkan pada aktivitas penalaran isi beasiswa. Jauh dari perjuangan sosial dan cita-cita masyarakat sosial.

Ketiga, tuan-tuan memaksakan sebuah konversi gerakan beasiswa kedalam gerakan sosial yang sama sekali ditentang publik. Publik terlanjur percaya tuan-tuan hanya mementingkan beasiswa ditengah upaya negara (baca: pemerintah) melindungi dan menjaga rakyatnya dari wabah dan dampak covid-19.

Diakhir tulisan ini, saya mencoba menahan tawa, bahwa ini bagian dari paralel episode maaf “konyol”. (**)