Uang dan Suara si ‘Kutu Loncat

Uang dan Suara si ‘Kutu Loncat

22/06/2019 09:15 0 By admin

Gorontalo, 17 Juni 2019
Novalliansyah Abdussamad

 

** “Tak ada orang hidup berhenti cari uang”, petikan kalimat dari seorang senior ini menjadi pemantik saya menulis gejala akut dari awal permulaan keruntuhan mental dan harga diri, tak peduli salah dan hina, jika “suara” bisa mendapatkan uang.

Orang tak malu lagi saat menjadi pencuri asalkan dapat uang. Case study ini seolah memaksa saya untuk membenarkan ucapan diatas bahwa “Tak ada orang hidup berhenti mencari uang”.

Akhir-akhir ini penulis banyak menerima cerita bagaimana “suara” dengan mudah dikonversi menjadi uang. Misalkan, seseorang yang selalu mengkritisi program kebijakan pemerintah dengan cepat mendapatkan nominal rupiah, uang tunai, hadiah sepatu, jam tangan, tiket pesawat, hingga bingkisan lain dari luar negeri dengan harga fantastis.

Penulis tak bisa langsung percaya karena ini hanya sebatas carita orang sehingga kebenarannya belum teruji. Namun, saat bersamaan telpon seluler (HP) saya bergetar dan setelah dibuka ada pesan masuk di Grup WhatsApp, isinya tulisan pendek dan berita lama yang sengaja dikirim ke dalam grup, isinya jelas semacam “anti pemerintah” juga bisa dikatakan sebagai upaya mendiskreditkan kesuksesan pemerintah.

Rekam jejak dan Curriculum Vitae (CV) pengirim tulisan pendek dan berita “anti pemerintah” itu penulis tahu betul, baik dari cerita teman atau secara langsung melihatnya.

Mereka adalah orang-orang yang haus kekuasaan dan “sialnya” mereka tidak didukung oleh sumber daya finansial memadai secara pribadi, jika ada keinginan dan kepentingannya tidak terpenuhi, mereka akan melakukan “serangan” secara sporadis dan “membabi buta” terhadap pihak yang tidak memenuhi keinginan dan kepentingan mereka.

Sebaliknya, jika ada pihak yang mau mengakomodir keinginan dan kepentingan mereka, tanpa berpikir panjang kata “iya” spontan terucap dari mulut mereka, sesederhana itu.

Hanya bermodalkan “suara”, uang bisa mereka dapatkan. Hanya dengan laporan kepada “Tuan” bahwa mereka sudah “menyerang” lawan dan memuji “Tuan”, tetesan rupiah sudah membasahi dahaga mereka.

Dalam ilmu politik, case study ini dikenal sebagai patronase atau patron-klien. Ada pihak yang lebih tinggi kedudukannya memberi bantuan material dan ekonomi, sementara pihak yang lebih rendah kedudukannya akan memberikan jasa (Scott, 1972a), termasuk “suara” sebagaimana maksud penulis.

Dalam politik, uang tak pernah absen karena menjadi unsur utama dari patron, sementara itu “suara” menjadi unsur utama dari si klien. Dengan pengertian seperti ini, selama si patron memberikan imbalan baik tunai atau hadiah, selama itu pula si klien akan memberikan jasa “suara”nya.

Para pengkritik pemerintah ini (klien) tidak memperdulikan isi dan bobot “suara”nya, yang penting bagi si klien adalah si patron (Tuan) tahu mereka telah bersuara (kritik dan pujian). Sehingga keinginan mereka dapat terpenuhi (uang).

Bagaimana dengan posisi mereka didepan publik, penulis perlu menegaskan kembali bahwa posisi mereka didepan publik bukanlah tujuan mereka, karena uang dan materi lainnya adalah pendorong utama “suara” mereka.

Meski sudah banyak yang mencaci, bahkan menghina hidup mereka, selama uang dan materi lain masih mereka dapatkan dari patron (tuan), sekalipun mereka kerap dikatakan sebagai “kutu loncat” atau “barisan sakit hati” tak ada nilainya bagi mereka. (*)