Tolak Bala, Dewan Adat Gorontalo Gelar Du’a Mopotonunga Lipu

Tolak Bala, Dewan Adat Gorontalo Gelar Du’a Mopotonunga Lipu

21/08/2020 09:59 0 By Alex

Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim mengikuti prosesi Du’a Mopotonunga Lipu yang digelar oleh Dewan Adat Gorontalo di aula rumah jabatan, Kamis (20/8/2020). (F. Haris/Humas)

Hulondalo.id – Dewan Adat Gorontalo menggelar Du’a Mopotonunga Lipu atau doa untuk menenangkan negeri dari bala bencana yang berlangsung di aula rumah jabatan Wakil Gubernur Gorontalo, Kamis (20/8/2020).

Prosesi doa yang dilaksanakan sejak siang hingga malam hari tersebut dihadiri oleh para tokoh agama dan tokoh adat kabupaten/kota se Provinsi Gorontalo.

Wakil Gubernur Idris Rahim menyampaikan, doa merupakan salah satu bentuk ibadah untuk mengharapkan pertolongan dari Allah SWT.

Segala bentuk usaha yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani bencana yang menimpa bangsa dan daerah, kata Idris, harus didukung dengan doa yang tulus dan ikhlas dari seluruh elemen masyarakat guna mengharapkan pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

“Pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk menangani pandemi Covid-19 maupun bencana banjir yang melanda Gorontalo. Tetapi itu belumlah cukup, kita harus memperbanyak berdoa memohon pertolongan Allah SWT agar daerah kita terhindar dari segala bentuk bala bencana,” kata Idris.

Dia berharap, pelaksanaan Du’a Mopotonunga Lipu yang dilaksanakan bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharam 1442 Hijriah akan diijabah oleh Allah SWT.

Olehnya, pada momentum tahun baru Islam ini Wakil Gubernur Idris Rahim mengajak seluruh umat Islam di Gorontalo untuk lebih meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT sebagai syarat diterima dan dikabulkannya doa.

“Insya Allah dengan ketaatan dan ketakwaan kita, doa untuk menenangkan negeri dari bala bencana ini diijabah oleh Allah SWT,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Dewan Adat Gorontalo, Karim Pateda menjelaskan, prosesi Du’a Mopotonunga Lipu dilaksanakan dengan ritual adat Gorontalo.

Mulai dari penggunaan sarana adat berupa Ngango lo Huwayo, turunani, dan barjanji. Nuansa adat juga nampak dari makanan yang disajikan, di antaranya menu uyilahe atau kuah asam yang diberi ikan gabus dan pisang, serta bajo’e atau wajik.

“Pada salat magrib kita memanjatkan doa qunut dan setelah itu dilanjutkan dengan salat tolak bala dua rakaat, sesudah itu baru kita melaksanakan tahlilan. Doa kita kepada Allah dengan harapan daerah kita aman dari segala bentuk bencana,” katanya.(adv/alex)