Valentine Day Bukan Budaya Gorontalo, Rektor UNG: Budaya Kita “Totolianga”

Valentine Day Bukan Budaya Gorontalo, Rektor UNG: Budaya Kita “Totolianga”

14/02/2021 17:35 0 By Alex

Valentine Day Bukan Budaya

Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Dr Ir Eduart Wolok ST MT

Hulondalo.id – Valentine Day atau hari kasih sayang lazim diperingati setiap tanggal 14 Februari, tak terkecuali muda-mudi di Gorontalo.

Namun, Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Eduart Wolok menjelaskan, Valentine Day bukan merupakan budaya Gorontalo.  Apalagi jika Valentine Day itu dimanfaatkan untuk melanggengkan hal-hal negatif, seperti praktik seks bebas.

“Peringatan Hari Valentine dengan praktik yang negatif seperti seks bebas adalah budaya yang bertolak belakang dengan adat dan budaya Gorontalo yang dilandasi Islam,” tegas Eduart, Ahad (14/2/2021).

Budaya kasih sayang, menurut Eduart, sejatinya sudah diwariskan oleh leluhur Gorontalo yang biasa disebut “Totolianga” atau budaya saling sayang menyayangi sepanjang masa dan sepanjang hayat, serta yang paling penting adalah berdasarkan ajaran Islam.

Totolianga itu adalah kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur kita yang harus dijaga dan dirawat. Tidak ada kasih sayang yang hanya berlaku satu hari atau hanya diperingati sehari saja. Kasih sayang itu wajib dipraktikkan sepanjang hayat,” sambung dia.

Sementara fenomena hari ini, tambah Eduart, saling sayang menyayangi antar sesama, antar orang tua dan anak, antar teman, antar sejawat mulai luntur karena perubahan sosial yang sedang terjadi semakin individual.

Untuk itu, Eduart pun menghimbau kepada kaum muda, khususnya mahasiswa UNG untuk menjauhi praktik-praktik yang bisa menjerumuskan diri. Sebaliknya, kaum muda UNG diharapkan berfokus untuk menghadapi tantangan yang kini sedang melanda dunia, yaitu pandemi Covid-19.

“Untuk menghadapi tantangan tersebut dibutuhkan skill dan kompetensi yang inovatif, multi tasking, problem solver, kreatif, berpikir kritis, active learning dan berjiwa kepemimpinan,” bilang Eduart.

Dan melalui budaya Totolianga ini diharapkan bisa menjadi modal penting agar seluruh masyarakat Gorontalo bisa sama-sama secara kolaboratif bangkit dari dampak yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.(Mg01)